Friday, March 13, 2009

P U I N G

Lembayung senja luruh menorah di ufuk barat.
Ada sisa pilu dari getas masa lalu. Ada kepedihan yang teronggok di sudut malam-malam sunyiku.
“Ri, berhentilah sejenak, tengoklah ke belakang,” ucapnya suatu ketika dikala kabut menggantung di bibir lembah.
Ini sudah kali ketiga bibirnya meretas pinta.
“Tidak!” Tegas saya
“Tapi hujan memantimu di luar sana”, ratapnya lagi
Seperti yang sudah-sudah, sebentar lagi matanya akan menganak sungai.
“Hujan ada di dalam sini” jawabku lirih sambil menunjuk dadaku.
Dan tangisnya semakin menjadi
********
September beberapa tahun yang lalu
Di sebuah taman kota yang sunyi. Dengan sungai jernih mengalir membelah keduanya.
Dikala waktu beranjak menuju ke sekian kalinya. Menunggu, memberi jeda kepada sepi yang sejenak melintas. Kusingkap sebuah kabut masa. Yang menorehkan selaksa luka.
Ketika kau beranjak menjemput dia.
*********
“Selamat tinggal”, ucapku datar
“Kita hanya bagian dari kisah”, ucapku di tanah merah yang membasah.
“Damailah di alam sana”
Kubiarkan kuntum kamboja luruh bersama rintik rinainya. Saat kuantar ke peristirahatan terakhirnya.

16 comments:

Daniel Mahendra said...

Mengapa begitu getir...

MAY'S said...

@DM : Hidup selalu menyimpan kegetiran yang dapat dimaknai dalam berbagai rupa; apa kabar?

wyd said...

di antara puisi2 yang udah saya baca di blog ini, mungkin puisi ini yang paling terdengar klise dan kata2nya terlalu umum buat saya, padahal puisi2mu yang lain bagus2.

misalnya nih...:
Seperti yang sudah-sudah, sebentar lagi matanya akan menganak sungai.
Di sebuah taman kota yang sunyi. Dengan sungai jernih mengalir membelah keduanya.
kuantar ke peristirahatan terakhirnya

lagi ga mood nulis?

astrid savitri said...

Hai.. May!
maaf udah jarang kemari, nih :)
makin indah aja puisi2nya..

MAY'S said...

@Bu wyd : maaf ini bukan puisi, ini penggalan bagin dari sebuah cerpen usang saya, mengingatnya kembali kala hari beranjak senja..
begitu banyak peristiwa dan kegiatan yang menyita waktu dan pikiran saya....

MAY'S said...

@Mbak astrid : I MISS U Mbaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!!

siwoer said...

hehehe, ibuk satu ini masih aktip aja bikin puisi :D

kaulira said...

terus menggali..
pencarian belum ke ujung senja
emas itu hanya ditapih di sungai
tapi kadang juga di batu karang
------------------------------
selalu ada misteri
dan tidak mengetahuinya adalah bagian terindah bukan?

Willy said...

halo May, apa kabar? saya baru bisa mampir sekarang, sori ya udah lama nggak ke sini. sukses selalu ya..

tito said...

mbak aku mampir..speechless kalau baca ginian.

MAY'S said...

@siwoer : iyah, berpuisi membuatku hidup... apa kabar??

@kaulira : males ah....

@willy : makasih : sukses juga untukmu

@tito : adek!!!!!!!!! apa kabarmu???

frozenmenye2 said...

Dan sekali lagi, hujan menggenapi getasnya masa lalu dan kabut yang melingkupinya.

nengjeni said...

apa kabar jeng.. aku kangen dirimu juga.....

suwung said...

puisinya selalu mauuuttttt

Xitalho said...

Mencoba memahami... pesan yang tersirat.....

Btw top banget ...

MAY'S said...

@frozenmenye2 : hai lagi apa kabar??

@Mbak Jenni : Peluk hangat!!!

@suwung : Menjura dalam2 terima kasih!!!

@xitalho : makasih....