Seperti kemarau
getas hati
menyisakan desau
laksana setitik embun
di dahaganya hari
kau datang lagi
dengan sebuah arti suci
Marhabaan yaa... ramadhan
kan kubasuh kering
dan galau hatiku
agar senantiasa berada di atap
rindang yang penuh kesejukan
Bimbing aku
Ya Rabbku....
agar ibadahku senantiasa terjaga selalu
buat semua teman, kerabat bahkan yang tak suka padaku sekalipun
maafkan segala salah
semoga Ramadhan ini memberikan arti bagi diri
Friday, August 29, 2008
Wednesday, August 27, 2008
Di Rentang Waktu
Kau,
aku
kemudian kita.
Ada warna-warni pelangi
di sisa hari yang menaungi
Ada wajah kita di senja hari
tersenyum menatap hari yang berlalu
penuh nikmat
penuh syukur
Kemudian akan lahir anak-anak
tidak pun tak mengapa katamu
tak akan mengurangi rasa yang dari dulu datang padaku
hari ini
tujuh tahun lalu
malam berbias purnama
ketika kau bacakan ASMARADANA milik Gunawan Mohamad
untukku.
Lalu pagi ini
meski hanya ada sayur asem, sambel trasi dan tempe dibalut tepung
kesukaanmu
kubacakan sajak itu untukmu
mengenang masa itu
sambil berharap
rona wajah-wajah kita
tetap sama
ketika senja kemudian datang
mencapai kita
note : jauh sebelum kita bertemu aku hanya mengenal warna hitam dan putih saja
ternyata ada begitu banyak warna hidup setelah bersamamu
Kamu tahu, Kau adalah yang terbaik yang pernah datang padaku
aku
kemudian kita.
Ada warna-warni pelangi
di sisa hari yang menaungi
Ada wajah kita di senja hari
tersenyum menatap hari yang berlalu
penuh nikmat
penuh syukur
Kemudian akan lahir anak-anak
tidak pun tak mengapa katamu
tak akan mengurangi rasa yang dari dulu datang padaku
hari ini
tujuh tahun lalu
malam berbias purnama
ketika kau bacakan ASMARADANA milik Gunawan Mohamad
untukku.
Lalu pagi ini
meski hanya ada sayur asem, sambel trasi dan tempe dibalut tepung
kesukaanmu
kubacakan sajak itu untukmu
mengenang masa itu
sambil berharap
rona wajah-wajah kita
tetap sama
ketika senja kemudian datang
mencapai kita
note : jauh sebelum kita bertemu aku hanya mengenal warna hitam dan putih saja
ternyata ada begitu banyak warna hidup setelah bersamamu
Kamu tahu, Kau adalah yang terbaik yang pernah datang padaku
Tuesday, August 26, 2008
SAKIT
Hampir 2 minggu
terkapar tak berdaya
radang tenggorokan awalnya
tapi gak kunjung sembuh juga
ternyata gejala tipes datang menyerang
setelah bertumpuk2 worksheet, koreksi hasil ulangan, kejaran deadline tanpa akhir...
sekarang lemeslah saya....
terkapar tak berdaya
radang tenggorokan awalnya
tapi gak kunjung sembuh juga
ternyata gejala tipes datang menyerang
setelah bertumpuk2 worksheet, koreksi hasil ulangan, kejaran deadline tanpa akhir...
sekarang lemeslah saya....
Thursday, August 14, 2008
63
Sudah 63
Sejak pertama kali
Soekarno kumandangkan
“PROKLAMASI”
63 sudah
Sampai di mana kita kini?
Rezim terus berganti
Wajah negeri masih belum berseri
Meski pembangunan di mana-mana
Tapi masih belum seluruhnya
Di pelosok sana
Masih bertebaran gelandangan, pengemis dan peminta-minta
Ribuan pencari kerja
Tergugu di depan pintu perusahaan
Karena tak pernah ada lowongan
Masih ada banyak janji
Yang tak terpenuhi
Sejak pertama kali
Soekarno kumandangkan
“PROKLAMASI”
63 sudah
Sampai di mana kita kini?
