Monday, October 29, 2007

Cepat Sembuh ya Mam...............

Ya... Cepat sembuh ya Mami sayang...
Melihatmu terbaring dengan banyak selang infus yang menjuntai membuat perih di hati

Masih banyak cerita hidup yang ingin saya sampaikan padamu
yang dengan setia mendengarkan
yang selalu memiliki seribu satu cara untuk menawarkan luka, perih dan lara
masih banyak bumbu masakan yang saya belum hapal benar jenisnya
masih banyak nasihat dan tanya yang ingin saya sampaikan
tentang bagaimana menjaga diri,
bagaimana menjaga rumah tangga,
bagaimana melayani suami
dan bagaimana menghadapai anak (ketika saya memilikinya nanti)
masih banyak dan banyak lagi
dan saya juga masih ingin berbagi canda dan tawa
kala kelelahan menerpa kita, saat tiba-tiba kita terjebak dalam rumah yang terkunci dari luar

Mam....
semoga Allah SWT mendengar doa kami
untuk segera mengembalikanmu pada kami
karena kami, anak, cucu dan menantu
masih sangat merindukanmu
dan menyayangimu...

Ya ROBB, YA RAHMAAN YA RAHIIM
sembuhkanlah Ibu kami tercinta...
karena kami masih membutuhkan sentuhan sayang-MU
yang turun dari belai lembutnya,
kami masih membutuhkan hangat-MU
yang turun lewat hangat senyumnya...

Kabulkan pinta kecil kami
mingkin tidak pantas kami meminta lebih banyak lagi
setelah semua nikmat yang kau berikan bertubi-tubi
tapi kabulkanlah yag satu ini..

AMIN....

Tuesday, October 23, 2007

Pagi yang Kemarin

Pagi yang kemarin itu,
bukan lagi milik kita
Pagi yang kemarin itu,
telah berlalu dalam waktu
terhembus angin yang kembara
di galau keringnya cuaca
menjadi debu yang tersia
Pagi yang kemarin itu
menggoreskan sebuah kisah akan senja
yang terharap melewat langkah kita
mengiring kereta kehidupan,
melanglang waktu yang menanti di depan
Namun kemudian
siapa yang menduga datangnya aral?
ketika gelombang prahara menghempaskannya ke batu karang
melewat masa kelam
menghilang........................
menjadi sejarah
dan pagi yang kemarin itu
punahlah sudah
berlalu menjauh
dan semakin jauh......



(catatan perjalanan 10 tahun yang lalu)

Tuesday, October 2, 2007

Mengenang Masa Lalu

Untuk seorang kawan:

"Tak Sepadan"

(Chairil Anwar)

"Begini nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara bagai Ahasveros
Dikutuksumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu jua pintu terbuka
Baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka"


Sepertinya puisi ini tak lagi berlaku bagi kita.....
akhirnya kau temukan juga sesorang yang terbaik bagimu
semoga bahagia hingga akhir masa