Thursday, March 29, 2007

Karena saya tidak bisa berkata tidak...

07.00-16.00 ngajar
16.30-18.00 ngasih les privet
19.00-20.30 ngasih privat lagi

Kayaknya schedulnya cuma dikit, tapi sebenarnya tiap hari itu menyita sekali. Sampai-sampai seringkali saya merasa 24 jam waktu yang diberikan untuk saya itu seperti kurang dan kurang dan kurang lagi.
Sebenarnya jadwal itu cuma berlaku triga hari tapi sejak kemaren malam jadwal itu berlaku 6 kali seminggu...

Ceritanya kemaren murid saya yang kelas 6 datang, karena ujian sudah di depan mata, ia minta saya datang privat tiap hari, saya sebenarnya masih mau mempertimbangkannya tapi kemudian orang tuanya datang
"maaf ya Bu, tolong bantu anak saya, ditemani belajarnya biar lebih mantep menghadapi ujiannya"
"Habis gimana, kami berdua sibuk semua, jadi tolong ya Bu"

Saya tersenyum saja, sebenarnya pikiran dan hati saya sudah mau bilang " Maaf saya tidak bisa, waktu saya sudah penuh"
tapi yang terucap justru, "Insya Allah saya coba Bu, tapi tolong Bapak, Ibu dan Kakaknya juga memberi motivasi yang mendorong...."

Sorenya saya sempatkan untuk berbelanja, eh tetangga saya samping rumah juga ada di sana.

"Mbak, tolong ya, kapan ada waktu anak saya dibantu belajarnya"

"Maaf ya, Mbak tapi waktu saya penuh sekarang ini"

"sudah hari Minggu juga ndak papa"

"Gimana ya...."

"Ya, nanti hari Minggu sama hari apa gitu saya tunggu di rumah..."

"Ya, dicoba dulu ya...."

Walhasil mulai hari ini mungkin jadwal tadiakan bertambah lagi. Gimana sih caranya bilang tidak?



Friday, March 23, 2007

refleksi

“Di mana dapat saya temukan sebuah bunga berwarna biru?
Yang kelopaknya masih membasah terkena tetesan embun
dari kaki langit di pagi musim penghujan yang masih tersisa
Di mana dapat saya raih kumpulan gemintang
Sementara langit malam tiada pernah menampakkannya?
Di mana dapat saya temukan sebuah lubang besar
Yang dapat menenggelamkan semua mimpi dan harap
Yang dapat menguburkan segala sisa asa yang tercabik-cabik rona masa
Terlalu kerdil rasa diri manakala tak satupun rona diri yang bercahaya
Dan aku kalah…………………………..
Karena bertanya…………………
Karena putus asa……………………
…”

Tulisan di atas saya temukan di antara tumpukan laci meja yang sudah lama berdebu dan hampir tidak pernah tersentuh selama hampir dua tahun terakhir. Ya, saya yang menulisnya dulu, sekitar 5-6 tahun yang lalu. Membacanya lagi mau tidak mau membawa angan saya terbang kembali ke masa itu. Tidak ada yang salah. Hanya salah satu jalan hidup yang pernah dilewati. Itu saja mungkin. Merenungkannya kembali bahwa pada akhirnya saya dapat berdiri di sini. Saat kehilangan hebat itu dapat terkubur oleh tempaan waktu. Siapa sangka?
Waktu itu saya merasa dunia seperti berhenti berputar, sebab baru saja merasakan dua kehilangan sekaligus. Ya saya masih mengingatnya. Waktu itu saya tengah menjalani sebuah hubungan dengan seseorang yang saya pikir dapat mengerti saya sepenuhnya, menerima saya apa adanya. Sampai pada suatu hari saya mengalami pendarahan dan dokter memperdiksikan adanya kanker yang bersarang di rahim saya. Saya tak dapat menahnnya, kepadanyalah saya bercerita, tapi apa? Ternyata saya keliru memilih tempat. Dengan serta merta saya dicampakkan begitu saja.
“Kita tak mungkin meneruskan ini, jelas saja karena aku tak mau menikah dengan perempuan yang mungkin tak dapat memberikan keturunan”

