Friday, March 23, 2007

refleksi

“Di mana dapat saya temukan sebuah bunga berwarna biru?
Yang kelopaknya masih membasah terkena tetesan embun
dari kaki langit di pagi musim penghujan yang masih tersisa
Di mana dapat saya raih kumpulan gemintang
Sementara langit malam tiada pernah menampakkannya?
Di mana dapat saya temukan sebuah lubang besar
Yang dapat menenggelamkan semua mimpi dan harap
Yang dapat menguburkan segala sisa asa yang tercabik-cabik rona masa
Terlalu kerdil rasa diri manakala tak satupun rona diri yang bercahaya
Dan aku kalah…………………………..
Karena bertanya…………………
Karena putus asa……………………
…”

Tulisan di atas saya temukan di antara tumpukan laci meja yang sudah lama berdebu dan hampir tidak pernah tersentuh selama hampir dua tahun terakhir. Ya, saya yang menulisnya dulu, sekitar 5-6 tahun yang lalu. Membacanya lagi mau tidak mau membawa angan saya terbang kembali ke masa itu. Tidak ada yang salah. Hanya salah satu jalan hidup yang pernah dilewati. Itu saja mungkin. Merenungkannya kembali bahwa pada akhirnya saya dapat berdiri di sini. Saat kehilangan hebat itu dapat terkubur oleh tempaan waktu. Siapa sangka?
Waktu itu saya merasa dunia seperti berhenti berputar, sebab baru saja merasakan dua kehilangan sekaligus. Ya saya masih mengingatnya. Waktu itu saya tengah menjalani sebuah hubungan dengan seseorang yang saya pikir dapat mengerti saya sepenuhnya, menerima saya apa adanya. Sampai pada suatu hari saya mengalami pendarahan dan dokter memperdiksikan adanya kanker yang bersarang di rahim saya. Saya tak dapat menahnnya, kepadanyalah saya bercerita, tapi apa? Ternyata saya keliru memilih tempat. Dengan serta merta saya dicampakkan begitu saja.
“Kita tak mungkin meneruskan ini, jelas saja karena aku tak mau menikah dengan perempuan yang mungkin tak dapat memberikan keturunan”

Betapa sangat menyakitkan kata-katanya. Saya berhenti berharap. Yang saya herankan saya tidak menangisinya. Hanya menahan pedih tanpa air mata.
Sesudahnya saya seperti tenggelam, tak mempedulikan apapun atau siapapun. Sebab semua harapan lemyap sudah. Seseorang yang saya harap memberikan kekuatan itu malah mencampakkan saya dengan alasan yang tidak masuk akal menurut saya. Untung saya masih memiliki keluarga dan sahabat2 yang luar biasa. Sampai kemudian, saya tak mau menjalin hubungan lagi.
Saya mengasingkan diri ke luar kota, bekerja di sebuah pedesaan terpencil hanya untuk meyakinkan saya tak akan menemuinya lagi. Butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk menyembuhkan luka itu, ketika kemudian datang seseorang yang menawarkan untuk menghabiskan sisa hidup bersama, saya meragu.
Saya ungkapkan semua kisah saya, juga vonis dokter yang mengatakan mungkin saya tidak dapat memberikan keturunan atau bahkan mungkin tak dapat bertahan hidup lebih lama lagi.
Apa ucapnya?
“Aku hanya ingin mencari ketenangan hidup denganmu, Jika kita diberi kepercayaan kita pasti mendapatkan naugerah-Nya. Tapi kenapa tidak mencoba mensyukuri nikmat yang ada dengan menjalaninya?”
Ketenangan dan keteguhannya menerima yang membukakan mata saya.
Waktu yang bicara kemudian, saya menyadarinya, saya bahagia.

Ternyata Allah benar-benar memberikan yang terbaik untuk saya pada akhirnya.
Saya tutup lembaran tulisan itu, biarlah menjadi bagian kisah masa lalu sebagai cermin atas diri saya untuk melangkah ke depan.


18 comments:

sachroel said...

salam kenal mbak...makasih udah datang ke blog saya

bebek said...

wahhh tulisannya panjang dan beraaat... tapi bagus loh... ehmm... salam kenal jugah yahttp://

mpokb said...

kisah yg mengharukan. syukurlah non may tidak harus menghabiskan hidup bersama orang yg tidak menerima non apa adanya, bahkan menemukan seseorang yg bijaksana. di balik setiap peristiwa memang ada hikmah yak..

rievees said...

Tuhan itu Maha Adil.. Dibalik segala cobaan yang diberikanNya, pasti ada hikmah yang baik..

Thx for droppin' by =)

maya said...

bener deh dia memang bukan yang terbaik untuk mba May, dan Alhamdulillah mba menemukan yang terbaik sekarang :)

maya said...

Alhamdulillah mba May sudah menemukan yang terbaik ya :)

Hannie said...

uhuhuhu....
jadi berkaca pada diri nih >,<

Anonymous said...

Salam kenal, May! Beruntung sekali May menemukan orang yg mencintai sepenuh hati seperti itu. Smoga hubungan kalian abadi, dan May tetap sehat ;)

--durin.pitas.com--

funeno said...

It's really really touchy. Alhamdulillah happy ending. I'll pray for you. Tengkiyu for dropping by

venus said...

gak usah inget yang sedih2. waktunya move on. :)

ciplok said...

penulisannya sangat indah

ciplok said...

salam kenal

Luigi said...

Semoga apa yang udah lewat bisa menjadi bekal dan membuat diri menjadi mawas dan bijak...

Di-doakeun dari negeri si bau kelek agar kedepan-nyabisa terus mulus..

Seneng udah bisa mampir kesini..:)

siwoer said...

god luck mak, saiki wis hepi ra koyo biyen maneh :)

ndahdien said...

trkadang qt sering membenci-NYA sewaktu qt mndapat cobaan yg berats dan ka'nya ga bisa dilewatin. tapi trnyata qt msh mampu brdiri melebihi bayangan qt sndiri, n akhirnya menyadari kuasa-NYA.

btw, zodiacnya sama nih, umur jg hihiii...ntar tukeran kado yak!

Hani said...

iya nih ikutan didoa'kan seperti temen2 lainnya ;)

axal said...

Blog memang curahan hati, salut buat orang-orang romantis yang membagi 'dunia'nya. Indah. Sebuah telaga untuk kita menikmati kesejukannya dan kebeningan cermin. Pedih, buah dari simpati, senang, mencantumkan kebersamaan. Belahan jiwa memang tidak untuk ditemukan, tapi dia akan membuka mata kita, menyediakan bahunya untuk bersandar, dan melihat kita utuh menerangi-diterangi. May, dunia memang tidak memberi gratis kepada kita, tapi keindahannya seratus langkah di depan kita dan melenakan. We hold it, jika kita hanya ingat bahwa dunia cuma anak tangga kehidupan. You already have the power.

rama said...

*speechless*
aku terharu banget mbak... tetep semangat yah! tuhan memang akan selalu menunjukkan jalan terbaik untuk kita, hanya mungkin awalnya akan terasa agak pahit. dan, membiarkan semua kenangan tetap sebagai kenangan di titik yang indah adalah langkah yang baik, aku juga gitu kok.... :)