Wednesday, June 24, 2009

S A K S I


Begitu banyak yang terlewat di depan kita.

Dari ke semuanya aku hanya ingin selalu ada,

menjadi saksi atas segala peristiwa yang terlewat.

Lalu tersenyum sambil menikmati apa yang terlewat

Penuh rasa syukur dan cinta yang selalu bertambah di setiap detiknya.
Dan tak ada yang lebih indah ketika menjadi saksi dalam perjalanan hidup yang kau lalui.
Pementasan teater Lungit
Minggu, 21 Juni 2009
Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah

Monday, May 25, 2009

R U M A H

Seperti baru kemarin saja mengenalmu. Seperti baru kemarin saja kita saling beradu pandang dan membuatku tersipu malu. Ternyata sudah lama sekali semua berlalu. Namun aku bersyukur bahwa tak ada yang berubah sejak saat itu.

Sabtu kemarin rasa pening di kepalau sudah tidak dapat dikompromi. Aku memilih pulang dengan naik bis umum, aku tak mau mengganggu aktivitasmu yang mulai memadat lagi (ingat ya, tidak semua hal bisa diatasi sendiri atau boleh juga ditambahkan bukan aku saja yang harus belajar mengatakan TIDAK ya, Say?) Aku memilih pulang ke tempat ibumu. Lebih enak ditempuh, nanti juga dari Wisma Seni kamu lebih dekat menyusulku. Tidur jadi pilihan utamaku, mengingat ibu dan kakakmu tidak di rumah. Bapak juga tengah beristirahat.

Selepas ashar kamu datang menjemputku. Aku ingin sekali makan sesuatu yang panas dan pedas untuk mengurangi pening yang semakin mengganggu. Namun langit yang mendung itu seakan mengganggumu. Gerimis kecil-kecil mengiringi perjalanan pulang kita. Namun perhatian itu mengalahkan kegundahan langit yang mulai menurunkan rintiknya, kamu berhenti di sebuah tempat. Dua mangkok bakso dihidangkan, dan kita menikmatinya bersama.

Kemudian kita pulang ke rumah. Bukan, bukan rumah kita yang itu. Kamu terlalu sibuk dengan rumah kita sehingga menunda-nunda kepindahan kita. Say, aku mau kok apa adanya saja. Tidak, jangan terlalu mewah karena kemewahan itu membutakan. Itu saja sudah cukup, Say…

Kita ke rumah ibuku. Aku minta izin untuk membaringkan tubuh sejenak.

Sorenya kamu mengajakku keluar, pacaran yuk katamu lucu. Bukannya tiap kali kita melakukannya? Tanyaku lucu. Aku mandi dan kita sudah di jalan, menikmati senja yang gundah di beberapa tempat. Ya, langit sedang sangat murah hati menurunkan hujannya belakangan ini. Tapi kamu mengajakku menikmatinya. Dan sepanjang perjalanan itu sungguh membuat kita mensyukuri semuanya.

Rupanya kamu membawaku ke rumah kita, rumah yang tak jua ditempati. Ah, sayang aku mau bulan depan kita menempatinya. Berdua saja. Ya, berdua denganmu saja. Kita duduk berdua di pintu belakang, memandang langit yang muram. Namun entah mengapa terlihat begitu indah bagi kita. Ketika waktu kemudian berlalu dan kau mengajakku pulang, kukatakan padamu kita sudah di rumah. Dan kaupun menjawabnya dimanapun kita berada, kita selalu di rumah. Karena aku rumahmu dan kaulah tempatku menuju pulang.

Terima kasih Ya, Rabb untuk rasa yang KAU ciptakan kepada kami, semoga KAU senantiasa memberikan kesadaran kepada kami, bahwa cinta ini adalah untuk-MU juga.

Wednesday, May 6, 2009

K E M A R A U

Mereka bilang senja tak benar-benar menghilang dari hidupku
Ketika aku merasa goyah
Ada tangan-tangan mungil terulur
Menopangku supaya tak benar-benar jatuh
Memberiku semangat untuk bertahan

Mereka bilang senja selalu merona di ranumku
Saat beradu dengan waktu
Menuju tempat tertinggi yang dapat kutuju

Sedang tanah tak lagi memberi materi
Kering retak dalam bongkahan kemarau
Riak airpun tak tersisa dalam tandusnya bebatuan
Tercapak dalam ranggasnya dedaunan

Mereka bilang senja tak benar-benar datang menjemputku
Sebab akar telah jauh menancap ke dalam
Berpetualang mencari akhir resapan
Sementara kulai batang yang kian cemas
Menunggu akar yang mulai melemas

