Thursday, November 20, 2008

Di Beranda

: untuk MZA

Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita
tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu

Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang

Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna

Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati
Tak mesti harus saling memiliki

18 comments:

Deny said...

"mencintai tak harus memiliki" . , waduh aku banget tuh.. hik hik hik sampe ga dapat" cewek, hanya bisa melihat dari jauh, mengagumi sepenuh hati.. cinta cewek orang.heheh

Urip Herdiman Kambali said...

Keren... Gue suka sama dua lariknya yang terakhir,"Mencintai sepenuh hati/Tak mesti harus saling memiliki"

Setuju banget!

de said...

ngalir terus mbak puisinya.... udah waktunya bikin buku kayaknya... apa kabar juga..

Mas koko said...

Endingnya bagus :)

HeLL-dA said...

Tak mampu aku berucap lagi.
Memang sepertilah yg harus dihadapi.
Semua tak akan sesuai dg yg diinginkan.
Namun, kenangan memang bisa membuat kita tersenyum dan menangis.
Jika aku bisa memilih di antara kedua itu?
Biarlah aku tersenyum walau pahit.

annosmile said...

cara bacanya gimana nih ??

Anonymous said...

kadang sesuatu jika dipertahankan
meninggalkan keyakinan akan rasa aman
kadang sesuatu jika lepas dari pandangan...
meninggalkan penyesalan

MAY'S said...

@Deny : O... ya???

MAY'S said...

@UHK : Iya, Keren... Gue juga suka... :)

MAY'S said...

de : Miss U!!!

MAY'S said...

@Mas KOKO : Terimakasih

MAY'S said...

@heLL-da :memilih adalah sebuah pilihan
asal tak pernah kita terjebak di dalamnya

MAY'S said...

@Annosmile : whatever u like lah...

MAY'S said...

@Anonymous: sebuah jalinan kata bukanlah sebuah penyesalan.. akan ada ratusan, ribuan bahkan "uncountable word" yang akan kutuliskan akan dimaknai menjadi penyesalan..
jangan lihat endingnya, lihat proses dari awal

wku said...

saya salut kalo masih ada orang yang bisa mencintai tapi ndak memiliki... ihik... kayak sinetron... ihik...

Mufti AM said...

Cuaca pun bisa dijadikan puisi. Sayangnya saya tidak pandai berpuisi, hanya bisa menikmatinya saja kata demi kata.

MAY'S said...

@wku : emang beneran ada ya? :P

MAY'S said...

@Mufti AM : selamat menikmati... :)