Tuesday, August 5, 2008

Teman

Suatu siang, di pertengahan bulan juli yang berangin. Seorang teman datang kepada saya. Ia, laki-laki, usianya tiga tahun di atas saya, perfeksionis. Awalnya ia hanya berbasa-basi tak penting, seperti apa kabarnya, bagaimana persiapan acaranya, ini, itu. Waktu itu kami di tengah-tengah acara penerimaan siswa baru.
Tapi tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan aneh.
Dia : Bu, suami Bu Maya itu kerjanya apa ya?
Saya : pekerja seni
Dia : seniman ya?
Saya : macem, itulah.
Dia : kalau gitu uangnya sedikit dong...
(Batin saya, emang uang lo banyak apa?)
Saya : kok bisa ngambil kesimpulan macem gitu? (saya mulai mencondongkan badan agak ke belakang. sambil menatap lurus matanya)
Dia : loh, lha kan kalau pas cuman pentas aja kan? dibayarnya?
(saya makin dongkol, ni orang maunya apaan sih? Secara dari dulu saya emang gak akrab sama dia)
Saya : suami saya ngajar freelance di beberapa lembaga pendidikan, guru honorer di sebuah sekolah swasta, pelatih ekskul di beberapa tempat, menulis, dan memiliki beberapa usaha percetakan kecil-kecilan dengan teman-temannya. So, kalau cuman uang, banyak Pak dia hasilkan.
Dia : Tapi kan statusnya tidak ada yang tetap
Saya : So what? saya belajar banyak dari suami saya. Bahwa baginya bekerja bukan hanya untuk mencari uang saja, melainkan kesenangan, kenyamanan dan ketenangan. apalah arti sebuah status. (saya sudah benar-benar berdiri)
Dia diam tercenung....
Saya lagi : Maaf ya, saya tahu benak sampeyan pasti berpikir, bagaimana seniman menghidupi keluarga bukan? jangan picik deh pak. Saya tahu njenengan suka menjaga jarak dengan beberapa teman, termasuk saya. Saya sendiri sebenarnya juga menikmati kerja di sini, tapi orang-orang macem sampeyan itu yang bikin susana jadi tidak tenang dan tidak nyaman lagi.
Dia : saya kan tidak tahu, kalau suami njenengan punya banyak sambilan lain
Saya : saya ngerti kok Pak. Ini masalah status kan? Bapak merasa gak imbang ngobrol dengan saya, atau suami saya tiap kali ada acara yang melibatkan keluarga? Hanya karena suami saya sorang seniman? Jangan menghindar, semua udah pada tahu kok. Seperti sikap sampeyan sama Bu A, Pak B, Bu C. Bukankah ALLAH tidak menilai kita berdasar status? Pernah njenengan memilih mau dilahirkan oleh siapa, untuk menjadi apa? (nada suara saya mulai merendah)
Dia : Eh... eh....
Saya : Nyatanya, suami saya berani menikah dengan saya, dan sedikitpun kami tidak pernah kekurangan alhamdulillah. Itu sudah cukup menunjukkan ia punya uang kan? Apa salahnya menjadi pekerja seni? (saya berdiri, berlalu meninggalkannya)

Percakapan itu sudah lama sekali berlalu. Tapi saya masih terus mengingatnya sampai sekarang. Sepicik itukah penilaian kita? saat kita akan berteman kita bertanya, apa kerja suamimu? Apa kerja istrimu? Berapa penghasilannya, kalau sedikit jangan jadi temanku ya? Kok ya masih ada orang model kayak gini di jaman ini. Tapi syukurlah masih lebih banyak lagi teman-teman kami yang benar-benar menilai kami sebagai diri yang seutuhnya, tanpa melihat embel-embel gelar, status, pangkat, pekerjaan.

Sudahlah......

Semoga saya, kamu, kita tidak termasuk orang yang suka mengelompokkan teman berdasar kekayaan...
Karena kekayaan sebenarnya adalah berapa banyak timbangan amal kita di akherat kelak.

27 comments:

Hedi said...

setuju, mbak...menilai orang kok dari hal kecil nan ga penting kayak gitu... :D

MAY'S said...

Iya, mas... untungnya saya masih punya teman kayak sampeyan ya :)

Urip Herdiman Kambali said...

May, kalau kesal begitu, tonjok saja dulu orang itu. Baru kemudian minta maaf.

Hehehe... Tokh, apa yang dia katakan lebih melukai dari sekadar sebuah tonjokan. Sabar ya Jeng...:-)

neng said...

di dalam keluarga besar , dulu saya sering ditanya, "emang kerja di LSM bisa hidup?"

mata said...

ya memang begitu jeung...
orang harta benda nyawa kita ini cuma titipan

MAY'S said...

@UHK : Gya..ha... ha.... bisa bayangin saya tonjok dia, pasti bisa sih... tapi saya lebih bermoral ketimbang dia kok Pak!

@neng : iya, nurutin kata orang emang gak ada habisnya. Saya sempet di LSM juga dulu, sebelum jadi guru...

@mata : iya :)

tito said...

saya memilih jadi seniman dan miskin.