Mereka bilang senja masih akan menaungiku
Kala merindu hujan yang kan tumbuhkan tunas-tunas baru

Wednesday, April 15, 2009

K I T A & H U J A N

KITA & HUJAN

Ri, kudengar rintik hujan turun
Diantara deru angin yang gemuruh
Aku terkesiap pada raut wajahmu
Yang tertinggal di ujung benakku

Kita tak pernah jauh
Meski ribuan waktu terkayuh
Menjurang jarak di antara aku dan kamu
Karena kata merangkai makna
Yang menautkan pertalian kita

Dan tangan kembali menarikan nyanyian hati
Maka kutuliskan syair ini
Untuk menuntaskan kerinduan yang meradang
Maka serukan hujan, Ri!
Keras-keras

Karena dalam hujan
Kita temukan kambali tempat bermain kita
Kita temukan tawa kita
Kita temukan kebebasan kita

Lalu ketika hujan tak jua reda
Langkah akan membawa kita ke dermaga
Melayarkan perahu kertas bersama
Saling seru saat perahu melaju
Dan kembali kaki kita berlari
Menyusuri keindahan hari

Ketika hujan benar-benar bersenyawa dengan kita
Tak ada lagi aku, kau dan hujan
Kita saling menjelma
Menjadi satu nyawa
Mengisi hari dan mengendapkannya

Ri, ketika tanganku lelah menari
Akan kupandang hari yang berlari dalam laju
Yang tak mampu aku beri kendali

Tuesday, April 7, 2009

T A N Y A

T A N Y A

Apa yang kau lakukan ketika dingin menjemputmu ke peraduan malam?
Menyerahkan lelah pada kantuk yang tak berujung gundah
Tak setiap malam kau hadir membawakan pelita.
Namun kali ini berbeda
Ada kilatan mata maha dahsyat menembus segala
Memancar
Berpendar
Menyapu jagad raya

Di manakah dirimu ketika angin mulai membelai sukma?
Adakah hadir di antara tiada?
Sebab tak kutemukan sapuan maha kuasa di kelopak matamu
Hanya letih yang terpasung kaku
Di antara kosongnya tatapan matamu

Aku mencarimu dalam hempasan gelombang
Di antara reruntuhan dan mimpi-mimpi usang
Dalam relung dan kesendirian

Di manakah kelam kelak kan bersemayam?
Ketika ujung bibirmu menelan akhir kepahitan
Tak satupun dari kita
Menemu tarian gulita

Kerna hanya angan
Yang menautkan pikiran

Friday, March 13, 2009

P U I N G

Lembayung senja luruh menorah di ufuk barat.
Ada sisa pilu dari getas masa lalu. Ada kepedihan yang teronggok di sudut malam-malam sunyiku.
“Ri, berhentilah sejenak, tengoklah ke belakang,” ucapnya suatu ketika dikala kabut menggantung di bibir lembah.
Ini sudah kali ketiga bibirnya meretas pinta.
“Tidak!” Tegas saya
“Tapi hujan memantimu di luar sana”, ratapnya lagi
Seperti yang sudah-sudah, sebentar lagi matanya akan menganak sungai.
“Hujan ada di dalam sini” jawabku lirih sambil menunjuk dadaku.
Dan tangisnya semakin menjadi
********
September beberapa tahun yang lalu
Di sebuah taman kota yang sunyi. Dengan sungai jernih mengalir membelah keduanya.
Dikala waktu beranjak menuju ke sekian kalinya. Menunggu, memberi jeda kepada sepi yang sejenak melintas. Kusingkap sebuah kabut masa. Yang menorehkan selaksa luka.
Ketika kau beranjak menjemput dia.
*********
“Selamat tinggal”, ucapku datar
“Kita hanya bagian dari kisah”, ucapku di tanah merah yang membasah.
“Damailah di alam sana”
Kubiarkan kuntum kamboja luruh bersama rintik rinainya. Saat kuantar ke peristirahatan terakhirnya.

Thursday, March 12, 2009

SAJAK II

Di antara relung berpalung
Kala ombak bergulung
Kuserukan namamu
Namun hanya gaung
Yang tertangkap telingaku

Samar kutatap wajah sunyi
Tak jua letih batin mencari
Tapi hanya semburat senja
Yang menorehkan warna jingga

Berlari, menyusuri kelam
Lelah meronta menghentak sesak
Di antara relung berpalung
Kala ombak bergulung