Tuesday, September 15, 2009

P E R J U M P A A N

Angin pertengahan September berdesir pelahan. Membawa langkah perempuan berbandana biru menyeberangi jalan besar di pusat kota.
Ada yang mendesaknya menuju toko buku terbesar di pusat kota. Hm... Perahu Kertas-nya Dee menggoda untuk dilayarinya. Untuk ditambahkan dalam rak bukunya, menemani buku-buku lain dengan pengarang yang sama yang telah lama berderet di rak tuanya yang mulai dimakan rayap, yang sesekali masih sering dibacanya.

Langkahnya hampir mencapai depan gerbang toko, ketika tanpa sengaja pandangannya terarah pada bangunan di samping toko buku itu, tempat biasa diadakan pameran dan pertunjukan kesenian. Lalu ditemukannya tatapan itu. Tatapan ramah dan bersahabat milik lelaki bermata elang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hai, apa kabar?” sapa lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri perempuan berbandana biru.

“Hai”, namun mulutnya masih menganga, ah sebuah kebetulankah??

“Kenapa, heran ya? Kaget?’ tanya lelaki itu sambil tersenyum menyibakkan rambutnya yang mulai memanjang hampir menutupi matanya.

“Kapan datang?” Tanya perempuan berbandana biru sambil tersenyum Sudah lama didengarnya kabar lelaki bermata elang menetap di kota kelahirannya karena alas an pekerjaan.

”Tadi siang baru nyampe"jawab lelaki itu manis.

"Ada acara? atau keperluan lainnya?" serasa ada yang ingin dipastikan oleh perempuan itu.

"Tidak. Kerinduanku akan kota ini membuatku meradang”, katanya.

Mereka tertawa bersamaan.

Ada pameran buku di dalam. Ada buku-buku bagus aku sudah melihatnya”, lalu tangan lelaki itu meraih bahu perempuan berbandana biru.

Dalam sekejab mereka sudah asyik di dalam, memberbincangkan banyak buku yang direkomendasikan lelaki bermata elang itu. Sesekali terjadi perdebatan sengit di antara mereka, tersenyum kemudian tertawa. Betapa sudah lama sekali mereka tak pernah melakukan hal yang sama.

”Aku ingin melayari Perahu Kertas”, kata perempuan berbandana biru itu.

Sejak kapan kamu membaca buku-buku macam itu?” tanya lelaki bermata elang.

”Sejak aku menautkan harapan di atas angan.” desah perempuan berbandana biru itu lirih.


Mereka berpisah di depan galery tempat mereka bertemu sebelumnya.
Di tangan perempuan berbandana biru sudah ada buku yang diinginkannya, juga beberapa buku rekomendasi si lelaki bermata elang.

Matahari sudah jatuh di cakrawala. Ketika langkah kaki perempuan berbandana biru itu melangkah menyeberangi jalan. Sementara di kejauhan lelaki bermata elang itu tak jua mampu menepis resah yang mengganggunya.

Ah, sekeping kenangan yang menyesakkan, terburai jatuh bersama langkah yang kian menjauh.



Di sebuah sore yang berkesan...

Kita membutuhkan teman, bukan hanya sebagai tempat menambatkan duka, atau berbagi keriangan dan saling memberikan rekomendasi bahan bacaan. Lebih dari sekedar itu. Teman yang tahu kapan saat dibutuhkan. Terima kasih telah menjadi... :)

4 comments:

wydpress said...

maaf lahir batin ya mbak....

MAY'S said...

@wyd : maaf Lahir Batin juga... salam sayang dan sukses selalu...

venus said...

perahu kertasnya dee? bagus gak sih? menurutku kok biasa2 aja ya? kurang 'dee'. halah aku suka sok tau, haha...

MAY'S said...

@venus : iya sih, versinya emang agak beda dengan karya-karyanya yang lain... tapi menurutku bagus juga kok...