Monday, February 8, 2010

S E K A T E N

Sekaten adalah tradisi yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Puncak acaranya adalah ketika diadakan grebeg. Para abdi dalem akan membawa tumpeng. Masyarakat nantinya diperbolehkan untuk mengambil atau ”ngrayah’ dengan harapan memperoleh berkah.

Menjelang puncak acara, kira-kira satu bulan sebelumnya di alun-alun akan dihias dengan begitu rupa. Akan dibuka stand-stand yang dapat digunakan masyarakat setempat untuk berjualan. Yang dijual pun macam-macam mulai dari makanan, baju, handicraft, dan yang paling banyak adalah mainan. Banyak juga stand mainan seperti jinontro, komidi putar dan lain-lain. Banyak sekali masyarakat sekitar yang berkunjung ke sana, sekedar jalan-jalan saja atau memang benar-benar ingin membeli sesuatu. Atau sekedar mengantarkan anaknya untuk bermain di arena permainan anak.

Sekaten selalu membawa euforia bagi saya. Beberapa waktu lalu ketika masih kuliah, seorang teman sering menanyakan kepada saya. Kenapa setiap kali sekaten dimulai, saya selalu saja harus berkunjung ke sana. Saya hanya mengangkat bahu saja kala itu. Teman saya tersebut lebih heran lagi, ketika suatu kali ia menemani saya yang saya tuju adalah Es Dawet Pak Mbolon, kemudian membeli kapal mainan yang apabila ditaruh dalam air dan dinyalakan akan berbunyi ”otho-othok” dan membuat gerakan melingkar.

Bulan ini sekaten sudah mulai ramai sejak satu minggu yang lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu mencarikan waktu untuk berkunjung ke sana. Kali ini suami saya menanyakan hal yang sama yang pernah ditanyakan teman saya bertahun-tahun lalu. Pertanyaan itu membuat saya merenung. Namun akhirnya saya memperoleh jawabannya. Ketika suami saya mengatakan apa sih istimewanya dawet itu, biasa aja tuh. Saya tersenyum kemudian, ketika jawaban itu melintas di benak saya.

Ya, saya memang tidak mencari rasa. Saya hanya membeli kenangan. Ya, sejumput kenangan masa lalu saya. Duluuuuuuuu sekali ketika saya masih kecil, es dawet pak mbolon dan mainan kapal ataupun mainan tanah liat dan aluminium yang dijual di sekaten adalah hal yang mahal. Belum tentu setahun sekali almarhumah nenek saya dapat membelikan saya. Bahkan belum tentu dapat membawa saya ke sana. Sejak kecil memang saya tinggal dengan nenek sampai meninggalnya beliau. Sekaten, es dawet pak Mbolon dan mainan-mainan itu adalah kemewahan yang langka bagi saya. Semua tergantung dari hasil penjualan kain batik nenek saya tahun tersebut. Kenangan itu terus membekas dalam benak saya. Mungkin juga satu bentuk kerinduan saya pada almarhumah nenek saya kala itu.

Kali ini pun saya berkunjung ke sana. Kali ini suami saya mencoba untuk masuk dalam kenangan saya. Dia tidak banyak protes lagi seperti sebelumnya ketika saya membeli dua kapal mainan, mainan masak-masakan dari aluminium dan tanah liat. Meskipun barang yang tahun lalu saya beli masih ada.

Saya hanya ingin menghidupkan kenangan.