Friday, April 13, 2012

Sebening Embun

Banyak hal terjadi di setiap detik kehidupan kita. Kadang hanya lewat begitu saja, tak jarang membekas begitu dalam. Ingatan yang hanya terbatas pada hal-hal tertentu yang kecil. Seringkali tak kita sadari ke mana kita datang dan berlabuh. Bahkan sebelum kita mengangkat sauh.

Hal-hal yang membekas kadang meninggalkan guratan tajam dalam hidup dan langkah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Perjalanan waktu dan tempaan hidup akan memnuat kita menjadi berbesda dalam menyikapi satu masalah dengan lainnya.

Terpikir kemudian bagaimana jika segala hal terlewat begitu saja? Hadir sesaat lalu lenyap seketika. Seperti embun yang datang pelahan terbungkus kabut, singgah dan memberi ruang yang basah pada tanah, rerumputan dan segala yang disentuhnya. Tapi harus rela untuk beranjak ketika cahaya mulai menerpa padanya.

Mungkin saya belum bisa menjadi embun yang begitu saja rela menyerahkan keberadaannya kepada cahaya. Dan selalu kembali esok hari dengan setia, tak peduli hujan atau tidak. Ia selalu hadir. Ya saya tak akan pernah bisa. Tapi setidaknya saya bisa belajar kesetiaan, kerelaan dan kepastiannya.  

Tuesday, November 22, 2011

Tentang Dunia Pendidikan

Selepas senja, kemarin sore saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa anak muda. Tentang angan-anagan dan imaji mereka. Tentang keinginan untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan yang tidak mengedepankan sekat-sekat, yang ingin memberikan kemerdekaan sepenuhnya kepada anak-anak. Ketika mereka menanyakan pendapat saya sebagai yang telah berkecimpung dalam dunia pendidikan. Ah, siapa yang tidak menginginkan semua itu?
Sayangnya, kita harus kembali menengok sekitar kita. Apakah negeri ini telah bisa menerima sepenuhnya kondisi demikian? Bagaimana dengan mereka yang tak menguasai bidak eksak dan hanya memiliki ketrampilan saja? Tentu mereka tak bisa dengan nyaman masuk ke dalam suatu perusahaan untuk bekerja, atau masuk ke sebuah instansi pemerintahan. Tetap saja lembar kertyas yang bernama ijazah harus bicara. tentu saja akan berbeda arahnya ketika kita membicarakan mereka yang berwiraswasta. Ah, seandainya saja sekat-sekat kaku itu bisa sedikit lebih luwes. Pasti akan lebih banyak kesempatan bagi mereka yang memiliki keterbatasan, entah kemampuan maupun biaya.
Kondisi sistem yang demikian itu juga membuat tak sedikit orang tua yang memaksa anaknya untuk mengejar banyak hal. Mengikuti segudang kegiatan yang diharapkan untuk membantu kelak jika anak-anak itu telah dewasa, tapi apakah mereka menikmatinya? Mungkin ada, tapi pasti ada saja yang mengeluh karena kecapekan. Mengeluh tidak bisa lagi main sepeda dengan anak tetangga. Tapi sekali lagi, banyak orang tua yang melakukan karena tidak sadar, bahwa mereka telah mengambil kemerdekaan anaknya secara paksa. karena orang tua juga terseret oleh sistem yang sudah ada.
bagi orang tua, pendidik, penting sekali untuk melakukan pendekatan kepada anak. Menanyakan minat apa yang sesuai, tidak memaksakan anak untuk menerima mentah-mentah apa yangorang tua maui. Mengikuti kegiatan Parenting dan mengembangkan wawasan tentang dunia anak juga akan sangat membantu. Penting sekali bagi kita kethaui ketika mempush anak untuk terlalu sibuk di usia dini mereka, akankah nilai-nilai budaya bisa diserap sebagaimana mestinya oleh mereka?
Saat ini untuk mengubah sistem bukanlah hal yang mudah. Namun setidaknya masing-masing kita sebagai orang tua, pendidik, masyarakat yang peduli terhadap perkembangan pendidikan anak-anak kita, jangan sampai membuat mereka menjadi terambil haknya karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mereka. Menjalin kedekatan dan mendengarkan apa keinginan mereka selain akan membuat mereka nyaman dan menikmati, juga dapat menstabilkan emosi dan jiwa anak-anak kita.
Percakapan selepas senja itu saya akhiri ketika jam latihan teater BR dimulai, sempat saya sampaikan kepada mereka untuk tetap memelihara mimpi2 itu. Saya bangga masih ada anak-anak muda yang aware dengan dunia pendidikan di negeri ini.




