Tuesday, May 27, 2008

KISAH

Minggu terakhir bulkan April, seorang teman datang kepada saya. Saya tak pernah bertanya. Hanya saya melihat ada aura abu-abu di sekeliling tubuhnya. Saya bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia bercerita tentanmg gangguan flu yang menimpanya. Tapi saya sempat melihat bening di ujung matanya.
Saya selalu tak kuasa melihat air mata, di manapun, saya selalu ikut menitikkannya tiap kali melihat seseorang melakukannya. Waktu itu juga.
“Kenapa Mbak May menangis?”, tanyanya
“Karena kamu menangis”, jawab saya.
Lalu berceritalah ia tentang ibunya, yang terbaring lemah di Surabaya sana. Selepas kecelakaan mobil yang menimbulkan luka baker di sekujur tubuhnya. Namun ia katakana bahwa ibunya baik-baik saja. Saya tidak menyadarinya dengan sangat.
Lebih dari dua minggu kemudian, sekitar pertengahan bulan Mei, saya tanyakan keadaan ibunya.
Doakan saja ya, Mbak. Begitu jawabnya.
Selalu, jawab saya kala itu.
Saya memang kurang peka.
Tiba-tiba saya merasa bersalah pada diri sendiri. Ternyata ia memang tak pernah bercerita kepada siapa saja selain saya di sini, di tempat kerja ini.
Padahal saya bukanlah teman dekatnya, bahkan sahabatnya tak pernah tahu cerita ini, partnernya mengajar di kelas juga.
Benarkah cara saya menjaga amanah ini? Tanya saya pada diri sendiri. Sudah menjadi kebiasaan di tempat kami bekerja untuk saling meringankan penderitaan dan beban. Namun dari awal ia tidak ingin saya bercerita kepada siapapun. Dan saya bingung karenanya. Kebetulan banyak sekali kegiatan yang membuat saya lupa pada urusan teman yang satu ini.
Senin, pagi tadi, saya tanyakan lagi keadaan ibunya.
Sekali lagi ia jawab: Doakan saja ya, Mbak.
Dan ketika saya mencoba mencari tahu lebih jauh, ia diam saja sambil menggelengkan kepala.
Saya paham, ia tak ingin saya tanyai lagi.
Saya akan selalu mendoakannya, saya rengkuh bahunya.
Tapi itu pula yang membuat hati saya merasa mantap, untuk memberitahukan kjepada teman-teman.
Langkah saya, saya cari seorang Bapak Guru yang sangat saya hormati, sambil menanyakan salahkah saya jika saya memberitahukan pada yang lain, apakah saya sudah menjadi seorang yang tidak menjaga amanah?
Beliau tersenyum. Dalam kasus ini jauh lebih baik jika diberitahukan pada yang lain, jawab beliau bijak.
Kemudian saya mencari partnernya mengajar di kelas, saya beritahukan pelan-pelan, kemudian sahabatnya, dan beberapa teman yang lain. Kemudian kami sepakat untuk membantu, sekedar meringankan beban dan mengirimkan doa.
Siangnya, sekitar pukul 12.25, ia berlari menuju ruang lab computer di lantai 3, tempat saya mengajar. Waktu itu saya tengah membantu dua teman saya mengajarkan tentang internet kepada siswa kelas 4.
Rekan saya yang ibunya sakit itu masuk, memeluk saya.
“Mbak, terima kasih doanya, ya. Baru saja saya ditelfon dari Surabaya, ibu sudah sadar. Bisa berkomunikasi>”, ada bening di sudut matanya, tapi bukan kesedihan.
“Jadi selama ini ibu koma?”, saya seperti tidak percaya.
“Pokoknya terima kasih”, senyumnya lagi.
“Aku mau sholat syukur dulu, aku senang sekali”, katanya sambil menunjukkan mukena birunya.
“Alhamdulillah”, bisik saya.
Sekali ini, air mata kembali jatuh menetes di pipi saya. Biarlah. Ini adalah tangis syukur pada-NYA.
Semoga ibu di Surabaya sana segera pulih, sehat dan dapat kembali kepada keluarganya.


Buat seorang teman : Yang sabar ya? Allah selalau ada bersama orang-orang yang sabar

6 comments:

siwoer said...

moga2 cepet sembuh ibunya temen. salam aja ke dia. *kapan kenalnya? :D*

Urip Herdiman Kambali said...

May,

Gue nangis juga neeh, sama seperti waktu Adipati Karna gugur. Hiks...

MAY'S said...

@UHK : Karna gugur untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan

mpokb said...

datangnya mukjizat sering tidak disangka2 yak.. semoga sang ibunda sabar dan segera pulih..

ndahdien said...

subhanallah... ketika semua jalan seolah trtutup hanya Kebesaran Tuhan yang mampu mewujudkan setiap untaian do'a yang qt panjatkan. semoga ibunda temen mb'may cepet pulih...

MAY'S said...

@mpok B & Ndahdien : AMIN