Thursday, May 22, 2008

Untuk Bintang

Di sela pijar kejora
Kutangkap lembut senyumnya
Ada binar cinta, ada kelopak sayang
Yang berpijar menerangi persada
Bukan berarti tak ada,
Bukan berarti nestapa
Kala jemari tak kuasa meraihnya
Bintang,
Selalu ada waktu untuk mengambil hikmah dan belajar
Bintang,
Kau adalah semangat
Pukullah genderangmu lebih keras lagi
Paculah kudamu lebih cepat lagi
Kepakkan sayapmu lebih tinggi lagi
Jangan pernah menyerah,
Jangan pernah merasa lelah

: Sebab hidup adalah perjuangan

(4 a little boy I've meet this morning,
thanks for the Inspiration
Never Give UP!, Won't you?)

Friday, May 16, 2008

B A D A I

: kepada Purnama
Pijar gemintang musnah seketika
Ditiup angin yang kembara
Meluluhlantakkan rasa yang pernah ada
: Ini tentang kita
yang tak bisa mengikat rasa
itu yang pernah kau kata
Tapi di mana
tepi buaian yang pernah kau kenalkan?
Mungkin badai telah menghapus jejaknya

Tuesday, May 13, 2008

Sibuk, Sibuk, Sibuk

Hampir dua minggu menyeleksi naskah anak-anak. Bersama dua rekan saya yang ditunjuk untuk mempersiapkan penulis-penulis cilik di sekolah kami. "Menyemai Benih Penulis Cilik", begitu slogannya. Setelah terpilih karya tiga karya terbaik dari jenis puisi, cerpen dan komik, kami mempersiapkan acara launchingnya. Launching yang diberi titel AWC (Al Firdaus writing Club) dilaksanan di Diamond Convention Center pada hari Jum'at tanggal 9 Mei 2008. Dari mempersiapkan hadiah, cek surat-surat. Untungnya pihak penerbit besar yang ada di Solo banyak membantu, sebagai sponsor, sekaligus sebagai bagian dari pengadaan club penulis cilik ini. Pyuh..... Alhamdulillah. Lumayan sukses. Launching yangjuga sekaliguis workshop menulis bagi anak-anak itu dihadiri oleh Izzatul Jannah dan Ambhita Dhian Ningrum dari TS.
Selesai acara, ada banyak PR menanti kami, agenda rutin, pelatihan bagi anak-anak yang terjaring masuk club.
Jeda sebentar.
Kemudian Test UASBN. Hm... saya emang gak terlalu terlibat di dalamnya, tapi ghirohnya terasa juga, murid les saya juga ada yag jadi peserta UASBN tahun ini. Selain anak-anak di SD tentunya.
Sekarang pelaksanaan UASBN tengah berlangsung. Sementara agenda kerja baru sudah menanti. Setelah pelaksanaan UASBN nanti, rencananya tanggak 24 Mei kami akan mengadakan outbound, biasa disebut Puncak Tema, seluruh murid dan Sd tempat saya mengajar. Kemudian persiapan test untuk anak kelas 1 - 5. Kenaikan kelas, Raport....
Ouhhhhhhhhhhhhh.........
Dan berapa naskah saya yang masih belum jadi?
Ya Allah! Bangun May, Kerja sudah menanti!
Ke mana saja selama ini ya? :D

Friday, May 2, 2008

Lelaki di Ujung Senja

Ia datang dengan tiba-tiba
Melibas derasnya arus peradaban
Ada seikat mawar di tangannya
Di ujung sore yang mempesona
Ia datang bersama senja
yang menaungi persada
Tajam tatapan matanya
Menusuk jantung cakrawala
Ada geliat luka yang terbaca
Di gurat keras wajahnya
Senja mengalun redup
Ia berjalan dalam langkah yang semakin menjauh
Meninggalkan kuntum-kuntum mawar
Yang kelopaknya jatuh berguguran
"Kemana perginya ia? Seorang lelaki berkalung kemilau senja"
seseorang tiba-tiba bertanya
"Ia hilang ditelan senja"
begitu saja
Ketika kutersadar ternyata
ia datang dengan sisa-sisa cinta
yang mulai mengering dalam genggaman waktu
tapi ia telah berlalu
bersama senja yang membawanya
menuju kelamnya gulita

Solo, 2 Mei 2008

HARDIKNAS

Selamat Hari Pendidikan Nasional...
MARI nyalakan semangat belajar
Karena hanya dengan belajar, kita dapat mengukir dunia.....

