Wednesday, October 15, 2008

Fatamorgana

Semua masih tetap sama. Sebentuk hati yang terlahir untuk mencintai. Seperti irama hujan yang turun satu-satu sore itu. Kala hari menjemput senja.
Saat aku berdiri di jalan setapak itu. Menyusuri sisa-sisa masa lalu. Terbayang wajah-wajah kita tertawa, menari dan bercanda di jalan itu jauh di lekuk masa lalu.
Ada sebentuk gambar tentangmu juga, agak kabur memang. Tapi aku masih bersyukur bahwa aku masih bisa tersenyum mengenangnya.
Semua masih tetap sama. Angin yang meniupkanmu ke hilir. Menyisakan perih yang harus kulewati di rengas waktu kala itu. Meski waktu berlalu, namun ternyata aku masih di sini. Dengan setia merajut angan-angan yang pernah tergulir di hadapan kita. Tapi aku tak hendak hanya menunggu saja. Aku pun telah banyak menulis kisah, yang terpampang di ruas-ruas tanah sawah, dinding-dinding kota, panggung-panggung pementasan. Kamu pun bisa membacanya di ruas-ruas jalan tanah yang becek terkena hujan. Sebagian bahkan sudah diterbangkan angin. Mungkin ke hilir, menyapamu di jenak yang aku tak pernah tahu.
Semua masih tetap sama. Meski kau tak lagi ada. Meski sudah lama berlalu sejak layar diturunkan dan lampu-lampu dipadamkan. Kau tetap tak pernah menjelma. Selamanya.
Biarlah waktu mengaburkan tiap jejaknya. Dan aku masih akan tetap menuliskan kisah.

5 comments:

hanny said...

terkadang kenangan yang bisa berkali-kali diputar ulang itu sudah cukup, ya? :)

*peluk erat*

tito said...

hayo sering-sering update juga :p. woala mbaaak, mbaak

novnov said...

masa lalu emang enak untuk di kenang walaupun kadang2 menyakitkan....

ciplok said...

spt nonton film diriku sendiri, hiks

MAY'S said...

@ciplok : iya, hidup memang refleksi dari peristiwa entah milik siapa