Betapa sangat menyakitkan kata-katanya. Saya berhenti berharap. Yang saya herankan saya tidak menangisinya. Hanya menahan pedih tanpa air mata.
Sesudahnya saya seperti tenggelam, tak mempedulikan apapun atau siapapun. Sebab semua harapan lemyap sudah. Seseorang yang saya harap memberikan kekuatan itu malah mencampakkan saya dengan alasan yang tidak masuk akal menurut saya. Untung saya masih memiliki keluarga dan sahabat2 yang luar biasa. Sampai kemudian, saya tak mau menjalin hubungan lagi.
Saya mengasingkan diri ke luar kota, bekerja di sebuah pedesaan terpencil hanya untuk meyakinkan saya tak akan menemuinya lagi. Butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk menyembuhkan luka itu, ketika kemudian datang seseorang yang menawarkan untuk menghabiskan sisa hidup bersama, saya meragu.
Saya ungkapkan semua kisah saya, juga vonis dokter yang mengatakan mungkin saya tidak dapat memberikan keturunan atau bahkan mungkin tak dapat bertahan hidup lebih lama lagi.
Apa ucapnya?
“Aku hanya ingin mencari ketenangan hidup denganmu, Jika kita diberi kepercayaan kita pasti mendapatkan naugerah-Nya. Tapi kenapa tidak mencoba mensyukuri nikmat yang ada dengan menjalaninya?”
Ketenangan dan keteguhannya menerima yang membukakan mata saya.
Waktu yang bicara kemudian, saya menyadarinya, saya bahagia.

Ternyata Allah benar-benar memberikan yang terbaik untuk saya pada akhirnya.
Saya tutup lembaran tulisan itu, biarlah menjadi bagian kisah masa lalu sebagai cermin atas diri saya untuk melangkah ke depan.


Thursday, March 15, 2007

Hujan, Tubuh, Kota.....................

Sudah hampir tiga hari ini hujan selalu turun dengan dahsyatnya. Dan tidak tanggung-tanggung turunnya selalu saja menjelang pulang kerja. Wah, kalau sudah begini bukan hanya masalah bingung, macet, ruwet, bahkan pulang saja terpaksa tanpa alas kaki. Padahal tubuh saya rasanya belum bener2 fit, eh kok ya tiba-tiba si hujan ini sudah datang lagi dan mengguyurkan kesegarannya yang terlalu luar biasa. Ya terpaksa selama dua hari ini saya pulang kerja denganberhujan-hujan ria. Susahnya karena kawasan tempat saya mengajar termasuk daerah rendah di kota, akibatnya ruas jalan selalu saja dipenuhi air yang menggenang, belum lagi jalan di depan sekolah yang idealnya hanya untuk satu arah, dipakai untuk dua arah, ya begitu deh. Kemarin saya nekat pulang dalam hujan yang sangat deras sekali. Kacamata minus 6 saya bahkan sudah tidak dapat melihat jalan, karena terkena tetesan air yang mengembun. Tapi kalau harus berteduh apa ya tiap hari harus nyampe rumah di atas jam 7 malam? Padahal saya tiap hari berangkat dari rumah pukul 06.30 pagi.
Tapi di perempatan depan kampus negerinya Solo saya menyerah, saya tepikan motor karena mata saya sudah benar-benar perih. Saya berteduh sejenak, sudah hampir maghrib. Menunggu sesaat. Akhirnya ya tetap aja nekat lagi. Sesampai di rumah saya terduduk diam... Wah, kalau tiap hari mesti berhujan-hujan ria seperti ini lha bagaimana dengan tubuh saya? Ya sekarang ini rasanya batuk makin menjadi, tenaga melemah, apa karena saya makin tua ya......... Atau lebih baik saya pindah saja dari daerah kabupaten ke kota? Entahlah, rupanya saya mulai tidak menikmati perjalanan..............................

Monday, March 12, 2007

Terpikat Pagi

Kemarin saya terbaring sakit. Malamnya terganggu tanpa bisa tertidur. Akhirnya suami saya meminta saya untuk diperiksa. Jadilah jam 00.12 kami ke poliklinik 24 jam dekat rumah. Dokter membuatkan surat ijin. Saya diminta istirahat dua hari terhitung hari ini.
Sepulang dari dokter, saya minum obat dan dapat tertidur.
Keesokan harinya, saya terbangun dan termenung. Saya buka jendela kamar, suasana pagi menghambur masuk kicau burung, semilir angin, senyum mentari. Sementara di luar sana barisan anak-anak yang hendak berangkat sekolah terlihat begitu ceria.
Saya pejamkan mata saya, terbayang murid-murid kecil yang manis dan menunggu instruksi saya di ruangan lab. kkomputer. Sontak saya berjingkat dan menyiapkan diri untuk berangkat. Suami saya bingung, katanya sakit. Kan ada surat dokter.
Saya kecup keningnya, saya terpikat pagi.
Dan baru saja jam pertama usai. Ternyata muka-muka kecil yang manis itu memang obat mujarab.....