Friday, March 13, 2009

P U I N G

Lembayung senja luruh menorah di ufuk barat.
Ada sisa pilu dari getas masa lalu. Ada kepedihan yang teronggok di sudut malam-malam sunyiku.
“Ri, berhentilah sejenak, tengoklah ke belakang,” ucapnya suatu ketika dikala kabut menggantung di bibir lembah.
Ini sudah kali ketiga bibirnya meretas pinta.
“Tidak!” Tegas saya
“Tapi hujan memantimu di luar sana”, ratapnya lagi
Seperti yang sudah-sudah, sebentar lagi matanya akan menganak sungai.
“Hujan ada di dalam sini” jawabku lirih sambil menunjuk dadaku.
Dan tangisnya semakin menjadi
********
September beberapa tahun yang lalu
Di sebuah taman kota yang sunyi. Dengan sungai jernih mengalir membelah keduanya.
Dikala waktu beranjak menuju ke sekian kalinya. Menunggu, memberi jeda kepada sepi yang sejenak melintas. Kusingkap sebuah kabut masa. Yang menorehkan selaksa luka.
Ketika kau beranjak menjemput dia.
*********
“Selamat tinggal”, ucapku datar
“Kita hanya bagian dari kisah”, ucapku di tanah merah yang membasah.
“Damailah di alam sana”
Kubiarkan kuntum kamboja luruh bersama rintik rinainya. Saat kuantar ke peristirahatan terakhirnya.

Thursday, March 12, 2009

SAJAK II

Di antara relung berpalung
Kala ombak bergulung
Kuserukan namamu
Namun hanya gaung
Yang tertangkap telingaku

Samar kutatap wajah sunyi
Tak jua letih batin mencari
Tapi hanya semburat senja
Yang menorehkan warna jingga

Berlari, menyusuri kelam
Lelah meronta menghentak sesak
Di antara relung berpalung
Kala ombak bergulung