Tapi setelah jadi seniman lebih banyak orang yang menghargai saya walaupun tak kenal.

Ya, kan, mbak?

Manik said...

Kira2 para selebritis kita ada gak yah yg seperti itu..??

MAY'S said...

@tito : seniman sablenk dek? Gimana kabar? Belum kaya juga kau??? Tak tunggu undanganmu lho....

@manik : gak tauk yah?.... saya bukan selebritis se....

mpokb said...

duh, kadang omongan orang memang lebih tajam daripada pisau, yak.. hmm.. untung non may kepala dingin.. :)

MAY'S said...

@ mpok B :iya, untung ya, pas saat itu, gak tau kalo lain waktu he..he...

ndahdien said...

kasian banget dengan orang-orang berpikiran picik seperti itu, mereka seperti katak dalam tempurung. kalo tempurung itu di tendang barulah sang katak tahu masih banyak yang lebih hebat dari dia. Ayoo aq ewangi nendang hehehe...

**kalo ada kesempatan maen ke solo insylh ngabarin deh, sapa tau qt trnyata punya temen yg sama "anas":D

MAY'S said...

@ndahdien: ayo.... tendang rame-rame... mentang-mentang doyan sama bola...
Iya.... kasih kabar, mungkin nama teman kita sama :"anas" meski orangnya beda sekalipun... he..he...

escoret said...

sebegitunya ya..????

*miris juga*

Balisugar said...

Hm postingan yang menarik, karena memang pada kenyataanya kebanyakan manusia selalu lebih menghargai orang lain dari status sosial.

Sedangkan wong cilik sepertinya tidak berarti sama sekali.

Luigi Pralangga said...

Neng,

Sabar yah.. gak semua orang itu bijak dalam bertutur kata dan jeli mata hatinya, jadi biasa dengan mudah ngoceh tanpa henti dan menyakiti perasaan..

Percaya kok bahwa tiap individu itu punya jatah rejekinya masing-masing, apapun label profesinya. Gusti Alloh maha adil, sing sabar yah.. insyalloh rejekinya gak putus dan barokah.

Biarkan si "radio butut" itu ngoceh sorangan, salam hangat dari afrika barat!

ciplok said...

Jawaban2 May bagus, semoga menohok dalam2 hati dan pikiran laki2 itu.

Hidup seniman!!!
Aku juga seniman, meski seniman kacrut May, hahahaha......

Miss u May!

st_hart said...

emang aneh, kenapa kekayaan, atribut tidak penting seperti itu jadi patokan untuk menilai orang.
eh, ada ga ya yang mau nikah sama blogger miskin ky saya? :D
salam kenal...

Anonymous said...

selalu ada hitam saat kita bicara warna putih..
pergilah ke kyai atau orang pintar
atau dukun putih,
kau melihat putih yang sebenarnya hitam..
kalau kau datang ke seniman,
kau melihat hitam ya hitam
kau lihat putih ya putih

Anonymous said...

memang mudah menjustifikasi
performa orang..
lebih enteng untuk menunjuk warna..
kebijaksanaan adalah bukan dengan meninggalkannya,
cukup dengan menggeser arah berdiri.

Ksatrio Mbojo Ireng said...

Umur, Rejeki dan Jodoh, itu adalah rahasia illahi.. :-) dansetiap orang punya jatahnya masing-masing selama ikhtiar dan upaya terus ditunaikan, insyallah Gusti Alloh Maha adil dan Maha pemurah.

Inget jaman dulu, pas divonis 'madesu' [Baca: MAse DEpan SUram] sama mantan karena status pekerjaan, akhirnya Gusti Alloh Maha adil, diaberikan kemudian kesempatan buat si kampret ini untuk membuktikan bahwa memvonis orang 'madesu' karena isi kantongnya [waktu itu] adalah salah besar :D

MAY'S said...

@escoret : iya, saya mirisnya kok ya ada, orang macem kek gitu
@balisugar: emang ada kok
@ciplok : Hidup seniman!! Miss u much!!
@st_hart : salam kenal balik ya?
@anonymous : yah... hidup ini memang penuh warna..
ksatrio mbojo ireng : iya, Gusti allah maha adil... :)

taliguci said...

walah.. masih ada toh orang kaya gitu? kalau saya ketemu orang kaya gitu? Mmm, ndak saya layani deh

novi said...

Setuju banget sama mbak....emang kita nggak boleh picik dalam menilai orang lain kok....toh kita berteman dengan individu nya bukan dengan harta,pangkat,jabatan or duitnya......ya kalo ternyata teman kita itu berpangkat, jabatan ok, tajir melintir,dll....anggaplah itu BONUS hahahahaha
Salam kenal yaaaa.....

MAY'S said...

@novi : salam kenal balik ya...

OpPie said...

Hmm, emang ginilah jaman skarang mbak may. Smua dihargai dengan uang..uang dan uang!! Jadinya temenan ama duit and statusnya, bukan ama orangnya. Jaman emang dah uedan mbak. Salam kenal..

MAY'S said...

@oppie : kenal balik ya...