Thursday, November 20, 2008

Di Beranda

: untuk MZA

Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu

Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang

Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna

Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki

Wednesday, November 19, 2008

Maling Anggrek

Tadi pagi bangun seperti biasa, jam tiga pagi. Sholat. Kemudian memasak asem-asem kecap, merebus air pokoknya urusan dapurlah :) sampai adzan subuh berkumandang. Setelahnya saya sholat subuh, kemudian menyapu ruangan. Ketika membuka pintu depan, seperti biasa hendak menyapu halaman luar, saya melihat kok ada yang aneh, ada arang-arang batu bertebaran di depan pintu. Tapi pagar masih menutup rapat. Lalu saya beranjak ke samping, ada sikas dan arang batu banyak banget! Saat saya menengok ke atas, deretan anggrek-anggrek yang dicentelin rapi di galah bambu sepanjang 2 meter itu, ada 4 pot yang udah kosong!!

Wah, ni maling pinter banget, cuma nyabut pohonnya saja Potnya sama isinya ditinggalin begitu saja. Lagian ia tahu banget mana anggrek yang bagus dan yang enggak. Buktinya dalam halaman saya ada sekitar 25-an anggrek yang diambil cuma 4 pohon. Keempat-empatnya anggrek bulan semua dan varietasnya emang bagus. saya emang lulusan pertanian, tapi gak mudeng nama-namanya, tapi kalau sekedar mbedain bagus apa enggak ya masih bisalah.

Secara juga dua di antaranya adalah pemberian kawan lama, saya sedihnya karena histori dari tiap-tiap anggrek itu yang disayangkan.

Yang paling sedih, tentunya suami saya. Secara yang rajin merawat adalah beliaunya.. he..he...
Saya paling ngerawat cuma di hari Sabtu-Minggu sedang suami saya tiap pagi sore selalu nyempetin untuk nyiram. Menurut saya, didiemin juga masih bisa hidup. Dasar malas he..he...

Ya, udahlah mungkin bukan rejeki kita, kata saya tadi pagi. Sedih saya jadi agak hilang, melihat syoknya beliau. Heran juga sih, sisa hujan semalam, mestinya meninggalkan jejak kaki di lantai teras keramuik warna putih, tapi nyatanya gak ada jejaknya, selain arang batu yang berceceran. Lewat mana ya, malingnya?

Sudahlah, berharap teman baik saya memaafkan atas hilangnya anggrek pemberian mereka...
dan barangkali akan memberi lagi?

Monday, November 17, 2008

Pandangan Yang Sama

Sepucuk surat undangan datang siang itu. Nama yang terpampang di dalamnya tidak asing. Adik tingkat mas Budi sewaktu kuliah dulu. Kebetulan kami, antara dia dan saya – setelah beberapa tahun berlalu, bertemu kembali sebagai rekan kerja. Ia bekerja di sebuah kantor penerbitan di Solo, suatu kali pernah saya memasukkan naskah ke sana. Dan kami bertemu kembali.

Saya mengenalnya sejak saya mulai memiliki hubungan khusus dengan mas Budi, sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu.

Kemudian, sekitar dua tahun lalu, si pengirim undangan bertemu dengan kami berdua, ia bertanya : Bagaimana sih caranya, menjaga pandangan?
Saya mengernyitkan alis saya.
Mencintai orang yang sama setelah bertahun-tahun tapi tetap memiliki pandangan yang sama?
Maksudnya apa?
Saya melihat cara mbak memandang mas Budi tak pernah berubah sedikitpun sejak tujuh tahun lalu, ucapnya.
Masak sih? Tanya saya lagi.
Kemudian ia bertanya lagi, apa bisa ya, saya bertemu dengan orang dengan pandangan yang tak pernah berubah?
Saya bilang padanya, pandanglah dengan mata hati, maka segalanya akan tetap sama.

Sabtu malam kemarin, dalam hujan yang tak berhenti. Kami menghadiri perhelatan yang diadakan keluarganya.
Saya tersenyum, menyalaminya. Sambil berbisik, Sudah kau temukan orangnya?

Selamat semoga meraih kebahagiaan selamanya.

