Saturday, April 26, 2008

Sekilas tentang Hardiknas

Sabtu pagi, seperti Sabtu-sabtu yang lainnya, kami mengadakan rapat. Awalnya, saya tidak terlalu menaruh perhatian apa-apa. Saya malah sibuk mencoret-coret kertas gak penting. Namun tiba-tiba susana kok menjadi tidak enak. Saya mulai menyimak. Ada pertentangan. Oh, teman-teman tengah membicarakan tentang upacara Hari Pendidikan Nasional yang akan diadakan besok tanggal 2 Mei. Ada teman yang menghendaki memakai pakaian yang berbeda. bapak-bapak mau pakai jas, dan ibu-ibu diminta memakai kebaya. Beberapa teman perempuan saya protes, karena mereka mesti mengajar, naik turun tangga. Belum lagi repotnya naik motor memakai kain. Kata seorang teman, ini kan acaranya "menjual", kita bisa dapat publikasi banyak dan seterusnya, dan sebagainya. Saya mulai menegakkan duduk saya. Wah saya semakin ramai saja perdebatannya.
Saya tak berniat memberi solusi. Tapi saya juga tak bisa hanya diam mendengarkan perdebatan yang tidak bermutu menurut saya. Saya angkat jari. tanpa diminta saya tanyakan kepada mereka. Apa sih essensi dari upacara itu sendiri? Memperingati hari pendidikan nasional kan? Jangan-jangan karena terlalu glamournya kita, dan hebatnya pemberitaan tentang kita, masing-masing dari kita tak mendapat makna dari hardiknas itu sendiri. Benarkah kita sudah "mendidik" dengan benar? Apa yang sudah kita lakukan untuk dunia pendidikan negeri ini? Bagaimana memberikan pengertian tentang hardiknas kepada anak-anak didik kita. Buat apa, kalau hanya ada dalam pemberitaan dan pakaian saja Saya bukan mau sok pintar atau menggurui. Saya justru ingin merenungkan dan memulai untuk lebih banyak lagi belajar.
semua terdiam kemudian. Mungkin benak mereka bilang siape lu, anak kemarin sore juga.
Mungkin lebih banyak lagi yang tercengang, karena saya bukan yang suka banyak usul dalam rapat. Keputusan akhirnya adalah ibu-ibu boleh pakai baju batik bebas. Tidak mesti kain dan kebaya. Rapat bubar. Tapi saya masih tercenung di ruang rapat. Saya teringat pembicaraan dengan seorang rekan kemarin sore. Ia bercerita tentang kasus tertangkapnya guru yang mengubah jawaban muridnya saat UNAS SMA. Guru SMA tersebut mengatakan bahwa mereka mengubah jawaban hanya karena ingin anak didiknya lulus dalam ujian tersebut.
Teman saya mengajak saya melihat dari sisi lain. "Jadi memang tugas guru itu mulia ya? Bahkan ketika berbuat kesalahan sekali pun ia hanya ingin anak didiknya mendapat hasil yang terbaik" ,ucapnya saat menyoroti kasus tersebut. Benarkah demikian? saya juga bukan guru yang baik. Karena saya sendiri pun tengah belajar dalam kehidupan ini. Tapi yang saya tahu proses itu lebih penting daripada hasil. Proses adalah membuat anak yang tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham, tidak bisa menjadi bisa. Dan pendidikan sendiri adalah sebuah proses belajar, baik bagi guru maupun muri itu sendiri. Dan yang jelas, teladan akan moral jauh lebih penting di atas segalanya. Selamat menyongsong Hari Pendidikan Nasional, semoga menjadi renungan bagi dunia pendidikan untuk menjadi lebih baik lagi.

Saturday, April 19, 2008

Senyum sang Mentari

Pagi ini semua terlihat biasa. Saat mood saya sedang bagus-bagusnya. Yang terlihat indah, selamanya akan selalu terlihat indah. Masalahnya, tidak setiap hari saya merasakan indahnya hari seperti ini. Hanya saja, matahari tidak selalu bersinar dengan cerah setiap harinya di dalam diri saya. Pada saat itu saya akan merasakan aura kelam meliputi diri saya. Saya merasakannya. Maka saat saya terlihat sedang bersinar seperti matahari. Orang-orang di sekitar saya akan ketakutan dan merasa tidak nyaman. saya hanya tersenyum saja menanggapinya. Di mana pun, kapanpun saya akan selalu menjadi saya. Tak peduli apa katamu, atau kata mereka. Yang penting saya nyaman. Ya, itu saja. Egois? Boleh kau bilang begitu. Tapi yang jelas, saya tak pernah merugikan kamu ataupun orang lain. Dan jangan pengaruhi saya dengan berbagai macam hal itu. sebab saya sedang SENANG. Dan mentari tengah singgah di diri saya.

