Monday, June 30, 2008

My Perfect Weekend

Hari Jum'at ada acara Rapat Kerja di RM Taman Sari yang terletak di Jl. adisucipto. Agak was-was juga, mana pagi sampai malam dan saya mesti bawa motor sendiri, karena Mas Budi lagi pentas teater di TBJT. Tapi alhamdulillah, saya bisa nyeberang jalan setelah didorong teman saya he..he...
Selesai Raker sampai jam 9-an, saya langsung ke Taman budaya, tapi gak bisa masuk ke Teater Arena, 'cause udah mulai dari jam 8-an. Ya udah. Karena capek, dengan cueknya saya selonjorkan badan di pendopo. Hm... sempat tertidur sesaat. Kemudian Mas Budi membangunkan saya, tepat jam 11 malam. Dan kita pulang bareng.
Sabtunya, bangun siang-siang trus masak sayur asem dan goreng kakap. Habis masak tidur lagi. Habis dhuhur, ditelpon teman, diajak ke Pasar Klewer, nyari batik sampai jam 3. Jalanan lumayan crowded, maklum musim libur. sampai rumah udah ditunggu mas Budi, saya nganterin pake motor ke Taman Budaya lagi. Iya, pementasan Teater Bahasa Jawa berlabel "TUK", karya (alm) Mas Kenthut itu emang berlangsung dari Kamis-Sabtu. Karena motor mau saya bawa, ya saya yang nganter mas Budi.
Malamnya, saya akhirnya bisa ikutan nonton juga. Hm.... sayang sebenarnya, saya cuma nonton satu hari itu. Lumayan bagus kekuatan aktor-aktor senior macem Mas pelog, Mas Jarot, mbak Inonk, Mbak Cempluk de el- el, juga iringan musik yang digawangi Pak Yayat juga cukup menghibur dan menghidupkan suasana. Asyik deh.
Saya dan mas Budi pulang jam 12.00, nongkrong bentar di warung sate dekat palang palur. trus pulang ke rumah.
Minggunya, habis subuh tidur lagi dan bangun siang. Saya males masak, trus kita jalan-jalan beli sayur lodeh dan tempe goreng. Siangnya Mas Budi musti nglatih monolog ke anak-anak Kampus, secara hari ini tanggal 30 malam nanti ada seleksi monolog. Ya, udah saya di rumah saja. Awalnya mau tidur, tapi matahari yang lumayan panas itu membuat saya bergairah (halah) untuk menjemur kasur, bersih-bersih kamar, sampai akhirnya ngepel seluruh kamar dan tiap bagian rumah. Sorenya jam 4-an saya trus setrika, habis setrika mandi, trus masukin kasur dan menata ulang kamar. Kemudian terkapar tak berdaya di kamar. Maghrib sholat, ngaji bentar dan lanjutin beberapa file naskah yang belum selesai. Sampai tertidur. Terbangun pada pukul 21.00 karena kecupan Mas Budi yang cukup mengagetkan. Kamipun kemudian makan malam, dan beliau melanjutkan menyelesaikan beberapa kerjaan yang dibawa pulang. Dan saya tidur lagi he..he...
Selamat Senin Pagi.....
Semoga harimu menyenangkan....

