Nun....
kulihat bulan merah jambu turun
ditingkap cemara yang mendesir pelahan
kala kabut menyibakkan misteri kelabunya
Nun...
denting lagu yang terdengar kemudian
ditingkap alun senja yang beranjak dewasa
ada seuntai bayang turun di tengah halimun itu
bukan kau, pula aku
tak satupun di antara kita hadir
dalam bayang kabut
Nun...
kucoba lagi mengurai retas-retas masa
yang jatuh - bangun - jatuh lagi
tapi tak jua terbaca ujungnya
Nun...
kutinggalkan jejak
di antara keringnya rerumputan
yang dahaga oleh kemarau
berharap kelak
masa yang mengantarkan kita padanya
kala aku terbenam dijelaga
Wednesday, December 24, 2008
Saturday, December 13, 2008
R I N D U
Cerita lama sih, cuma gak tahan aja pengin cerita.. :)
Sudah hampir beberapa waktu mas budi mengikuti proses latihan untuk drama kolosal Lintas Sejarah Sudirman, yang akan diadakan di Pacitan. Kebetulan latihannya di stadion Sriwedari Solo, jadi dekat dari sekolah tempat saya mengajar.
Lumayan padat juga jadwalnya. Dari pukul delapan pagi sampai pukul dua belas siang. Setelah istirahat dua jam, latihan dilanjutkan lagi sampai pukul lima sore.
Nah, pada hari Rabu lalu, karena kebetulan pukul dua siang saya ada janji dengan penerbit, maka saya meminjam motor. Tepat pukul satu mas budi sudah menjemput di gerbang sekolah, dan kita kemudian keluar, saya kira kita akan ke stadion, kemudian motor saya bawa lagi balik ke sekolah. Eh, di jalan malah motor tidak menuju stadion, melainkan masuk ke Toko Buku Gramedia.
"Ngapain mas," tanya saya.
"Liat-liat tas dulu jawabnya."
"Tapi aku gak bawa uang loh."
"Sudah ntar kita juga baru mau liat.", katanya sambil menarik tangan saya.
"Eh, tapi aku ditunggu sama teman-teman, kita mau makan siang di luar"
"Bentar aja kok"
Lantas kamipun masuk ke dalam. Saya cuma ngikutin aja langkah kakinya. kemudian berhenti di counter tas yang bejibun banyaknya.
"Mau pilih yang mana?"tanyanya
"Apaan sih? Tas aku kan masih bagus", ucap saya sambil melirik jam.
Wah, bakalan kena marah temen nih, gitu batin saya.
Karena saya malas memilih, akhirnya beliau mengambil salah satu tas untuk saya. Ini mau gak? tanyanya
Saat saya melihat harganya, wuih... mahal amat, sayang kata saya.
"Ya udah, pilih sendiri. Bawaan kamu kan selalu banyak dari buku, kertas-kertas, file, map-map belum lagi kertas-kertas coretan yang selalu tersebar itu" katanya sambil menatap saya.
Hm... ketika akhirnya saya menyetujui pilihannya lagi, tak terbayang warna wajah yang ada di muka saya.
Rasanya seperti saat kami pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu. Saat cinta bersemi dengan malu-malu. Pipi saya bersemu dan tersenyum malu-malau, macam anak muda yang lagi pacaran.
Saya tatap wajahnya... masih sama.
Lelaki - yang padanya telah saya serahkan hidup saya.
Lelaki - yang bersamanya dapat saya rasakan indahnya warna hidup
Lelaki - yang padanya saya titipkan separo hati saya
Lelaki - yang dengannya, senantiasa saling menyelipkan doa
di tiap denyut nadi, desahan nafas dan detak jantung kami
Lelaki - yang dengan mengingatnya, dapat tergambar seluruh kebahagian hidup
Lelaki - yang membuat saya selalu merasa berarti
Lelaki - yang kalau boleh saya meminta pada ALLAH SWT,
akan tetap saling menautkan jemari hingga akhir uasia nanti
Ah, mengingat semua itu sungguh menambah deretan doa dan denting kerinduan
Tadi pagi mas budi sudah berangkat ke Pacitan. Semoga sukses ya...
Banyak doa dan cinta menyertai perjalananmu...
Sudah hampir beberapa waktu mas budi mengikuti proses latihan untuk drama kolosal Lintas Sejarah Sudirman, yang akan diadakan di Pacitan. Kebetulan latihannya di stadion Sriwedari Solo, jadi dekat dari sekolah tempat saya mengajar.
Lumayan padat juga jadwalnya. Dari pukul delapan pagi sampai pukul dua belas siang. Setelah istirahat dua jam, latihan dilanjutkan lagi sampai pukul lima sore.
Nah, pada hari Rabu lalu, karena kebetulan pukul dua siang saya ada janji dengan penerbit, maka saya meminjam motor. Tepat pukul satu mas budi sudah menjemput di gerbang sekolah, dan kita kemudian keluar, saya kira kita akan ke stadion, kemudian motor saya bawa lagi balik ke sekolah. Eh, di jalan malah motor tidak menuju stadion, melainkan masuk ke Toko Buku Gramedia.
"Ngapain mas," tanya saya.
"Liat-liat tas dulu jawabnya."
