Tuesday, December 18, 2007

Cerita tentang Mimpi

Namanya Halintar,
tapi saya lebih suka memanggilnya petir atau halilintar.
Terlahir dari kelurga yang cukup berada, namun saat kedua orang tuanya sudah cukup umur dan kedua kakaknya sudah terlalu dewasa untuk menerima kelahirannya. Namun tetap saja disambut dengan keceriaan dan kemanjaan yang luar biasa.
Seiring berkembangnya waktu, keluarga itu menyadari ada "sesuatu" yang berbeda dengan anak lelaki bungsunya. ia berkembang dengan sangat lambat. Kemampuan menalarnya sangan lemah sekali. Akhirnya ia didibawa ke seorang therapist, yang menganjurkan mereka untuk memasukkan anak tersebut ke Sekolah Luar Biasa.
Belum sempat kedua orang tuanya mengambil keputusan, mereka dikejutkan oleh kenyataan bahwa pada suatu hari anak tersebut memainkan batang sapu lidi dengan tangannya dan menirukan seorang dalang membawakan wayangnya, begitu runtut, begitu jelas, sementara tak sekalipun ada dongeng wayang yang diceritakan kepadanya, tak sekalipun ia menonton atau mendengar siaran tentang wayang. Ada secercah sinar terang di wajah Romo yang bijak, beliau tidak bersedia menuruti keinginan therapist tersebut. Dibelikannya buku-buku tentang wayang, yang segera dilalap habis olehnya. Bahkan sampai seperangkat wayang dan pakeliran disediakan untuknya. Dan ia berlatih dengan giat.

Di sekolah, tidak banyak kemajuan yang didapat. Sudah banyak guru yang didatangkan untuknya, namun satu demi satu memilih mundur. Jika kemudian secara kebetulan saya tanpa sengaja diminta untuk memberikan privat padanya, adalah sesuatu yang di luar dugaan. karena ia merasa nyaman dengan saya. Saya tak pernah memaksa. bahkan ketika saya cobakan soal matematika, dan ditengan jalan ia ngotot mau belajar bahasa jawa, saya ikuti semua kemauannya.

Darinya saya belajar banyak tentang wayang, seni tari, karawitan. Ingatan saya melayang saat saya SMP dulu, saya sering mendapat marah dari guru kesenian karena tidak dapat membedakan kethuk dan kempyang. Namun dengan Halin saya bisa mengerti apa bedanya, bagaimana cara memukulnya. Seandainya saya dapat memutar waktu kembali ke masa itu. Saya tersenyum sendiri karenanya.

Dan kini ia sudah di kelas 3 SMP hampir 4 tahun sudah kami belajar bersama, ia bisa naik dengan kondisi dalam batas akhir nilai yang ditentukan untuk kenaikan. Orang tuanya masih bisa tersenyum.
Dan sekarang ujian sudah diambang pintu, saya kerahkan segenap kemampuan yang ada..
banyak doa dari seluruh keluarga.. Saya juga tidak tahu akan seperti apa nantinya

Namun semalam saya dibuat tertegun oleh pertanyaannya.

"Mbak cita-citaku jane sederhana lho, pengin dadi dalang, pangrawit utawa penari"
"Jane aku penginne mung mlebu SMK 8 terus neng ISI, tapi ngopo yo Mbak, aku ndadak kudu lulus matematika, elektro, fisika. Jan-jane aku ra nyandak karo pelajarene ki, mbak"

saya termenung dibuatnya, ya..
Mengapa sistem pendidikan kita masih saja menyudutkan mereka yang lemah?
Seandainya di tingkat lanjutan anak2 itu hanya boleh memilih pelajaran apapun yang disukai dan diminatinya pasti otak mereka akan berkembang dengan baik, dan bukan karena terpaksa. Dan kemudian akan banyak sekali bermunculan ahli-ahli di bidangbnya yang kreatif dan inovatif. karena mereka dirangsang untuk terus berkembang sesuai bakat dan minat. Sekali lagi bukan karena terpaksa.

saya yakin banyak sekali halinta-halintar lain di muka bumi pertiwi ini, seandainya kita bisa sedikit berbenah.....

6 comments:

mpokb said...

kadang gelar sarjana atau ijazah itu nggak ada kaitan dengan berkarya atau mata pencaharian. sayang sekali kalau nanti perhatian si halilintar teralihkan, padahal dia sudah punya satu minat di bidang tertentu..

ciplok said...

itulah kenapa dulu saya juga pernah bercita-cita ingin jadi guru. dan juga hingga hari ini.

-Fitri Mohan- said...

sayang sekali kalau sampai dia tidak meneruskan apa yang dia inginkan. moga2 kesampaian apa yang dia mau ya.

Hedi said...

kenapa ga keluar dari sekolah dan beli ijazah aja, toh cuma buat syarat masuk ISI aja kan...apa boleh buat, sistem yang ada begitu.

de said...

Halintar hebat..tapi kasian kalo dia gagal cuma karena nilai

axal said...

apa perlu dibikin strata paket pendidikan kayak paket-paket di mcdonald itu...
paket pinter tapi hyperaktif
paket pinter dan atlet
paket bodoh tapi nyeni
paket biasa-biasa aja, gak nyombong, tidak menghibur blas