Saturday, January 19, 2008

Kisah

"....rumah kita tak luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya
untuk kau dan aku, cukuplah...."

Sudah cukup lama sekali sejak saya menemukan bait puisi di atas
enam, tujuh, delapan... ah ya tujuh tahun yang lalu
di tumpukan buku tua di pojok perpustakaan kampus
saat bunga-bunga kuning berguguran menghampar di jalanan
saya juga sudah lupa siapa penyairnya, namun cukup membuatku terkesima
lama..........
jalinan katanya tertaut indah, saya membayangkan ada sebuah rumah untuk jiwa saya kala itu
tapi tak tertangkap apapun
kemudia datanglah sosokmu yang tegap, besar
dengan rambut panjang sebahu
tiba-tiba duduk di depanku dan menarik buku yang tengah ku baca
aku :"maaf, saya sedang membacanya"
kamu : "hm, bagus juga seleramu"
dan kemudian kamu berlalu
begitu saja

mengingatnya saja membuat banyak tanya
dan sekarang kita bahkan bisa berbincang bersama
menuliskan syair-syair tanpa rima berdua saja
di tengah hujan
di kerjab gemintang

: ".... adalah jiwa yang mengisi kekosongan
tempat gelisah dan keluh kesah diredakan
tempat tertambatnya perahu
tempat istirah yang indah
berlantai kasih
bertirai cinta
beratap sayang yang mesra...."

begitu kira-kira rumah bagi kita...

7 comments:

ndahdien said...

oohhh... so sweattttt.... jadi mupeng menempati rumah itu juga.. tempat gelisah dan keluh kesah diredakan;(

mpokb said...

cantik bener ni postingan.. *mengangkat topi*
syair2 tanpa rima, ah.. :)

Urip Herdiman Kambali said...

May, pa kabar? Eh, waktu Bengawan Solo kemarin ngamuk, rumah kamu gak papa kan? Soal buku cara menulis, gue rasa kamu perlu punya. Coba cari di kota kamu bukunya Asep Sambodja, judulnya "Cara Mudah Menulis Fiksi", terbitan WWS, Jakarta. Mungkin bisa membantu kamu untuk menulis lebih baik.

venus said...

udah boyongan? alhamdulillaahhh..

ciplok said...

aih.....aih........manisnyaaaaa........pengeeeeeeeen......

Dhona said...

Duh rumahnya indah banget ya? So sweet. Semoga rumahku juga bisa seindah ini ya..

mar said...

so deep,...so sweet,...