Wednesday, November 12, 2008

MIMPI SEMALAM

Terima kasih, Tuhan
Karena telah kau beri kesempatan
mendekap bayi mungil rupawan
Meski hanya dalam mimpi saja
Terima kasih, Tuhan
Masih Kau beri kesempatan
Walau hanya sekedar memimpikannya
Semoga Doa dan penantian ini
Tak akan pernah ada akhirnya

Monday, November 10, 2008

PESAN

Adakah kau rasa hangat senyum mentari pagi ini?
Padanya kuselipkan hangatku
Adakah kau dengar desir angin hari ini?
Padanya kutitipkan salam rinduku padamu

Ah...
Sebait yang sangat menenangkan
di tengah kesibukan pekerjaan
Terimakasih cinta,
Untuk selalau ADA

Friday, November 7, 2008

MENGAPA

Mengapa mesti saat ini,
Saat aku bergumul dengan pembuatan soal dan kisi-kisi ulangan umum kenaikan kelas? Mengapa mesti saat ini,
Saat sibuk mengejar deadline proposal kegiatan lomba penulisan?
Mengapa mesti saat ini,
Ketika persiapan panitia Idul Adha sedang sibuk bekerja?
Mengapa mesti saat ini,
Ketika dua buku Armijn Pane dan Hamsad Rangkuti belum habis kubaca lagi?
Mengapa mesti saat ini,
Saat banyak sekali hasil ulangan belum dikoreksi?
Mengapa mesti saat ini,
Keinginan menyusuri waktu lalu itu datang lagi?

Ah, mungkin karena sms dari seorang teman lama,
yang padanya - dulu - pernah kutitipkan sebuah asa.

Mungkin juga karena email tiba-tiba dari seorang teman,
yang dengannya - dulu - ada banyak cerita yang menyenangkan.

Atau karena sms dari dua sahabat yang lain,
yang ternyata dapat meraih mahligai bersama di kemudian hari.
Berdua, akan hadir ke Solo sabtu ini.
Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu

Ah, mengapa mesti sekarang ini?
Dan segala kerinduan itu menyeruak - Sesak.

Wednesday, November 5, 2008

KENANGAN

1//

November selalu menyisakan tanah yang basah.
Seperti juga gerimis kecil-kecil di awal hari ini.
Meski tiada satu hal pun yang berubah.
Aku, waktu dan kenangan tentangmu.

2//
Pernah ada masanya, di mana kita sangat percaya
bahwa jauh di luar sana ada hidup yang begitu berwarna.
Namun tak sedikitpun waktu menuntun langkah kita ke sana.
Masih teringat jelas ketika kau ucapkan kata-kata
bahwa semestinya kita yang meloncat ke sana.
Ke sebuah dunia yang penuh warna.
Kau begitu tegas dalam mengucapnya.
Dengan pijaran bintang di kedua matamu.
Ada nyala semangat di sana.
Lalu kauulurkan tanganmu.
Menarik aku.
“Ayo, kita lampaui waktu itu!”,
ucapmu sembari tangan kananmu menunjuk jauh ke depan.
Dunia penuh warna, katamu.

Namun aku tak hendak beranjak.
“Aku di sini saja”, kataku.
Menikmati angin, bunga-bunga rumput,
hujan yang sesekali turun di sela-sela November.
“Lihat! bahkan mataharinya pun hangat menenangkan”, ucapku pelan.
Kau terdiam, menatapku tajam.
“Bukankah kita sudah sama sepakat?
Melangkah ke sana, Dunia yang penuh warna?”
Tapi aku mencintai tanah ini.
Dunia yang kumiliki saat ini juga bertabur warna pelangi.
“Aku tak hendak pergi”, ucapku lagi.
“Kalau kau tak pergi, mungkin kita tak pernah bersua lagi”, ucapmu lirih.
Kulihat bintang di matamu meredup.

Terlalu banyak yang tak pasti.
Hingga kita masih harus saling mencari, kataku.
Kaupun diam membisu.
Bintang itu benar-benar telah redup.
“Aku tetap akan pergi!”
Lalu kau berdiri tiba-tiba.
Melompat cepat dan sekejab hilang dari pandangan mataku.
Bahkan jejakmupun tak bersisa.
Angin berdesir pelahan.
Membawa langkah menjauh pelan-belan.
Tak mengapa, jika memang mesti tak bersua lagi.

3//
November basah.
Gerimis yang turun kecil-kecil awal November ini
membawakan seikat kenangan akan waktu, dan sedikit tentangmu.
:Episode hidup yang berlalu.