Tuesday, September 13, 2011

Much More Learn

Setiap manusia memiliki banyak kesempatan untuk belajar. Hanya tinggal bagaimana yang bersangkutan mau untuk lebih banyak lagi menyerap yang ada di sekelilingnya. Seandainya menjadi akar, serap sejauhnya air yang masih mampu teraih.
Ibarat tanaman, kita akan selalu mencari harapan untuk bertahan dan menyemikan benih dari biji-biji kita, entah melalui angin, hempasan hujan atau pengaruh cuaca lainnya.
Namun betapa sayangnya ketika ketidakpedulian membungkus kita. Merasakan betapa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang sakral, memisahkan diri dari komunitas dan berasa benar sendiri. Tanpa pernah mencoba mengerti dan belajar untuk mawas diri, bahwasannya sebagai manusia kita hanyalah seorang hamba yang harus selalu belajar dan belajar.
Sahabat, petiklah hikmah dari apa yang kau alami kini. Jadilah dewasa. Jangan mengungkung diri dan hanya mempersalahkan orang lain dan sekitarmu. Dewasalah. Karena matahari takkan terbenam hanya dengan merasa disingkirkan. NAMUN COBALAH BELAJAR BAHWA DIMANAPUN KITA BERADA KITA SELALU BISA MELIHAT BAHWA KITA BISA SAJA BERBUAT SALAH. Dan kita adalah manusia yang jauh lebih baik ketika mampu berintrospeksi dan menjadiknnya cambuk bagi keberhasilan kita di kemudian hari.

Wednesday, April 6, 2011

T.E.P.A.R

Sudah hampir satu minggu saya dikalahkan oleh virus-virus yang bersarang dalam tubuh saya. Awalnya karena kehujanan, mungkin juga kecapaian karena aktivitas yang agak padat minggu-minggu kemaren, mungkin juga karena kondisi tubuh saya sedang drop dan tidak siap untuk bekerja gila-gilaan. Tapi tetap saja saya melakukannya. Sudah sempat ke dokter sih, tapi katanya hanya flu dan masuk angin biasa. Sudah diberi obat juga. Tapi gag tahu kenapa sampai sekarang rasanya batuk dan pilek semakin menggila. Ah, sudahlah. Sementara untuk istirahat total tidaklah memungkinkan. Hampir tiap hari ada jam mengajar. Kalau mau dititipkan ke teman kasihan juga, karena kami cuma berdua saja di lab. Akhirnya tetap nekat bekerja dengan pakaian "perang" Jaket supertebal, kaus kaki tebal, slayer. Selain itu sedia obat-obatan lengkap, vitamin, air putih, pisang selalu tersedia di dekat saya. Berharap virus-virus ini segera hengkang dari diri saya. Sudah terlalu lelah dan enggan saya dengan mereka... Fiuh...

Wednesday, March 23, 2011

Catatan di Hari Selasa

Kemarin aktivitas saya bisa selesai pada pukul 17.00 WIB. Karena UTS di sekolah masih berlangsung. Sesampai di rumah hujan turun dengan deras sampai habis maghrib. Saya bersama BR melewatkan sore itu dengan menonton televisi. Sampai kemudian BR mengajak saya untuk melihat teater ke kampus UNS. Awalnya saya merasa malas karena selain gerimis masih turun satu-satu, udara juga begitu dingin sekali. Lagipula lakon yang dimainkan juga pernah saya lihat sebelumnya. Tapi saya tak kuasa menolak ajakan BR. Akhirnya saya ganti baju juga dan perjalanan menuju tempat tujuan kemarin terasa sedikit berat buat saya.

Sesampai di sana saya juga masih merasa tidak begitu exited. Saya hanya memandangi anak-anak muda yang juga menunggu pintu dibuka. Saya merasa melihat diri saya 6-7 tahun yang lalu. Tertawa berbahak-bahak, saling berbagi pengalaman berproses. Saya rasa tidak terlalu banyak yang seusia dengan saya, kecuali beberapa alumninya yang tidak begitu saya kenal.