Rezim terus berganti
Wajah negeri masih belum berseri
Meski pembangunan di mana-mana
Tapi masih belum seluruhnya
Di pelosok sana
Masih bertebaran gelandangan, pengemis dan peminta-minta
Ribuan pencari kerja
Tergugu di depan pintu perusahaan
Karena tak pernah ada lowongan
Masih ada banyak janji
Yang tak terpenuhi
Masih lebih banyak lagi
Anak-anak negeri
Yang tak beroleh kesempatan
Untuk belajar dan kembangkan diri
Menatap wajah bumi pertiwi
Dengan tangan terkepal
Menyeru lagu kemerdekaan
Yang ditiupkan angin
Mengobarkan merah putih
Dalam jiwa
Menatap awan berarak di atas langit
Menampakkan gundah
Mengurung mendung
Mencuri matahari
Masih ada tanya
Di mana nyanyian gilang gemilang
Tentang
Kejayaan sebuah negeri?
Yang pernah tersohor
Rakyat hidup makmur dan tercukupi
Menatap awan kemerdekaan
Yang berarak di atas langit kelabu
Kobaran merah putih
Masih melekat di jiwa
63
Terlepas dari angkara
Berapa banyak darah tercurah
Untuk menebusnya?
Mayssari,
Agustus 2008
Tuesday, August 5, 2008
Teman
Suatu siang, di pertengahan bulan juli yang berangin. Seorang teman datang kepada saya. Ia, laki-laki, usianya tiga tahun di atas saya, perfeksionis. Awalnya ia hanya berbasa-basi tak penting, seperti apa kabarnya, bagaimana persiapan acaranya, ini, itu. Waktu itu kami di tengah-tengah acara penerimaan siswa baru.
Tapi tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan aneh.
Dia : Bu, suami Bu Maya itu kerjanya apa ya?
Saya : pekerja seni
Dia : seniman ya?
Saya : macem, itulah.
Dia : kalau gitu uangnya sedikit dong...
(Batin saya, emang uang lo banyak apa?)
Saya : kok bisa ngambil kesimpulan macem gitu? (saya mulai mencondongkan badan agak ke belakang. sambil menatap lurus matanya)
Dia : loh, lha kan kalau pas cuman pentas aja kan? dibayarnya?
(saya makin dongkol, ni orang maunya apaan sih? Secara dari dulu saya emang gak akrab sama dia)
Saya : suami saya ngajar freelance di beberapa lembaga pendidikan, guru honorer di sebuah sekolah swasta, pelatih ekskul di beberapa tempat, menulis, dan memiliki beberapa usaha percetakan kecil-kecilan dengan teman-temannya. So, kalau cuman uang, banyak Pak dia hasilkan.
Dia : Tapi kan statusnya tidak ada yang tetap
Saya : So what? saya belajar banyak dari suami saya. Bahwa baginya bekerja bukan hanya untuk mencari uang saja, melainkan kesenangan, kenyamanan dan ketenangan. apalah arti sebuah status. (saya sudah benar-benar berdiri)
Dia diam tercenung....
Saya lagi : Maaf ya, saya tahu benak sampeyan pasti berpikir, bagaimana seniman menghidupi keluarga bukan? jangan picik deh pak. Saya tahu njenengan suka menjaga jarak dengan beberapa teman, termasuk saya. Saya sendiri sebenarnya juga menikmati kerja di sini, tapi orang-orang macem sampeyan itu yang bikin susana jadi tidak tenang dan tidak nyaman lagi.
Dia : saya kan tidak tahu, kalau suami njenengan punya banyak sambilan lain
Saya : saya ngerti kok Pak. Ini masalah status kan? Bapak merasa gak imbang ngobrol dengan saya, atau suami saya tiap kali ada acara yang melibatkan keluarga? Hanya karena suami saya sorang seniman? Jangan menghindar, semua udah pada tahu kok. Seperti sikap sampeyan sama Bu A, Pak B, Bu C. Bukankah ALLAH tidak menilai kita berdasar status? Pernah njenengan memilih mau dilahirkan oleh siapa, untuk menjadi apa? (nada suara saya mulai merendah)
Dia : Eh... eh....