"Tapi aku gak bawa uang loh."
"Sudah ntar kita juga baru mau liat.", katanya sambil menarik tangan saya.
"Eh, tapi aku ditunggu sama teman-teman, kita mau makan siang di luar"
"Bentar aja kok"
Lantas kamipun masuk ke dalam. Saya cuma ngikutin aja langkah kakinya. kemudian berhenti di counter tas yang bejibun banyaknya.
"Mau pilih yang mana?"tanyanya
"Apaan sih? Tas aku kan masih bagus", ucap saya sambil melirik jam.
Wah, bakalan kena marah temen nih, gitu batin saya.
Karena saya malas memilih, akhirnya beliau mengambil salah satu tas untuk saya. Ini mau gak? tanyanya
Saat saya melihat harganya, wuih... mahal amat, sayang kata saya.
"Ya udah, pilih sendiri. Bawaan kamu kan selalu banyak dari buku, kertas-kertas, file, map-map belum lagi kertas-kertas coretan yang selalu tersebar itu" katanya sambil menatap saya.
Hm... ketika akhirnya saya menyetujui pilihannya lagi, tak terbayang warna wajah yang ada di muka saya.
Rasanya seperti saat kami pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu. Saat cinta bersemi dengan malu-malu. Pipi saya bersemu dan tersenyum malu-malau, macam anak muda yang lagi pacaran.
Saya tatap wajahnya... masih sama.
Lelaki - yang padanya telah saya serahkan hidup saya.
Lelaki - yang bersamanya dapat saya rasakan indahnya warna hidup
Lelaki - yang padanya saya titipkan separo hati saya
Lelaki - yang dengannya, senantiasa saling menyelipkan doa
di tiap denyut nadi, desahan nafas dan detak jantung kami
Lelaki - yang dengan mengingatnya, dapat tergambar seluruh kebahagian hidup
Lelaki - yang membuat saya selalu merasa berarti
Lelaki - yang kalau boleh saya meminta pada ALLAH SWT,
akan tetap saling menautkan jemari hingga akhir uasia nanti
Ah, mengingat semua itu sungguh menambah deretan doa dan denting kerinduan
Tadi pagi mas budi sudah berangkat ke Pacitan. Semoga sukses ya...
Banyak doa dan cinta menyertai perjalananmu...
GUGUR
Mengikat tali yang penuh
Serasa seluruh keluh menyatu dalam luruh
Lalu turun, menetes satu-satu
Seiring grimis yang membelah langit
Mengantarkan butiran-butiran bening pagi
Ah, senyawa rindu ini
Tak jua bergelung di ujung muara
Karna padanya tak lagi kutemu
Rasa utuh menyatu yang dulu kutemu
Lalu luruh
Menetes satusatu
Meninggalkan jejak di tanah merah basah
:Aku tersungkur di nisanmu
Serasa seluruh keluh menyatu dalam luruh
Lalu turun, menetes satu-satu
Seiring grimis yang membelah langit
Mengantarkan butiran-butiran bening pagi
Ah, senyawa rindu ini
Tak jua bergelung di ujung muara
Karna padanya tak lagi kutemu
Rasa utuh menyatu yang dulu kutemu
Lalu luruh
Menetes satusatu
Meninggalkan jejak di tanah merah basah
:Aku tersungkur di nisanmu
SAJAK PAGI
Langit membelah pagi
Terbersit sapa mentari
Lalu di matamu kutemu larikan pelangi
Usai hujan malam tadi
Terbersit sapa mentari
Lalu di matamu kutemu larikan pelangi
Usai hujan malam tadi
PUDAR
Kelam yang membenam di lamun benakku
Tersaruk langkah sesat mencarimu
Di kelam matamu kutemu setingkap ragu
Kemana hendak kau bawa perahumu?
Sedang angin tak pernah mengantar kabar
Saat dengan sigap kubentangkan layar
Segenap penjuru serasa pudar
Dan kisah terurai menyebar
Di sini aku, menunggumu masih
Di atas hamparan pantai pasir putih
Namun hanya kutemu gumpalan buih
Terpasung aku ditikam letih
Tersaruk langkah sesat mencarimu
Di kelam matamu kutemu setingkap ragu
Kemana hendak kau bawa perahumu?
Sedang angin tak pernah mengantar kabar
Saat dengan sigap kubentangkan layar
Segenap penjuru serasa pudar
Dan kisah terurai menyebar
Di sini aku, menunggumu masih
Di atas hamparan pantai pasir putih
Namun hanya kutemu gumpalan buih
Terpasung aku ditikam letih
Saturday, December 6, 2008
Monday, December 1, 2008
ENTAH
pada entah
kuselipkan kemarahan
lalu kemana
mencari sebuah kebenaran
jika maknanya tercabikcabik oleh keraguan dan ketidakpastian
lalu entah, jawabnya
aku tak mau lagi berkata
hanya hening menelan kemarahannya
kuselipkan kemarahan
lalu kemana
mencari sebuah kebenaran
jika maknanya tercabikcabik oleh keraguan dan ketidakpastian
lalu entah, jawabnya
aku tak mau lagi berkata
hanya hening menelan kemarahannya
Subscribe to:
Posts (Atom)