Wednesday, August 18, 2010

Kebiasaan Memasak

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan kakak saya yang berasal dari luar kota. Kami sama-sama mengunjungi orang tua. Seperti biasa yang ditanyakan adalah mengenai hidangan buka puasa dan semacamnya. Dan saya ceritakan kalau sampai hari ini saya belum memasak lagi. Kakak saya tertawa terbahak-bahak, merasa heran karena saya masih juga memiliki kebiasaan yang sama.

Keluarga kami adalah keluarga besar. Papi, Mami, 5 orang kakak dan 1 orang adik. Sejak saya bergabung dengan keluarga besar Papi, setelah nenek saya meninggal saya menjadi asisten juru masak di rumah, sampai akhirnya sayalah yang selalu memasaknya sejak mami mulai berhenti memasak. Walhasil sejak saat itu saya biasa menyiapkan makanan untuk sekian banyak orang. Apalagi dari semuanya saya yang paling lama berdomisili mdi tempat tinggal dan gag kemana-mana. Meskipun kemudian satu demi satu kaka saya ada yang pergi, baik untuk bekerja ataupun menikah, kebiasaan memasak untuk orang banyak itu masih tetap saya lakukan.

Sampai kemudian saya, menikah dan memutuskan untuk tinggal di rumah terpisah dengan suami. Meskipun tinggal berdua, kebiasaan memasak dalam porsi besar tidak juga bisa hilang. Bebertapa kali saya mencoba untuk mengurangi porsi supaya cukup untuk berdua, tapi tetap saja saya belum bia melakukannya. Kalau hari-hari biasa mungkin tidak terlalu terlihat, karena kebiasaan makan 3 kali sehari. dan kadang-kadang temen suami ikut makan di rumah. Tapi ketika bertepatan dengan bulan puasa seperti ini, rasanya aneh saja. Bahkan sampai hari ini saya baru memasak dua kali, sayur tumpang dan dan sayur sawi putih yang diberi kuah santan. Hidangan buka pun juga saya selalu membuat kolak dalam jumlah yang tidak habis sekali makan, bisa sampai 2 hari bahkan.

Makanya tiap kali hendak pulang kerjatemen-temen perempuan sibuk memikirkan rencana masakan untuk hari ini, saya mah lempeng aja. gag ada yang dipikirin. Untung suami saya bukan tipe yang rewel yang harus elalu begini begitu, jadi apapun yang ada dinikmati dengan penuh berkah.

Tapi yang senang tentu saja, saudara-saudara saya. Tiap kali menjelang lebaran dan berkumpul ke orang tua, mereka selalu saja mampir atau meminta saya memasak untuk memenuhi selera mereka. Meski terkadang saya protes juga, masak yang lainnya berkumpul bercanda, saya maih harus berkutat dengan bumbu dapur. Tapi hal yang paling membahagiakan adalah ketika melihat semua kakak-kakak dan suami maupun para istri mereka plus 13 biji keponakan yang makan dengan lahap.

3 comments:

mpokb said...

Biasanya siap2 masak apa aja buat Lebaran, Jeng? Seneng banget ya punya keluarga besar begitu... Kalau di rumah saya seperti ada pembagian tugas.. Adik dan kakak bikin lauk pauk, saya bikin sebagian kue.. Nggak tahu awalnya gimana, dari dulu ya gitu.. :D

wyd said...

pasti pinter masak ya, mbak... bukan cuma terbiasa masak.

saya bisa belajar, dong... :)

MAY'S said...

@Mpok B : iya tuh.. seneng banget sih... aslinya kalau lama gag pada nongol kangen juga.. Sekalinya muncul berbondong-bondong Hwaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!

@Wyd : apa kabar? How I miss U... Ayo.. ayo.. gag usah belajar deh.. aku masakin ajah :)