Saturday, January 31, 2009

Di Balik Layar

Aku bersandar di sebuah bangku tua.
Kau tak terlalu jauh dariku, berdiri diam.
Beku.
Di antara kita hanya desiran angin dan gugurnya dedaunan yang meranggas. Ah, terlalu cepat rasanya waktu berlalu dan mengaburkan pandangan kita.

Belum lama berselang, saat lampu-lampu mulai dipadamkan dan layar mulai dibuka. Ada seribu satu cahaya yang melingkupi ruang pandang kita. Di antara bangku-bangku tua itu tangan kita saling terpaut. Ketika alunan biola mengiring tiap langkah-langkah kita. Membentuk pola gerakan yang khas. Di atas dedaunan kering yang bergemerisik saat kaki-kaki kita mengenainya. Kamu, aku bagaikan bintang malam itu. Bersinar ditimpa berbagai cahaya lampu warna-warni. Lalu luruh, hilang dalam kerjapan.

Kemudian disinilah kita, terdiam. Mencoba memahami inginmu. Tapi tetap saja tak ada satupun yang dapat diterima oleh akal sehatku. Bukankah kita telah terbiasa dengan arah yang berlawanan? Bukankah kemegahan itu tak pernah mengganggu kita sebelumnya? Bukankah kemudian kita kembali dalam kehidupan yang biasa, selepasnya?

Kulepas pandang jauh ke awang-awang. Tak jua sirna kelebat cemas yang membayang. Terlalu pekat mimpi yang coba kaugulirkan, di antara semak, cadas dan bebatuan. Ngilu.

Kau tak perlu jauh berlari dan mencari. Karena batas akhir kita telah terlampaui. Ketika waktupun mempertemukan kita lagi, di luar arena yang pernah kita singgahi. Maka biarlah hanya bayang yang berkelebat.

Jangan merajut lagi. Karena panggung itu sudah tak bernyawa lagi. Sejak lampu dipadamkan dan layar diturunkan. Tak akan lagi ada kisah yang menarik kita dalam pusarannya.

Dan sekarang duduklah. Kita nikmati terang hari. Tanpa pernah saling merasa lagi. Karena episode-episode hidup yang lain akan dipertunjukkan di sini.

Tanpa, kamu ataupun aku berada di dalamnya.

Thursday, January 22, 2009

T A N Y A

:BR

Terbacakah?

Seluruh rindu yang mengalun,
mengayuh waktuku

membuatku seringan kapas,
menjelma angin
melayang mencarimu

menghirup nafas cintamu
memeluk hangat ragamu
lalu menyusup dalam darah
di tiap denyut nadimu

menyatu
denganmu

tanpa jeda
melebur sukma

Di sanalah aku berada
seperti seharusnya

Wednesday, January 21, 2009

B A T I K


Awal semester dua kemarin, saya memiliki sebuah tema besar dalam pembelajaran berupa tradisi. Kemudian saya tergelitik dengan batik. Saya ajak anak-anak untuk membuat motif menurut kesukaan mereka. Dengan menggunakan program MS Paint dan aplikasi yang dimilikinya. Anak-anak kelas 3 begitu antusias dan tenang dalam membuatnya. Motif yang dihasilkan pun bermacam-macam dan menarik. Meskipun kemampuan satu anak dan lainnya tidak sama. Tapi alhamdulillah semua dapat menyelesaikannya dengan baik.

Dalam hal ini saya ingin menanamkan rasa memiliki dan mencintai tradisi bangsa sendiri secara tidak langsung kepada anak-anak. Rasanya tidak terlalu berlebihan, karena kelak di tangan merekalah masa depan bangsa ini berada. Kemudian di minggu yang sama, kami juga mengajak anak-anak untuk mengunjungi Kampoeng Batik Laweyan dan memasuki salah satu rumah batik di sana. Dengan penuh antusias mereka mendengarkan penjelasan dan proses pembuatan batik. Di salah satu kesempatan, anak-anak diijinkan untuk membuat desain mereka sendiri dengan menggunakan peralatan batik yang sesungguhnya, bukan lagi melalui program MS Paint. Hasilnya? Wow... beraneka ragam. Sayangnya fotonya belum bisa diupload. Tapi tak mengapa. Mungkin lain waktu bisa dibahas di sini kali ya...

Wednesday, January 14, 2009

F A L L E N

: BR

……………

jika segala yang tak kupinta sekalipun
telah kau berikan

Bagaimana aku tidak jatuh cinta lagi

dan lagi

dan lagi??

Tuesday, January 6, 2009

B A Y A N G

Pagi tadi ada semburat merah jambu di senyummu. Tak pernah kita menduga bahwa di sinilah muara. Senyummu bersenyawa dengan derai-derai cemara. Melagukannya dengan nada-nada khas yang menghanyutkanku kembali ke masa itu.

Menemumu kembali kini adalah sebuah keajaiban, membangunkan segenap diri yang sebelumnya terhampar dalam badai pasir yang mengerikan. Maka kusambut dengan senyum malu-malu.

