Friday, July 6, 2007

Belajar Mendidik anak

Musim Libur telah tiba....

gitu kata para ponakan....
dan..... berbondong-bondonglah mereka datang ke tempat eyangnya...
sebagai "penunggu rumah" yang mesti jagain bapak sama ibu, yah.. pastilah saya yang disibukkan oleh mereka..
it's okey saya toh belum punya tanggungan apa-apa
malah kayak ada banyak hal baru yang dapat saya lakukan bersama mereka

Kemarin saya ajak mereka jalan-jalan ke supermarket, kebetulan kebutuhan di rumah pas lagi habis.
Dan dengan semena-mena keempat anak di bawah umur 8 tahun itu bersukaria di bagian makanan, main comot begitu saja, saya sebenarnya ndak keberatan juga. tapi kebiasaan orang tua mereka, kakak2 saya saat belanja ini perlu saya luruskan.

" kok banyak banget, buat apa jajanan sebanyak ini?"
"Bulik, ini kan buat dimakan di rumah nanti...."
"Di rumah kan banyak makanan, jajanan bekal dari mama papa juga masih bayak kan?"
"Ya, ini untuk besok-besok tante"
"Tapi tiap hari kan bulik bikin makanan, kue, puding?"
"Ya,...... ibu biasanya boleh kok...."
yang lain ikutan yahut..
"Iya, papa juga biasanya boleh nTe...."
"Ini bukan masalah boleh ndak boleh...."
"Kalo kalian di sini, kalian ikut aturannya Tante, makanan dibeli seperlunya saja, kalau banyak makanan di rumah ndak usah jajan, kan sayang makanan yang dirumah ndak ada yang makan...."
"Mubadzir itu dosa, temennya setan"
Mereka pun menurut...

Tapi sesampainya di rumah mereka pada lapor ke orang tuanya masing-masing...
Kakak saya pun menanggapi,
kok nggak boleh, emangnya mereka jajan habis berapa?
Bukan masalah itu, kalau setiap keinginan dituruti kan ndak baik juga, kata saya
toh, mereka juga sesekali dibelikan.

Ternyata kakak saya, dan hampir keempatnya semua punya pikiran sama, termasuk suaminya...
mereka merasa waktu kecil dulu tidak dapat mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan, nah sekarang mereka tak ingin anak-anak mereka mengalami nasib yang sama...

apa iya musti begitu ya?
Kok rata-rata jawaban mereka seperti itu?

Wah, kalau menurut saya, tidak musti seperti itu.
bagi saya hal semacam itu malah akan membuat anak menjadi semakin manja, dan suatu saat ketika keinginan mereka tak terpenuhi akan membuat mereka jadi ngambek...

"Wah, kamu belum punya anak sih!"

Kalau kalimat ini keluar saya biasanya diam....

Tapi tidak kali ini:

"saya memang belum punya anak, terus kenapa?"
"kalau kalian tidak setuju, silakan bawa mereka pulang..."
"kalau masih diijinkan berlibur di sini, berarti kakak2 sekalian percaya kan sama saya?"

pada akhirnya, mereka toh merelakan, lagian anak2nya di sini juga mau-mau aja ikut aturan saya,
toh alasannya dapat diterima oleh mereka.
saya tidak pernah asal melarang.
bagi anak-anak memang "alasan" itu harus jelas, saat mereka tidak boleh melakukan sesuatu, atau harus melakukan sesuatu..

yang jelas mereka menikmati liburannya...
tentu saja,
seperti siang ini
kami akan ke pasar gede, belanja ikan...
setelah kemarin seharian membersihkan kolam yang lama terbengkalai.....

senangnya....
meski tidak naik mobil mewah seperti kebiasannya, mesti harus berjubel dalam bis kota
mereka riang sekali...



11 comments:

mpokb said...

my place, my rule. hehe, mantap juga prinsip si tante ;)

venus said...

hahaha...tantenya galak beneeerrr...:D

firman firdaus said...

ya. saya setuju. menuruti semua kemauan anak sama saja menabur benih bagi tumbuhnya anak-anak manja dan otoriter.

yati said...

Top! pelajaran yang bagus :) Belum punya anak bukan berarti ga tau apa2

ma kasih udah mampir :)

ciplok said...

aah setujuuuuuuuu

CempLuk said...

pelajaran yg sangat berharga :)

az&fa said...

rasanya memang sangat penting untuk punya idealisme-idealisme yang ada dalam diri kita menyangkut pendidikan anak sebelum kita punya anak...
karena kalau kita punya anak nanti... akan banyak tarik-menarik yang kadang-kadang sampai mengorbankan idealisme kita...seperti cerita mas agung disini

kalau kita tidak punya idealisme2 itu... mugkin kita hanya jadi kapas yang ikut angin kekiri dan kekanan...

ghilman said...

Liburanku udah mau abis.aku smpnya di madania lagi tante

Anonymous said...

setuju banget May. Nanti jadi susah sendiri kalo ngga dilatih dari sekarang. Belajar membedakan antara 'ingin' dan 'butuh' ;)

--durin--

axal said...

aturan siapa. kita bisa bikin aturan yahh.., menisbikan aturan yang berlaku sebelumnya. kita punya tempat dan memahkotakan aturan. Bukannya aturan buah dari timbangan manfaat dan mudharat...kenapa itu tidak kita logika-kan kepada anak-anak kita

Sigit Nursetyadi said...

Bulik, liburan depan ni ponakan tak titipin lagi yach? :D