Saturday, December 13, 2008

R I N D U

Cerita lama sih, cuma gak tahan aja pengin cerita.. :)
Sudah hampir beberapa waktu mas budi mengikuti proses latihan untuk drama kolosal Lintas Sejarah Sudirman, yang akan diadakan di Pacitan. Kebetulan latihannya di stadion Sriwedari Solo, jadi dekat dari sekolah tempat saya mengajar.

Lumayan padat juga jadwalnya. Dari pukul delapan pagi sampai pukul dua belas siang. Setelah istirahat dua jam, latihan dilanjutkan lagi sampai pukul lima sore.

Nah, pada hari Rabu lalu, karena kebetulan pukul dua siang saya ada janji dengan penerbit, maka saya meminjam motor. Tepat pukul satu mas budi sudah menjemput di gerbang sekolah, dan kita kemudian keluar, saya kira kita akan ke stadion, kemudian motor saya bawa lagi balik ke sekolah. Eh, di jalan malah motor tidak menuju stadion, melainkan masuk ke Toko Buku Gramedia.
"Ngapain mas," tanya saya.
"Liat-liat tas dulu jawabnya."
"Tapi aku gak bawa uang loh."
"Sudah ntar kita juga baru mau liat.", katanya sambil menarik tangan saya.
"Eh, tapi aku ditunggu sama teman-teman, kita mau makan siang di luar"
"Bentar aja kok"

Lantas kamipun masuk ke dalam. Saya cuma ngikutin aja langkah kakinya. kemudian berhenti di counter tas yang bejibun banyaknya.
"Mau pilih yang mana?"tanyanya
"Apaan sih? Tas aku kan masih bagus", ucap saya sambil melirik jam.
Wah, bakalan kena marah temen nih, gitu batin saya.
Karena saya malas memilih, akhirnya beliau mengambil salah satu tas untuk saya. Ini mau gak? tanyanya

Saat saya melihat harganya, wuih... mahal amat, sayang kata saya.
"Ya udah, pilih sendiri. Bawaan kamu kan selalu banyak dari buku, kertas-kertas, file, map-map belum lagi kertas-kertas coretan yang selalu tersebar itu" katanya sambil menatap saya.
Hm... ketika akhirnya saya menyetujui pilihannya lagi, tak terbayang warna wajah yang ada di muka saya.

Rasanya seperti saat kami pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu. Saat cinta bersemi dengan malu-malu. Pipi saya bersemu dan tersenyum malu-malau, macam anak muda yang lagi pacaran.

Saya tatap wajahnya... masih sama.
Lelaki - yang padanya telah saya serahkan hidup saya.
Lelaki - yang bersamanya dapat saya rasakan indahnya warna hidup
Lelaki - yang padanya saya titipkan separo hati saya
Lelaki - yang dengannya, senantiasa saling menyelipkan doa
di tiap denyut nadi, desahan nafas dan detak jantung kami
Lelaki - yang dengan mengingatnya, dapat tergambar seluruh kebahagian hidup
Lelaki - yang membuat saya selalu merasa berarti
Lelaki - yang kalau boleh saya meminta pada ALLAH SWT,
akan tetap saling menautkan jemari hingga akhir uasia nanti

Ah, mengingat semua itu sungguh menambah deretan doa dan denting kerinduan

Tadi pagi mas budi sudah berangkat ke Pacitan. Semoga sukses ya...
Banyak doa dan cinta menyertai perjalananmu...

12 comments:

balisugar said...

halow May pakabar ?

nengjeni said...

uhuk..uhuk... so sweet....

mpokb said...

suit-suittt.. lagi berbunga-bunga nih non may.. ikut hepi aja yak.. :)

atta said...

Wah, sayang bukan aku yang ditugaskan ke Pacitan...

It's a lovely story :)

ciwir said...

rindu = kangen
kerinduan, adalh sebuah nikmat bagi seseorang...

MAY'S said...

@balisugar : kabar baik.... kamu gimana?

MAY'S said...

@neng jeni : Ah....
*tersipu-sipu mode on*

MAY'S said...

@mpok b : yo'i!!!!
sekarang sudah tenang di Jakarya yak mpok??

MAY'S said...

@atta: Miss U.... apa kabar??? kok ilang mulu?

MAY'S said...

@ciwir : rindu ah... ya rindu... :)

DenaDena said...

duuuh jadi iri deh. tapi tiap suami punya cara sendiri2 kok untuk mengungkapkan cinta. aku percaya itu.

yati said...

aaowww....ga kuat bacanya...suit suit, mbak may pacaran lagiiii.... *dijitak*

manis sekali... :) selamat pacaran lagi aja deh.