Monday, April 14, 2008

Saya memang bukan siapa-siapa, sejak awal. Bahkan sampai sekarang sekali pun, saya hanya seorang maya. Ketika kemudian mereka harus tahu bahwa saya bisa menulis, pasti hanya suatu kebetulan saja. Maka ketika beberapa hari yang lalu saya diberi kepercayaan dengan tiba-tiba untuk mengantarkan siswa mengikuti lomba penulisan dan pembacaan puisi di tingkat kota, seorang teman menghampiri saya.
Dia : Jadi njenengan mau ya, jadi pembimbing anak itu?
Saya : Iya
Dia : Sudah mulai pembimbingannya?
Saya : Sudah, vokalnya masih kalah jauh dibanding peserta lain. Saya mau memberi banyak
latihan vokal. Selain itu kemampuan mengikat makna dalam suatu tema, juga belum
begitu dikuasainya
Dia : Loh, emang sudah dapat surat tugasnya?
Saya : Maaf, ya Bagi saya surat tugas itu gak penting. Yang penting adalah apa yang saya bisa
berikan untuknya itu saja. Seandainya anak itu tak menang pun gak masalah. Yang
penting ilmunya sampai.
Dengan dongkol saya meninggalkannya begitu saja. Ya, selalu begitu. Setiap tugas baru selalu yang dipertanyakan adalah surat tugasnya mana? Begitu diberi surat tugas, ya pembimbingannya asal-asalan. Saya hanya ingin mempertanyakan. Di mana tanggung jawab moral sebagai seorang pendidik? Bukan berarti saya sudah bagus. saya hanya ingin selalu memperbaiki diri setiap detiknya. Jadi kalau memang tidak sependapat, it's OK. tapi maaf, jangan ajak saya berdiskusi tentang masalah gak penting. Lebih baik memberikan apa yang kita bisa kepada anak-anak. selagi masih ada waktu dan kesempatan.

Monday, April 7, 2008

Hari Minggu yang Melelahkan

Alhamdulillah, akhirnya cerpennya sudah selesai, tinggal dikasih ke ilustratornya. Beres satu kerjaan. Buku pelajaran pesanan teman pun sudah selesai 2, tinggal 5 lagi. Hum.. tapi dua hari yang lalu ditambah untuk membuat edisi revisi, berarti gak berkurang dong ya, malahan nambah.
Karena mas budi juga sedang sibuk latihan untuk pementasan Teater Gapit, ditamnag Jum'at - Minggu beliau mbantuin kemah Penyanyi jalanan-nya Mas Cunong CS, jadi saya habiskan hari-hari untuk nglembur kerjaan saya. Lah, hari Minggu rasanya perfect banget untuk refreshing, saya sudah merencanakan jauh-jauh hari sejak saya tahu kegiatan mas Budi di Hari Jum'at-Minggu. Saya merencanakan untuk nyalon atau wisata kuliner dengan mbak Dewi, ipar saya. Nah, kemarin pagi-pagi benar saya udah masak, sengaja masak lodeh tahu sama tempe biar cepet hi..hi... gak perlu waktu sampai setengah jam, sudah mateng. Terus sebentar kemudian murid les saya datang, saya temani dia belajar sampai jam 08.30 kemudian dia pulang.
Selesai mandi, saya hendak ganti baju, eh.. mas budi melarang saya masuk kamar.
Gag tahunya beliau sibuk bersih-bersih kamar, secara sejak saya lembur kamar berantakan sekali. Buku-buku bertebaran di sana-sini, bungkus-bungkus air mineral dan cemilan juga sudah menumpuk di pojok belum sempat membuang sampah.
Yah, gagal deh acara refreshing saya, pas beliau saya tanya kok gak ke acara lagi. Beliau menjawab, bagiannya sudah selesai. Yah jadinya kami bersih-bersih seluruh rumah akhirnya.
Menjelang maghrib acara itu baru selesai, Malamnya cuapeeekkk sekali. Ye... kagak jadi refreshing deh gue..

Thursday, April 3, 2008

Aku Menunggumu

Aku menunggumu
Aku menunggumu di batas penantianku.
Lebih dari seratus tahun berlalu
sejak kepergianmu
Ke mana mesti melangkah
Mencarimu
Sedangkan bumi sudah kujelajahi lebih dari sekali
Seandainya esok pagi ada matahari
Biarkan sinarnya merekahi hari
Sementara aku sendiri
Berkubangan mimpi sunyi
Hanya juka kau mau tahu
Aku di sini
Sendiri
Menunggumu