Saya : Nyatanya, suami saya berani menikah dengan saya, dan sedikitpun kami tidak pernah kekurangan alhamdulillah. Itu sudah cukup menunjukkan ia punya uang kan? Apa salahnya menjadi pekerja seni? (saya berdiri, berlalu meninggalkannya)
Percakapan itu sudah lama sekali berlalu. Tapi saya masih terus mengingatnya sampai sekarang. Sepicik itukah penilaian kita? saat kita akan berteman kita bertanya, apa kerja suamimu? Apa kerja istrimu? Berapa penghasilannya, kalau sedikit jangan jadi temanku ya? Kok ya masih ada orang model kayak gini di jaman ini. Tapi syukurlah masih lebih banyak lagi teman-teman kami yang benar-benar menilai kami sebagai diri yang seutuhnya, tanpa melihat embel-embel gelar, status, pangkat, pekerjaan.
Sudahlah......
Semoga saya, kamu, kita tidak termasuk orang yang suka mengelompokkan teman berdasar kekayaan...
Karena kekayaan sebenarnya adalah berapa banyak timbangan amal kita di akherat kelak.
Tapi tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan aneh.
Dia : Bu, suami Bu Maya itu kerjanya apa ya?
Saya : pekerja seni
Dia : seniman ya?
Saya : macem, itulah.
Dia : kalau gitu uangnya sedikit dong...
(Batin saya, emang uang lo banyak apa?)
Saya : kok bisa ngambil kesimpulan macem gitu? (saya mulai mencondongkan badan agak ke belakang. sambil menatap lurus matanya)
Dia : loh, lha kan kalau pas cuman pentas aja kan? dibayarnya?
(saya makin dongkol, ni orang maunya apaan sih? Secara dari dulu saya emang gak akrab sama dia)
Saya : suami saya ngajar freelance di beberapa lembaga pendidikan, guru honorer di sebuah sekolah swasta, pelatih ekskul di beberapa tempat, menulis, dan memiliki beberapa usaha percetakan kecil-kecilan dengan teman-temannya. So, kalau cuman uang, banyak Pak dia hasilkan.
Dia : Tapi kan statusnya tidak ada yang tetap
Saya : So what? saya belajar banyak dari suami saya. Bahwa baginya bekerja bukan hanya untuk mencari uang saja, melainkan kesenangan, kenyamanan dan ketenangan. apalah arti sebuah status. (saya sudah benar-benar berdiri)
Dia diam tercenung....
Saya lagi : Maaf ya, saya tahu benak sampeyan pasti berpikir, bagaimana seniman menghidupi keluarga bukan? jangan picik deh pak. Saya tahu njenengan suka menjaga jarak dengan beberapa teman, termasuk saya. Saya sendiri sebenarnya juga menikmati kerja di sini, tapi orang-orang macem sampeyan itu yang bikin susana jadi tidak tenang dan tidak nyaman lagi.
Dia : saya kan tidak tahu, kalau suami njenengan punya banyak sambilan lain
Saya : saya ngerti kok Pak. Ini masalah status kan? Bapak merasa gak imbang ngobrol dengan saya, atau suami saya tiap kali ada acara yang melibatkan keluarga? Hanya karena suami saya sorang seniman? Jangan menghindar, semua udah pada tahu kok. Seperti sikap sampeyan sama Bu A, Pak B, Bu C. Bukankah ALLAH tidak menilai kita berdasar status? Pernah njenengan memilih mau dilahirkan oleh siapa, untuk menjadi apa? (nada suara saya mulai merendah)
Dia : Eh... eh....
Saya : Nyatanya, suami saya berani menikah dengan saya, dan sedikitpun kami tidak pernah kekurangan alhamdulillah. Itu sudah cukup menunjukkan ia punya uang kan? Apa salahnya menjadi pekerja seni? (saya berdiri, berlalu meninggalkannya)
Percakapan itu sudah lama sekali berlalu. Tapi saya masih terus mengingatnya sampai sekarang. Sepicik itukah penilaian kita? saat kita akan berteman kita bertanya, apa kerja suamimu? Apa kerja istrimu? Berapa penghasilannya, kalau sedikit jangan jadi temanku ya? Kok ya masih ada orang model kayak gini di jaman ini. Tapi syukurlah masih lebih banyak lagi teman-teman kami yang benar-benar menilai kami sebagai diri yang seutuhnya, tanpa melihat embel-embel gelar, status, pangkat, pekerjaan.
Sudahlah......
Semoga saya, kamu, kita tidak termasuk orang yang suka mengelompokkan teman berdasar kekayaan...
Karena kekayaan sebenarnya adalah berapa banyak timbangan amal kita di akherat kelak.
Subscribe to:
Posts (Atom)