Setelah pintu dibuka, acara dimulai. Sebelum pementasan diumumkanlah lomba membaca puisi tingkat SMA se-Surakarta. Saat pembawa acara memanggil juara kedua, saya tersentak. Anak didik saya yang sekarang duduk di kelas 2 SMA 4 di Solo. Luthfiana Nurochmah. Saat itu juga, perasaan saya langsung berubah. Ya, ada bangga yang menyusup di sini. Dan tiba-tiba penyesalan saya mendatangi tempat ini menguap begitu saja. Selanjutnya, saya dapat menikmati dengan nyaman seluruh sisa pertunjukan.

Di akhir pementasan, saya masih sempat menyalaminya, yang dengan santun masih mencium tangan saya. Katanya, Wah, keren ketemu Bu Maya di sini? Ucapnya. Saya julurkan lidah saya. Tahun depan juara I ya...
Saya sempat mengucapkan juga padanya bahwa dia sudah membuat saya tidak menyesali kedatangan saya di tempat tersebut. Dan dia tertawa saja mendengarnya.

Ya, saya menjadi teringat kembali dengan pembicaraan dengan seorang teman saya. Yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah dan mengatakan betapa mahalnya sekolah tersebut. Seberapa penting arti pendidikan bagi seseorang? Mahal dan kualitas adalah sebuah hal yang saling berhubungan. Ketika harga mahal bisa menjamin kualitas bagus kenapa tidak? Ucap saya ketika itu. Tapi teman tersebut mengait-ngaitkan dengan institusi tempat saya mengajar yang katanya inklusi, rangking di kota yang tak terlalu tinggi dan sebagainya. Saya mencoba tersenyum. Bukankah pendidikan adalah sebuah proses?

Mungkin kita tak bisa memetiknya hanya dalam kurun waktu 6 tahun saja. Seandainya ada rekam jejak para alumnus, mungkin teman saya tersebut dapat menghilangkan keraguannya. Sayangnya baru saja kami mencoba membuat rekam jejak mereka. Luthfi ini contohnya, berbagai kejuaraan di bidang penulisan, bahasa inggris, puisi, penyiaran membuat saya bangga. Kebetulan kami masih saling berhubungan. Ada juga siswa alumnus yang dapat berangkat ke luar negeri mengikuti Olimpiade matematika. Ada juga yang sekarang ayik membuat perkumpulan tentang debat anak muda. Masih banyak lagi yang saya belum bisa menuliskannya di sini. Yang jelas kita memang tidak berhak menilai pendidikan sebagai sesuatu yang instan.

Bagi saya apa yang mereka lakukan adalah buah dari proses pendidikan yang diterimanya selama mereka memasuki dunia pendidikan. Dan saya tetap yakin dan berbangga hati. Bahwa dengan ketulusan hati, kita dapat mengantarkan anak-anak kita menuju sebuah prestasi.

Teruslah mengukir langit,wahai anak-anak negeri!

