Monday, April 14, 2008

Saya memang bukan siapa-siapa, sejak awal. Bahkan sampai sekarang sekali pun, saya hanya seorang maya. Ketika kemudian mereka harus tahu bahwa saya bisa menulis, pasti hanya suatu kebetulan saja. Maka ketika beberapa hari yang lalu saya diberi kepercayaan dengan tiba-tiba untuk mengantarkan siswa mengikuti lomba penulisan dan pembacaan puisi di tingkat kota, seorang teman menghampiri saya.
Dia : Jadi njenengan mau ya, jadi pembimbing anak itu?
Saya : Iya
Dia : Sudah mulai pembimbingannya?
Saya : Sudah, vokalnya masih kalah jauh dibanding peserta lain. Saya mau memberi banyak
latihan vokal. Selain itu kemampuan mengikat makna dalam suatu tema, juga belum
begitu dikuasainya
Dia : Loh, emang sudah dapat surat tugasnya?
Saya : Maaf, ya Bagi saya surat tugas itu gak penting. Yang penting adalah apa yang saya bisa
berikan untuknya itu saja. Seandainya anak itu tak menang pun gak masalah. Yang
penting ilmunya sampai.
Dengan dongkol saya meninggalkannya begitu saja. Ya, selalu begitu. Setiap tugas baru selalu yang dipertanyakan adalah surat tugasnya mana? Begitu diberi surat tugas, ya pembimbingannya asal-asalan. Saya hanya ingin mempertanyakan. Di mana tanggung jawab moral sebagai seorang pendidik? Bukan berarti saya sudah bagus. saya hanya ingin selalu memperbaiki diri setiap detiknya. Jadi kalau memang tidak sependapat, it's OK. tapi maaf, jangan ajak saya berdiskusi tentang masalah gak penting. Lebih baik memberikan apa yang kita bisa kepada anak-anak. selagi masih ada waktu dan kesempatan.

10 comments:

venus said...

ah, mulia sekali....

bener juga ya, may. apa artinya selembar surat tugas kalo passionnya gak ada ya?

ebeSS said...

Saya memang bukan siapa-siapa . .
lho . . . lha maya itu siapa . . .
waaa . . kok diri sendiri ga diakui . . . . :P

mpokb said...

jeng may, si dia itu mungkin kurang cocok jadi pendidik.. cocoknya jadi birokrat.. ;)

Anonymous said...

bener banget, May. Jangan sampai formalitas menghambat keikhlasan kita (apalagi sudah diformalisasi, eh ngasih ilmunya ngga ikhlas). Semoga banyak pendidik yang hatinya benar-benar mendidik begini. Salut!

--durin--

Urip Herdiman Kambali said...

Oh, si May bisa galak juga ya?

crushdew said...

mbak, tetep salute!!!

Urip Herdiman Kambali said...

Ah, si May bisa galak juga? Selamat galak deh...:-)

wkurniawan said...

mau donk jadi murid...

neng said...

bener mbak... birokrasi tuh menghambat banget...

yati said...

salut mbak :)
heran juga, sekarang itu apa2 formal2an, padahal ga ada isinya. ngomong doang.