Monday, February 16, 2009

SAJAK I

Angin menderu
Saat ditasbihkannya namaku
Di atas gelepar ragamu

Jutaan badai pasir
Berhamburan dalam gema dzikir
Perahu terguncang di pesisir

Lalu diam diantara retak yang lindap
Kandas dalam peluh tak berdekap
Aku mematung dalam senyap

Thursday, February 12, 2009

Di Kereta

Matahari beranjak menuju senja. Hiruk pikuk stasiun mulai berlalu seiring kereta yang berderak menjauh. Memejamkan mata sejenak, mengusir resah yang mulai datang mendekat. Ada tangis tertahan yang tertinggal di sana. Tapi bukankah langkah tak mesti surut? Sejauh apapun berlari akhirnya tetap akan kembali.
Kegalauan yang meresahkannya kembali berkecamuk di pikirannya.
“Sudah kaupikirkan semua, Luh?”, Tanya Ipan.
“Mungkin”, jawabnya lirih.
“Masih cukup banyak waktu untuk berpikir lagi dan mengubah keputusan yang kau buat”, Laras yang bertubuh tinggi semampai itu menggenggam tangannya erat. Namun Galuh tetap bergeming.
“Aku harus tetap kembali”, akhirnya ketetapan itu menjadi pilihannya.

Dan disinilah ia, akhirnya dalam kereta yang berderak diam. Sendiri.

Masih diingatnya tatapan penuh kecemasan yang terlukis di wajah Laras dan Ipan, dua sahabat terbaiknya, yang sempat mengantarkannya pada wujud nyata sebuah mimpi. Tapi kemudian, siapa yang mampu menunjukkan hakikat kebenaran yang sebenarnya?
Galuh tetap punya keyakinan bahwa ia harus melawan. Diambilnya selendang merah yang sudah digenggamnya sejak awal. Selendang yang selalu menamaninya sejak ia pertama kali belajar menari. Pemberian Saraswati, gurunya yang pertama kali. Mengenang kembali pertemuannya dengan Saraswati mampu mengembalikan ketenangannya untuk menghadapi kenyataan yang paling sulit sekalipun.
Ah, lelah yang menderanya membuat bulat telur wajahnya menjadi pias. Aku akan tidur, bisiknya. Dengan tidur aku pasti akan lebih siap menhadapi esok. Bagaimanapun akhirnya.