Sebuah Pelajaran

Seringkali kita mendapat pelajaran yang tidak terduga dari sekeliling kita. Bersyukur selagi kita masih bisa mendapat hikmah dari segala peristiwa. Kejadian ini saya alami Senin kemarin, tapi saya baru bisa menuliskannya hari ini. Senin itu saya sedang berpuasa. Meski demikian, aktivitas tetap saya jalani seperti biasa. Berada di sekolah sampai sekitar pukul 15.00 WIB. Kebetulan sedang test jadi bisa pulang sedikit lebih awal. Kemudian saya melanjutkan kegiatan menuju tempat privat. Alhamdulillah juga lancar, sampai suami saya menjemput pukul 17.00 WIB.
Dalam perjalanan menuju rumah, saya tahu kalau suami tercinta sudah menyiapkan teh hangat dan cemilan yang dibelinya dalam perjalanan menjemput saya. Mungkin akan ada es kelapa muda juga di sana. Tapi entah mengapa saya justru membayangkan es kolak atau es dawet. Tapi saya mencoba untuk menahannya. Karena saya mengerti pasti suami saya akan berusaha untuk mencarikannya. Sementara hari gini, mana ada orang menjual kolak dan dawet sore hari.
Sambil menikmati perjalanan itu, seakan Tuhan membaca suara hati saya. Tiba-tiba saja saya menemukan sesosok tua yang memikul dagangannya. Pengalaman bertahun-tahun di kota ini membuat saya menarik kesimpulan bahwa ia adalah seorang penjual dawet. Sososk rentanya dalam langkah tertatih dengan pikulan di sore yang beranjak. Saya sampaikan kepada suami saya bahwa saya ingin menghentikan bapak tua itu. Suami saya berbalik dan kami menghentikan pembawa pikulan itu. Ya, Alhamdulillah sekali lagi, bahwa bapak tua itu adalah penjual dawet. Dan ketika saya tanyakan apakah dagangannya masih, ia menjawab masih. Kemudian ia menueunkan pikulannya, mencari bangku kecil dan mendudukinya. Nafasnya masih tersengal ketika saya memesan dua bungkus. Saya perhatikan dengan seksama bagaimana bapak tua itu dengan tangan yang gemetar (dalam bahasa jawa buyuten) menuangkan dawet, santan dan gula jawa ke dalam plastik. Tiba-tiba saya melihat sebuah pemandangan luar biasa. Di usianya yang begitu renta ia masih bekerja dengan begitu kerasnya. Apalagi ketika saya tanya rumahnya dan tempatnya berjualan yang jaraknya hampir tiga perempat perjalanan saya ke sekolah, dan harus dilaluinya dengan berjalan kaki membawa piku8lan. Seakan mendapat tamparan keras, bagaimana saya masih seringkali mengeluh meski tanpa teucapkan dengan keadaan dan pekerjaan saya. Saya merasa malu hati kepada bapak tua itu, kepada Tuhan yang begitu baik sekali, pada diri sendiri. Setelah membayarkan harga dawet dan memberikan sedikit kelebihan pada bapak tua itu kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, saya tak henti berucap doa panjang semoga semua hasil yang diterima sosok renta itu akan menjadi barokah baginya. Dan sesampai di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Subhanallah, dawet itu menjadi dawet terlezat yang pernah saya rasakan. Dalam hati saya berucap syukur tanpa henti atas pelajaran yang saya dapatkan hari ini. Sambil berharap semoga saya diberi kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan sosok tersebut.

Monday, March 14, 2011

Another Lovelly Week...

Ya.. seminggu kemarin memang disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Biasa, menjelang ujian tengan Semester, banyak sekali koreksi hasil ulangan, belum lagi persiapan murid privat saya yang mau UN tahun ini. Ditambah cuaca yang tak bisa diprediksi, siang hari begitu panas, tiba-tiba hujan bergeledek penuh petir.. tapi Alhamdulillah, bisa melewati semuanya dengan indah.
Hari Minggunya, tiba-tiba kembali saya tergelitik untuk mencoba resep hasil browsingan di internet. Sebelumnya saya cari resep marmer cake, mudah banget sih. jadi berasa kurang tantangan ha..ha..
Kemarin nyoba bikin cheese cake. Hasilnya Yummy bangedd... BR aja sampai gag berrenti makan, ketika sebagian saya bawa ke tempat mami, dia agak-agak sedih, sampai saya katakan Ntar dibikinkan lagi, bahannya masih ada.. ha..ha.. mirip anak kecil deh ...
Ternyata di tempat Mami lagi banyak ponakan juga yang bertandang, di luar dugaan mereka menyerbu habis semuanya...

bahannya mudah saja

7 kuning telur
5 putih telur, kocok
200 gr terigu
200 gula halus
250 gr mentega
200 keju parut
50 gr DCC
50 gr WCC

1. Kocok kuning telur, mentega, gula halus sampai mengembang
2. Masukkan terigu bergantian dengan keju sambil terus diaduk
3. Masukkan putih telur kocok ke dalam adonan aduk rata
4. Panaskan oven (gag pake suhu, karena ovennya oven dari bahan sederhana yang gag ada pengatur suhunya)
5. Oles loyang bundar 20 cm (aku pakai yang 22 cm) dengan mentega, alasi dengan kertas roti Masukkan adonan
6. Panggang kurang lebih 45 menit/ sampai matang dengan melihat tekstur kuenya
7. Angkat dinginkan
8. Tim 50 gr DCC dan 50 gr WCC, hias di atas kue...

Sayangnya tidak sempat mengambil gambarnya, karena begitu keluar dari oven, si BR udah nungguin sambil bawa pisau hadyuh... Seneng sih makanan yang dibikin menyenangkan hati banyak orang, and especially is BR.... of course...