Thursday, June 19, 2008

Surat Kepada Teman

Kutulis surat ini di sini, karena aku tahu kamu tak mungkin membacanya. Jikapun sampai kau membacanya akan ada lebih banyak alasan untukmu menerima pilihanku. Aku tahu dan menegrti kapasitasku sebagai seorang maya. Hasil test kemarin sudah keluar, dan aku lolos. Tapi tetap saja ada yang janggal. Bukan, bukan berarti aku seorang pengecut. kamu sendiri mengerti, aku mampu menghadapi kenyataan yang paling pahit sekalipun. aku hanya merasa di mana lagi tempat seorang guru selain berada di antara murid-muridnya?
Bukan, bukan juga karena aku tidak concern dengan dunia pendidikan. Namun bukankah sedari awal sudah kusampaikan, bahwa banyak cara yang bisa dilakukan untuk dunia pendidikan selain menjadi pemikir dan motivator, aku lebih merasa "hidup" ketika menjadi pelaksana. Bukan obyek, karena kita tidak sedang bicara tentang subyek atau obyek. Aku merasa memiliki nafas ketika berada di ruang kelas, bukan ruang konferensi. Menghadapi anak-anak, bukan guru mereka. Karena siapa yang akan berada di antara anak-anak ketika semua melangkah ke sana? Bukankah pohon memiliki tiap bagian-bagiannya? Tidaklah semua menjadi bauh atau bunga, namun harus ada akar, batang dan daunnya. Ku tutup surat ini dengan sebuah puisi yang kupinjam dari Taufik Ismail :

KERENDAHAN HATI
(Taufik Ismail)
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput,
tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya....
Bukan besar kecilnya tugas
yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu....
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri


Monday, June 16, 2008

Purnama

Rembulan di genggam tanganku
Kupersembahkan seutuhnya untukmu

Wednesday, June 11, 2008

Hakikat Sebuah Peran

Sejak dua minggu lalu ada sebuah pertanyaan yang mampir di kepala saya. Saat saya menerima sebuah undangan untuk mengikuti seleksi TOT (Taraing For Trainer) di Intitusi tempat saya mengajar. Bukan hanya saya yang heran, banyak orang di sekitar saya yang juga mempertanyakan. Bagaimana mungkin nama saya bisa masuk dalam daftar 41 orang yang terpilih dari sekitar dua ratus orang yang terdaftar di institusi tersebut. Tapi di manapun, kapanpun pasti ada pihak-pihak yang tak terpuaskan. But it's ok, that's life.
Dan dalam waktu tiga hari yang lalu diadakan test, mulai dari kemampuan bahasa Inggris, kemampuan interpersonal, kemampuan berbicara, dan macam-macam lagi. Hasilnya nanti masih akan diseleksi lagi menjadi 20-an orang.
saya bukan termasuk orang yang ambisius untuk mengikuti hal tersebut. Makanya, ketika saya diwawancara kemarin, saya menyatakan keberatan. Karena saya tidak bisa membayangkan, jika seorang guru menjadi trainer di bidang pendidikan, dan harus meninggalkan pekerjaan. Tapi selalu saja, kata-kata saya dimentahkan. Whatever.
bagi saya dengan mengajar dan bertemu anak-anak adalah segalanya, memberikan sedikit yang saya punya, dan belajar lebih banyak lagi dari mereka. sangat memuaskan batin saya.
saya tidak ingin hal semacam itu menimbulkan konflik. Pada akhirnya, setiap orang mempunyai peran masing-masing yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Jadi maaf sekali, mungkin saya memang lebih baik berperan sebagaimana saya mestinya. Sebagaimana matahari yang senantiasa terbit di pagi hari, menyinari sepanjang hari. Dan harus terbenam di sore hari. Karena begitulah hakikat hidup bagi saya. Berusaha menjadi mentari, dan belajar menyinari setidaknya bagi hidup saya sendiri. Dan lebih indah lagi bila bisa memberi arti bagi yang lain.

Friday, June 6, 2008




WAKTU

Detik berlalu
Menit
Jam
Hari
Bulan
Tahun
Aku terbangun
dalam nafas yang masih
tertahan
30 tahun sudah
Kukecap manisnya dunia
Detik ini meresap usia
Bahwa akhirnya kita
Habis tertelan
Di dalamnya


Sebuah refleksi di penghujung hari

Mayssari, 6 Juni 2008

Tuesday, June 3, 2008

PENERIMAAN

(Cairil Anwar)

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk!
Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Monday, June 2, 2008

TEAR

.... I CAn live WiThOuT U
............. just DON'T W@nT to.............


: Terimakasih membuatku menangis