Saturday, June 2, 2007

Salah Siapa?

Suatu malam,
depan Budaya Jawa Tengah (TBJT)
saya dan suami baru saya pulang dari tempat kerja
sedikit melepas lelah, sebelum menuju tempat kerja berikutnya
kami mencuri waktu untuk makan malam berdua
saya memesan udang masak sementara suami memilih ayam goreng.
Sembari menunggu pesanan, kami saling bercerita tentang kepadatan kegiatan masing-masing
Suami saya memang tengah disibukkan dengan persiapan pementasan beberapa bulan ke depan
Aktivitas sebagai pekerja seni adalah hal yang paling diminatinya
Tak lama berselang pesanan datang, kami pun mulai makan, maklum siang tadi sama-sama belum sempat mengisi perut. Belum sampai tiga suapan, muncullah seombongan anak muda, usaianya saya taksir sekitar 17-21 tahunan, mengamen. Genjrang genjreng tak jelas lagunya.
Saya tidak punya uang kecil, suami saya merogoh sakunya.
Mereka berlalu...
Sekitar 10 menit kemudian muncul lagi 5 orang pemuda lagi. badannya tegap, mengamen lagi...
saya tak mampu menahan mulut saya untuk berucap, " Mas, kalian tahu cari uang memang tak mudah tapi untuk seusia kalian sebenarnya masih banyak hal yang masih bisa dikerjakan asal kalian mau berusaha" kata saya yang mulai kesal, karena acara makan jadi tidak nyaman lagi.
suami saya menengahi dengan memberikan recehan berikutnya.
Ingatan saya melayang pada Bapak dan Ibu saya, yang masih berusaha mencari uang demi eksistensi dirinya dengan menjual bunga-bungaan dalam pot.
Benak saya melayang kepada Bapak dan Ibu mertua saya yang masih saja berjualan keliling ke rumah-rumah kost sekitar kampus UNS untuk menawarkan sarapan ataupun gorengan. Meski sebenarnya kami, anak-anaknya dapat memberikan lebih dari apa yang mereka hasilkan.
Tapi mereka mengatakan bahwa apa yang dikerjakan bukan untuk uang, tapi untuk menunjukkan bahwa mereka masih mampu menghasilkan.
Saya sedih dengan pemuda-pemuda pengamen itu, akan menjadi apa kelak nasib bangsa ini jika para pemudanya menjadi tidak gigih lagi berusaha..
apa dinas sosial, dinas pekerjaan umum juga menyadari keberadaan mereka?
semakin pusing saya....
Dan suami saya menyadarkan saya
untuk segera pergi, melanjutkan ke pekerjaan selanjutnya
sampai malam nanti..........

:apa mereka juga menyadari, bahwa untuk sekedar mencari sekeping rupiah memang harus dibutuhkan pengorbanan, waktu, tenaga ataupun pikiran?

2 comments:

Diva said...

Haloo. May, makasih kunjungannya, oya kalau boleh tahu pembelajaran yang bagimana ya, apakah sebagai bahan ajar atau, apakah bisa di jelaskan ke Diva, makasih sebelumnya.

Anonymous said...

dengan mengamen itu, mereka menganggap sudah bekerja dan berusaha. Padahal dibanding yg beneran nyanyi, mereka yg asal-asalan jauh ebih banyak. Bawa rombongan banyak banget dg tujuan supaya duit yg didapat lbh banyak. *sigh*

btw, blog Pitas masih diupdate, cuma smtr ini mau isi blog satunya itu buat promosi kalau ngelamar jadi freelance writer ;)

makasih ya sdh mampir.

--durin--