Ah, tak juga berubah kita. Meski usia semakin bertambah angka.

satu hal yang tak berubah darimu”, bisikmu lembut.

“ya?”, tanyaku.

ketulusan itu”, sambungmu.

Ah, tidakkah ini tampak seperti keterpaksaan tepatnya?
Sementara hari berganti dan sang waktu terus mengayuhkan alunnya.

Tidak, ini bukan seperti yang kau baca.

“kamu tahu…. Aku tak hendak menunggumu”, kataku akhirnya.
“jika kau temui aku sendiri pada akhirnya, itu hanya karena aku tak ingin merajut kehampaan dan kesia-siaan. Semetara bayangmu selalu hadir dan mengalir di antara lorong-lorong kehidupan yang kulalui”, akhirnya terungkap sudah semua yang kusimpan rapat-rapat di waktu itu.

Kamu terdiam. Aku juga. Matamu jauh menerawang jauh, tak tergapai olehku.

maaf… tak pernah kukira akan begini jadinya. Bagaimana rasanya?”

Tak hendak aku menjawabnya.

Nuansa indah yang tergambar di awal pelahan memudar.
Karena tanya.
Ya, karena kau bertanya.

“Bagaimana rasanya menunggumu!?!”, aku ingin segalanya lebih jelas.

Ya, seperti apa rasanya”, wajahmu penuh ragu saat melontarkan tanya itu.

Tak lagi ada senyum merah jambu.

“Lalu bagaimana rasanya ditunggu!?!”

Maksudmu?”

“Ya, seperti apa rasanya ditunggu!?!”

Sungguh, aku hanya ingin menikmati perjumpaan ini tanpa rasa ngeri yang memburu dan menjadi hantu selama waktu hidupku. Bukan mencari pembenaran akan apa yang sudah terjadi dan telah terlewati.

Aku hanya ingin diam dan mengenang, menghanyut dalam lelagu dedaunan, menikmati gemericik air yang berjatuhan, menajamkan rasa akan suasana.

Denganmu.

Itu saja.

Hanya itu.

Jika setelahnya, kita akan berlalu.
Kau, dengan langkahmu.
Dan aku dengan jalanku.

Maka kita tak perlu saling mencari lagi. Karena kamu, aku telah ada dalam muara. Dengan cara yang berbeda. Maka biarkan semua tetap seperti adanya.

Tak ada sesal.

Takkan pernah ada.

Monday, January 5, 2009

WHAt a PERFECT WEEKEND

Tiba-tiba saja telepon berdering di Sabtu malam.
Hm… sebuah suara hangat di seberang sana, yang membentangkan dalamnya sebuah kerinduan.
Dari sekedar saling menanyakan kabar, kitapun saling membuat janji bertemu.
Ah… ada yang lain tidak ya?

Minggu siang, diburu rindu yang menderu motor saya melaju.
Melewati jarak Karanganyar – Solo.
Ah, di Che es resto.
Tempat yang cukup nyaman dan leluasa bagi pertemuan kita.
Tak dinyana, si pemilik suara hangat itu sudah menunggu di sana.
Ahai… tidak sendirian rupanya.
Ada seorang lagi ah bukan dua orang tepatnya.
Momy, teman lama juga dan seorang gadis cantik, calon istrinya.
Dan kita pun saling bertukar sapa.

Ah, berapa tahun berlalu sejak kita terakhir bertemu ya?
Lebih dari dua atau bahkan tiga?
Yang jelas, pertemuan ini sungguh membahagiakan dan memberikan energi positif bagi kita.
Tak berapa lama, datang lagi seorang teman.
Ike beserta anak dan suaminya.
Sungguh suasana semakin meriah saat kedatangan Arif di tengah-tengah kita.

Tidak ada yang berubah, sejak dulu ketika kita masih sering menghabiskan hari minggu ke Tawangmangu. Sekedar mau makan nasi pecel plus telur mata sapi di sana.
Sejak kita masih memakai seragam abu-abu.

Sayangnya hanya berlima, ya… dulu ada lebih banyak lagi kita. Ah ini pun tak mengapa, tak mengurangi rasa syukur saya. Saya bahagia karena kalian ada. Terima kasih untuk inspirasi yang lahir karenanya.

Saturday, January 3, 2009

A S A

Selayang kasih membelai lembut persada
manakala bersit angin membelai pelahan
melihatmu berjalan di titian bilah bambu tua
di ujung pertemuan dua desa

Kuhamparkan selendang sewarna pelangi
menyambut langkah-langkah kecil yang berlari
meraih jalinan rindu yang kubentangkan
dari ujung hidup yang pernah kutinggalkan

Menggapai rentang tanganmu kekasih
melayangkan rindu pada impi usang
yang kian lekang namun masih menggenang
tapi terendap semakin dalam dan masih

Ah, memerah pipimu kini
saat tepat di depanku pasti
seranum buah apel yang kupetik tadi
untuk pelepas dahaga kita nanti

Tetaplah di sini, permaisuri
kerna retak puing jaman dalam tahtaku
tanpa senyum dan hadirmu di diri
selamanya aku terpasung belenggu