Monday, May 25, 2009

R U M A H

Seperti baru kemarin saja mengenalmu. Seperti baru kemarin saja kita saling beradu pandang dan membuatku tersipu malu. Ternyata sudah lama sekali semua berlalu. Namun aku bersyukur bahwa tak ada yang berubah sejak saat itu.

Sabtu kemarin rasa pening di kepalau sudah tidak dapat dikompromi. Aku memilih pulang dengan naik bis umum, aku tak mau mengganggu aktivitasmu yang mulai memadat lagi (ingat ya, tidak semua hal bisa diatasi sendiri atau boleh juga ditambahkan bukan aku saja yang harus belajar mengatakan TIDAK ya, Say?) Aku memilih pulang ke tempat ibumu. Lebih enak ditempuh, nanti juga dari Wisma Seni kamu lebih dekat menyusulku. Tidur jadi pilihan utamaku, mengingat ibu dan kakakmu tidak di rumah. Bapak juga tengah beristirahat.

Selepas ashar kamu datang menjemputku. Aku ingin sekali makan sesuatu yang panas dan pedas untuk mengurangi pening yang semakin mengganggu. Namun langit yang mendung itu seakan mengganggumu. Gerimis kecil-kecil mengiringi perjalanan pulang kita. Namun perhatian itu mengalahkan kegundahan langit yang mulai menurunkan rintiknya, kamu berhenti di sebuah tempat. Dua mangkok bakso dihidangkan, dan kita menikmatinya bersama.

Kemudian kita pulang ke rumah. Bukan, bukan rumah kita yang itu. Kamu terlalu sibuk dengan rumah kita sehingga menunda-nunda kepindahan kita. Say, aku mau kok apa adanya saja. Tidak, jangan terlalu mewah karena kemewahan itu membutakan. Itu saja sudah cukup, Say…

Kita ke rumah ibuku. Aku minta izin untuk membaringkan tubuh sejenak.

Sorenya kamu mengajakku keluar, pacaran yuk katamu lucu. Bukannya tiap kali kita melakukannya? Tanyaku lucu. Aku mandi dan kita sudah di jalan, menikmati senja yang gundah di beberapa tempat. Ya, langit sedang sangat murah hati menurunkan hujannya belakangan ini. Tapi kamu mengajakku menikmatinya. Dan sepanjang perjalanan itu sungguh membuat kita mensyukuri semuanya.

Rupanya kamu membawaku ke rumah kita, rumah yang tak jua ditempati. Ah, sayang aku mau bulan depan kita menempatinya. Berdua saja. Ya, berdua denganmu saja. Kita duduk berdua di pintu belakang, memandang langit yang muram. Namun entah mengapa terlihat begitu indah bagi kita. Ketika waktu kemudian berlalu dan kau mengajakku pulang, kukatakan padamu kita sudah di rumah. Dan kaupun menjawabnya dimanapun kita berada, kita selalu di rumah. Karena aku rumahmu dan kaulah tempatku menuju pulang.

Terima kasih Ya, Rabb untuk rasa yang KAU ciptakan kepada kami, semoga KAU senantiasa memberikan kesadaran kepada kami, bahwa cinta ini adalah untuk-MU juga.

12 comments:

mpokb said...

selamat non may, atas rumah barunya... haha, sayang jauh. wiih.. siap2 buat housewarming nih ;)

mata said...

aihhh..... ngga ku ku...
inget masa dulu romantis2 ya jeung ceritanya :)

MAY'S said...

@mpok b : iya makasih... finally... emang jauh banget sih jangankan dari jakarta/bogor dari tempat kerja juga jauhh banget.. tapi syukurlah akhirnya dapat memiliki sendiri...

@mata : hi..hi... situ juga romantis2.. kemana aja selama ini?

Ksatrio Wojo Ireng said...

Wah, selamat yah - kapan nih aku diundang? :-)

Hugs to all members living in the house..

MAY'S said...

@KWI : Makasih... datang aja ke gubug kecil kami... selalu senang menerima kedatangannya :)

Anonymous said...

duh.....pacaran terus neh, romantisnya.....
besok kalo slup-slupan jangan lupa undang aku ya....

MAY'S said...

@anonymous : ehm...ehm.... *tersipu2 manyun*

ciplok said...

aku juga ingin pulang, ingin pulang

*aneh, word verif-nya "ingin"
knp bisa serupa?

MAY'S said...

@Vera : Tidak ada satupun kebetulan, semua terjadi karena memang harus terjadi....
Ve, Miss U!!!

yati said...

rumah baru? waahh..selamat.
mau gubuk atau gedung, kalau udah milik sendiri emang beda rasanya :)

Anonymous said...

so sweet! Selamat untuk rumah barunya. Semoga membawa berkah bagi keluarga. Amin.

--durin--

MAY'S said...

@Yati : iya.. ayo kapan kamu kirim undangan pernikahan.. Kan udah makin dekat to??

@Durin : AMIN!!!! terima kasih kangen banget sama kamu...