Monday, February 14, 2011

Minggu Sore yang Iseng


Hari Minggu kemarin seharian saya tidak ke mana-mana. Karena sabtu malam, sambil nonton acara sepak bola saya mennyetrika, dan tertariklah salah satu otot pinggang saya. Saya masih malas ke tukang urut, saya pikir nanti juga sembuh sendiri. Sesiangan cuman tiduran ternyata membuat saya tidak nyaman. Akhirnya saya ubek-ubek isi kulkas, ternyata masih ada pisang kepok kuning kiriman kakak saya beberapa hari lalu. Akhirnya saya ke warung membeli kelapa parut dan membuat santan. Saya membuat adonan nogosari, makanan dari santan dan tepung beras. Lumayan cepet dan tidak makan waktu. Resepnya :
Larutkan 250 gr tepung beras dan 150 gr gula pasir ke dalam 450 ml santan
Didihkan 400 ml santan dengan daun pandan/vanili dan setengah sdt garam. Kemudian masukkan larutan tadi ke dalam santan mendidih, sambil terus diaduk-aduk sampai adonan mengental, sisihkan.
Kemudian kupas dan potong-potong pisang untuk isi bagian dalam.
Ambil satu sendok makan/lebih ratakan di atas selembar daun pisang, beri potongan pisang kemudian gulung dan lipat rapi. Kukus selama kurang lebih 30 menit. Jadi sekitar 15 bungkus dengan ukuran jumbo.
Ternyata pisangnya masih sisa, saya potong-potong kecil, beri gula pasir sedikit, santan, telur dan irisan roti tawar saya aduk sampai merata dan dibungkus menjadi carang gesing. Lumayan enak dimakan hangat-hangat.
Malamnya meski punggung saya masih sakit, tapi ada kepuasan tersendiri karena bisa mengolah makanan dengan memanfaatkan barang yang ada. Lebih seneng lagi, ketika suami saya memberikan sebagian pada teman-teman ronda malam ternyata mereka suka sekali. jadi berasa gag mubadzir deh keisengan saya.

Thursday, February 10, 2011

Kabar

Senja yang mengabarkan padanya, bahwa ia akan datang.
Ya, lelaki bermata elang yang sudah lama hilang seakan tertelan kehidupan. Dipandangnya senja yang tak jua meluruh. Memberikan rona keemasan pada langit baratdaya. Sejenak ia memejamkan matanya. Perlahan potongan-potongan itu berjuntaian meluruh di sudut benaknya. Episode demi episode kehidupan yang membentang di waktu lalu. Bagaimana mereka bertemu, berpisah, bertemu kembali dan berpisah lagi. Dia tak mengerti perasaan macam apa yang mesti disimpan bagi lelaki itu. Kerinduankah? kekesalan? atau sekedar hambar tanpa rasa. Memang ada bagian di mana ia bisa menerima semua begitu saja. ketika hujan melingkari hari-hari mereka. Menempuh perjalanan tanpa jeda. Saling tertawa dan menangis bersama. Ia juga bisa menerima berbagai alasan yang membuat mereka tak bisa kekal bersama. Selalu ada antara. Ia tak kuasa menolaknya.
Senja sudah berlalu bersama gelap yang memeluk malam. Mata Andini tak jua terpejam.

Tuesday, February 8, 2011

Gelap yang memayungi langkahnya
Tersendiri, di sisa angin yang tak bisa dipahami
Sisa hujan yang masih terus bernyanyi
Justru menjadikan lautan sunyi
Ah, hujan yang tak sempurna!