Tuesday, September 16, 2008

TAHAJUD

Aku jatuh tersungkur
di pelukan dewi malam
berpeluh pendar purnama
sebinar cahya gemintang

kutangkap satu cahaya
saat angin mendzikirkan nama-NYA
dan angin malam bertasbih
atas nama alam raya
memuja-NYA

Aku tersungkur semakin dalam
kala awan putih bergumpal-gumpal
mengelilingi sinaran rembulan

Betapa lukisan-MU tak sebanding
dengan segala kefanaanku
lalu tangis pun tak terbendung lagi
semakin menjadi-jadi
saat mengeja nama-MU
di sela-sela dzikir malamku

Monday, September 8, 2008

Batas

di manakah batas tipis antara bangga dan sombong?
Entah. Saya belum pernah berjalan di antaranya. Suatu kali ada seorang teman yang sedemikian bangga akan keberhasilannya mencapai sesuatu. Semakin seringnya kebanggaannya itu digembar gemborkan di mana-mana hingga adayang memandangnya sebagai suatu kesombongan. Benarkah? Entah. Terkadang di saat saya mampu membuat sesuatu, misalkan saja saya berhasil menembus penerbit untuk naskah saya, biasanya saya selalu berusaha menyembunyikannya. Bukan apa-apa karena bagi saya itu bukan suatu pencapaian namun masih merupakan bentuk pencarian yang tengah saya lakukan. Tapi apa? Saya dicap sombong. Tak mau membagi kebahagiaanlah, tak mau ngajak makan-makanlah, pelitlah. Sekali lagi di mana batas tipis antara kebangaan dan kesombongan? Entah. Yang saya pernah dapatkan dalam hidup adalah betapa mulianya mereka yang berjalan di muka bumi dengan menunduk, sebab siapalah kita yang begitu kecil dalam dunia yang sedemikian luasnya. Dan apapun yang tengah kita lakukan sekarang ini, entah mengajar, menunggui dagangan di pasar, mengisi waktu menunggui anak dan suami dengan nonton TV, memasak, mencari ilmu, mengayuh becak, mengobati pasien, menjaga sepeda di dekat terminal, bahkan merek yang terserak di jalanan karena keadaan adalah suatu bentuk pencarian. Pencarian tanpa batas, yang akan mengantarkan kita pada akhir kehidupan. dan itu yang saya yakini. maka saya akan meneruskan bentuk pencarian ini untuk menemukan jalan menuju muara. Sebab saya percaya hidup bukanlah untuk mencari label.

Wednesday, September 3, 2008

MENGAPA

Mengapa mesti saat ini,
Saat aku bergumul dengan pembuatan soal
dan kisi-kisi ulangan umum kenaikan kelas?
Mengapa mesti saat ini,
Saat sibuk mengejar deadline proposal kegiatan lomba penulisan?
Mengapa mesti saat ini,
Ketika persiapan panitia Idul Adha sedang sibuk bekerja?
Mengapa mesti saat ini,
Ketika dua buku Armijn Pane dan Hamsad Rangkuti belum habis kubaca lagi?
Mengapa mesti saat ini,
Saat banyak sekali hasil ulangan belum dikoreksi?
Mengapa mesti saat ini,
Keinginan menyusuri waktu lalu itu datang lagi?

Ah, mungkin karena sms dari seorang teman lama,
yang padanya - dulu - pernah kutitipkan sebuah asa.

Mungkin juga karena email tiba-tiba dari seorang teman,
yang dengannya - dulu - ada banyak cerita yang menyenangkan.

Atau karena sms dari dua sahabat yang lain,
yang ternyata dapat meraih mahligai bersama di kemudian hari.
Berdua, akan hadir ke Solo sabtu ini.
Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu

Ah, mengapa mesti sekarang ini?
Dan segala kerinduan itu menyeruak - Sesak.