Saturday, April 26, 2008

Sekilas tentang Hardiknas

Sabtu pagi, seperti Sabtu-sabtu yang lainnya, kami mengadakan rapat. Awalnya, saya tidak terlalu menaruh perhatian apa-apa. Saya malah sibuk mencoret-coret kertas gak penting. Namun tiba-tiba susana kok menjadi tidak enak. Saya mulai menyimak. Ada pertentangan. Oh, teman-teman tengah membicarakan tentang upacara Hari Pendidikan Nasional yang akan diadakan besok tanggal 2 Mei. Ada teman yang menghendaki memakai pakaian yang berbeda. bapak-bapak mau pakai jas, dan ibu-ibu diminta memakai kebaya. Beberapa teman perempuan saya protes, karena mereka mesti mengajar, naik turun tangga. Belum lagi repotnya naik motor memakai kain. Kata seorang teman, ini kan acaranya "menjual", kita bisa dapat publikasi banyak dan seterusnya, dan sebagainya. Saya mulai menegakkan duduk saya. Wah saya semakin ramai saja perdebatannya.
Saya tak berniat memberi solusi. Tapi saya juga tak bisa hanya diam mendengarkan perdebatan yang tidak bermutu menurut saya. Saya angkat jari. tanpa diminta saya tanyakan kepada mereka. Apa sih essensi dari upacara itu sendiri? Memperingati hari pendidikan nasional kan? Jangan-jangan karena terlalu glamournya kita, dan hebatnya pemberitaan tentang kita, masing-masing dari kita tak mendapat makna dari hardiknas itu sendiri. Benarkah kita sudah "mendidik" dengan benar? Apa yang sudah kita lakukan untuk dunia pendidikan negeri ini? Bagaimana memberikan pengertian tentang hardiknas kepada anak-anak didik kita. Buat apa, kalau hanya ada dalam pemberitaan dan pakaian saja Saya bukan mau sok pintar atau menggurui. Saya justru ingin merenungkan dan memulai untuk lebih banyak lagi belajar.
semua terdiam kemudian. Mungkin benak mereka bilang siape lu, anak kemarin sore juga.
Mungkin lebih banyak lagi yang tercengang, karena saya bukan yang suka banyak usul dalam rapat. Keputusan akhirnya adalah ibu-ibu boleh pakai baju batik bebas. Tidak mesti kain dan kebaya. Rapat bubar. Tapi saya masih tercenung di ruang rapat. Saya teringat pembicaraan dengan seorang rekan kemarin sore. Ia bercerita tentang kasus tertangkapnya guru yang mengubah jawaban muridnya saat UNAS SMA. Guru SMA tersebut mengatakan bahwa mereka mengubah jawaban hanya karena ingin anak didiknya lulus dalam ujian tersebut.
Teman saya mengajak saya melihat dari sisi lain. "Jadi memang tugas guru itu mulia ya? Bahkan ketika berbuat kesalahan sekali pun ia hanya ingin anak didiknya mendapat hasil yang terbaik" ,ucapnya saat menyoroti kasus tersebut. Benarkah demikian? saya juga bukan guru yang baik. Karena saya sendiri pun tengah belajar dalam kehidupan ini. Tapi yang saya tahu proses itu lebih penting daripada hasil. Proses adalah membuat anak yang tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham, tidak bisa menjadi bisa. Dan pendidikan sendiri adalah sebuah proses belajar, baik bagi guru maupun muri itu sendiri. Dan yang jelas, teladan akan moral jauh lebih penting di atas segalanya. Selamat menyongsong Hari Pendidikan Nasional, semoga menjadi renungan bagi dunia pendidikan untuk menjadi lebih baik lagi.

Saturday, April 19, 2008

Senyum sang Mentari

Pagi ini semua terlihat biasa. Saat mood saya sedang bagus-bagusnya. Yang terlihat indah, selamanya akan selalu terlihat indah. Masalahnya, tidak setiap hari saya merasakan indahnya hari seperti ini. Hanya saja, matahari tidak selalu bersinar dengan cerah setiap harinya di dalam diri saya. Pada saat itu saya akan merasakan aura kelam meliputi diri saya. Saya merasakannya. Maka saat saya terlihat sedang bersinar seperti matahari. Orang-orang di sekitar saya akan ketakutan dan merasa tidak nyaman. saya hanya tersenyum saja menanggapinya. Di mana pun, kapanpun saya akan selalu menjadi saya. Tak peduli apa katamu, atau kata mereka. Yang penting saya nyaman. Ya, itu saja. Egois? Boleh kau bilang begitu. Tapi yang jelas, saya tak pernah merugikan kamu ataupun orang lain. Dan jangan pengaruhi saya dengan berbagai macam hal itu. sebab saya sedang SENANG. Dan mentari tengah singgah di diri saya.

Monday, April 14, 2008

Saya memang bukan siapa-siapa, sejak awal. Bahkan sampai sekarang sekali pun, saya hanya seorang maya. Ketika kemudian mereka harus tahu bahwa saya bisa menulis, pasti hanya suatu kebetulan saja. Maka ketika beberapa hari yang lalu saya diberi kepercayaan dengan tiba-tiba untuk mengantarkan siswa mengikuti lomba penulisan dan pembacaan puisi di tingkat kota, seorang teman menghampiri saya.
Dia : Jadi njenengan mau ya, jadi pembimbing anak itu?
Saya : Iya
Dia : Sudah mulai pembimbingannya?
Saya : Sudah, vokalnya masih kalah jauh dibanding peserta lain. Saya mau memberi banyak
latihan vokal. Selain itu kemampuan mengikat makna dalam suatu tema, juga belum
begitu dikuasainya
Dia : Loh, emang sudah dapat surat tugasnya?
Saya : Maaf, ya Bagi saya surat tugas itu gak penting. Yang penting adalah apa yang saya bisa
berikan untuknya itu saja. Seandainya anak itu tak menang pun gak masalah. Yang
penting ilmunya sampai.
Dengan dongkol saya meninggalkannya begitu saja. Ya, selalu begitu. Setiap tugas baru selalu yang dipertanyakan adalah surat tugasnya mana? Begitu diberi surat tugas, ya pembimbingannya asal-asalan. Saya hanya ingin mempertanyakan. Di mana tanggung jawab moral sebagai seorang pendidik? Bukan berarti saya sudah bagus. saya hanya ingin selalu memperbaiki diri setiap detiknya. Jadi kalau memang tidak sependapat, it's OK. tapi maaf, jangan ajak saya berdiskusi tentang masalah gak penting. Lebih baik memberikan apa yang kita bisa kepada anak-anak. selagi masih ada waktu dan kesempatan.