Monday, September 8, 2008

Batas

di manakah batas tipis antara bangga dan sombong?
Entah. Saya belum pernah berjalan di antaranya. Suatu kali ada seorang teman yang sedemikian bangga akan keberhasilannya mencapai sesuatu. Semakin seringnya kebanggaannya itu digembar gemborkan di mana-mana hingga adayang memandangnya sebagai suatu kesombongan. Benarkah? Entah. Terkadang di saat saya mampu membuat sesuatu, misalkan saja saya berhasil menembus penerbit untuk naskah saya, biasanya saya selalu berusaha menyembunyikannya. Bukan apa-apa karena bagi saya itu bukan suatu pencapaian namun masih merupakan bentuk pencarian yang tengah saya lakukan. Tapi apa? Saya dicap sombong. Tak mau membagi kebahagiaanlah, tak mau ngajak makan-makanlah, pelitlah. Sekali lagi di mana batas tipis antara kebangaan dan kesombongan? Entah. Yang saya pernah dapatkan dalam hidup adalah betapa mulianya mereka yang berjalan di muka bumi dengan menunduk, sebab siapalah kita yang begitu kecil dalam dunia yang sedemikian luasnya. Dan apapun yang tengah kita lakukan sekarang ini, entah mengajar, menunggui dagangan di pasar, mengisi waktu menunggui anak dan suami dengan nonton TV, memasak, mencari ilmu, mengayuh becak, mengobati pasien, menjaga sepeda di dekat terminal, bahkan merek yang terserak di jalanan karena keadaan adalah suatu bentuk pencarian. Pencarian tanpa batas, yang akan mengantarkan kita pada akhir kehidupan. dan itu yang saya yakini. maka saya akan meneruskan bentuk pencarian ini untuk menemukan jalan menuju muara. Sebab saya percaya hidup bukanlah untuk mencari label.

12 comments:

neng said...

kadang mau berbagi kebahagiaan malah dianggap pamer... :(
sudahlah, biar saja Yang Di Atas yang menilai

perempuan said...

jenk mays, aq mmpirr :D

slm knl yach

Urip Herdiman Kambali said...

Bangga dan sombong? Ya itu sih, beda-beda tipis deh. Orang memang gampang kepeleset.

mpokb said...

lho, padahal dulu hobi saya ngumpulin label nama *jadul mode ON* :P

manusia, rupa2 warnanya. kadang ada yg bilang sombong, kadang ada yg ikut hepi. kadang sekadar ingin tahu :)

langitjiwa said...

betul hidup bkn utk label. dan jaman skrng ssh mencari org yg bijak seperti mbak ini. dan,
teruslah mencari hakikat kehidupan yg dimana akan membawa pada muara inti sari Rasa dari hakikat kehidupan itu.
salamku

ndahdien said...

omongan2 orang mah ga' usah dimasukin ati, makin ditanggepin makin banyak mreka nuntut qt mengikuti kemauannya. cuexx in d best:D

Anonymous said...

mungkin memang bukan untuk mencari label, tapi berbagi aura positip. Syukur-syukur bisa ngasih ide, motivasi, inspirasi buat orang lain. Terutama kalau mereka juga sedang mencari jalan ke arah yang sama. Minimal, begitulah saya melihat atau mendengar keberhasilan orang lain.
Apa kabar, May?

--durin--

--durin--

tito said...

kisah lama itu, anggapan orang tentang sombong atau tidak sombong punya parameter yang berbeda. saya bilang teman saya tidak sombong, orang lain bilang sombong.

Mikekono said...

bangga yang proporsional tak bs dibilang sombong.....tp kdng2 emang slt membdkannya
tp yg pasti si empunya blog ini pasti bukan orng smbng

yati said...

bener. bilang2 dianggap pamer. diem2 dianggap pelit. serba salah. tapi kalo diberitakan di koran, beda kayaknya...xixixi... kan bukan kita yang minta diumumin.

kutaraja said...

tergantung sudut pandang kita yang melihat.. setuju, untuk hidup bukan untuk sebiah label..

Puisi said...

renungan yang bagus. selamat idul fitri mbak. maaf lahir batin