Wednesday, March 23, 2011

Catatan di Hari Selasa

Kemarin aktivitas saya bisa selesai pada pukul 17.00 WIB. Karena UTS di sekolah masih berlangsung. Sesampai di rumah hujan turun dengan deras sampai habis maghrib. Saya bersama BR melewatkan sore itu dengan menonton televisi. Sampai kemudian BR mengajak saya untuk melihat teater ke kampus UNS. Awalnya saya merasa malas karena selain gerimis masih turun satu-satu, udara juga begitu dingin sekali. Lagipula lakon yang dimainkan juga pernah saya lihat sebelumnya. Tapi saya tak kuasa menolak ajakan BR. Akhirnya saya ganti baju juga dan perjalanan menuju tempat tujuan kemarin terasa sedikit berat buat saya.

Sesampai di sana saya juga masih merasa tidak begitu exited. Saya hanya memandangi anak-anak muda yang juga menunggu pintu dibuka. Saya merasa melihat diri saya 6-7 tahun yang lalu. Tertawa berbahak-bahak, saling berbagi pengalaman berproses. Saya rasa tidak terlalu banyak yang seusia dengan saya, kecuali beberapa alumninya yang tidak begitu saya kenal.

Setelah pintu dibuka, acara dimulai. Sebelum pementasan diumumkanlah lomba membaca puisi tingkat SMA se-Surakarta. Saat pembawa acara memanggil juara kedua, saya tersentak. Anak didik saya yang sekarang duduk di kelas 2 SMA 4 di Solo. Luthfiana Nurochmah. Saat itu juga, perasaan saya langsung berubah. Ya, ada bangga yang menyusup di sini. Dan tiba-tiba penyesalan saya mendatangi tempat ini menguap begitu saja. Selanjutnya, saya dapat menikmati dengan nyaman seluruh sisa pertunjukan.

Di akhir pementasan, saya masih sempat menyalaminya, yang dengan santun masih mencium tangan saya. Katanya, Wah, keren ketemu Bu Maya di sini? Ucapnya. Saya julurkan lidah saya. Tahun depan juara I ya...
Saya sempat mengucapkan juga padanya bahwa dia sudah membuat saya tidak menyesali kedatangan saya di tempat tersebut. Dan dia tertawa saja mendengarnya.

Ya, saya menjadi teringat kembali dengan pembicaraan dengan seorang teman saya. Yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah dan mengatakan betapa mahalnya sekolah tersebut. Seberapa penting arti pendidikan bagi seseorang? Mahal dan kualitas adalah sebuah hal yang saling berhubungan. Ketika harga mahal bisa menjamin kualitas bagus kenapa tidak? Ucap saya ketika itu. Tapi teman tersebut mengait-ngaitkan dengan institusi tempat saya mengajar yang katanya inklusi, rangking di kota yang tak terlalu tinggi dan sebagainya. Saya mencoba tersenyum. Bukankah pendidikan adalah sebuah proses?

Mungkin kita tak bisa memetiknya hanya dalam kurun waktu 6 tahun saja. Seandainya ada rekam jejak para alumnus, mungkin teman saya tersebut dapat menghilangkan keraguannya. Sayangnya baru saja kami mencoba membuat rekam jejak mereka. Luthfi ini contohnya, berbagai kejuaraan di bidang penulisan, bahasa inggris, puisi, penyiaran membuat saya bangga. Kebetulan kami masih saling berhubungan. Ada juga siswa alumnus yang dapat berangkat ke luar negeri mengikuti Olimpiade matematika. Ada juga yang sekarang ayik membuat perkumpulan tentang debat anak muda. Masih banyak lagi yang saya belum bisa menuliskannya di sini. Yang jelas kita memang tidak berhak menilai pendidikan sebagai sesuatu yang instan.

Bagi saya apa yang mereka lakukan adalah buah dari proses pendidikan yang diterimanya selama mereka memasuki dunia pendidikan. Dan saya tetap yakin dan berbangga hati. Bahwa dengan ketulusan hati, kita dapat mengantarkan anak-anak kita menuju sebuah prestasi.

Teruslah mengukir langit,wahai anak-anak negeri!

Sebuah Pelajaran

Seringkali kita mendapat pelajaran yang tidak terduga dari sekeliling kita. Bersyukur selagi kita masih bisa mendapat hikmah dari segala peristiwa. Kejadian ini saya alami Senin kemarin, tapi saya baru bisa menuliskannya hari ini. Senin itu saya sedang berpuasa. Meski demikian, aktivitas tetap saya jalani seperti biasa. Berada di sekolah sampai sekitar pukul 15.00 WIB. Kebetulan sedang test jadi bisa pulang sedikit lebih awal. Kemudian saya melanjutkan kegiatan menuju tempat privat. Alhamdulillah juga lancar, sampai suami saya menjemput pukul 17.00 WIB.
Dalam perjalanan menuju rumah, saya tahu kalau suami tercinta sudah menyiapkan teh hangat dan cemilan yang dibelinya dalam perjalanan menjemput saya. Mungkin akan ada es kelapa muda juga di sana. Tapi entah mengapa saya justru membayangkan es kolak atau es dawet. Tapi saya mencoba untuk menahannya. Karena saya mengerti pasti suami saya akan berusaha untuk mencarikannya. Sementara hari gini, mana ada orang menjual kolak dan dawet sore hari.
Sambil menikmati perjalanan itu, seakan Tuhan membaca suara hati saya. Tiba-tiba saja saya menemukan sesosok tua yang memikul dagangannya. Pengalaman bertahun-tahun di kota ini membuat saya menarik kesimpulan bahwa ia adalah seorang penjual dawet. Sososk rentanya dalam langkah tertatih dengan pikulan di sore yang beranjak. Saya sampaikan kepada suami saya bahwa saya ingin menghentikan bapak tua itu. Suami saya berbalik dan kami menghentikan pembawa pikulan itu. Ya, Alhamdulillah sekali lagi, bahwa bapak tua itu adalah penjual dawet. Dan ketika saya tanyakan apakah dagangannya masih, ia menjawab masih. Kemudian ia menueunkan pikulannya, mencari bangku kecil dan mendudukinya. Nafasnya masih tersengal ketika saya memesan dua bungkus. Saya perhatikan dengan seksama bagaimana bapak tua itu dengan tangan yang gemetar (dalam bahasa jawa buyuten) menuangkan dawet, santan dan gula jawa ke dalam plastik. Tiba-tiba saya melihat sebuah pemandangan luar biasa. Di usianya yang begitu renta ia masih bekerja dengan begitu kerasnya. Apalagi ketika saya tanya rumahnya dan tempatnya berjualan yang jaraknya hampir tiga perempat perjalanan saya ke sekolah, dan harus dilaluinya dengan berjalan kaki membawa piku8lan. Seakan mendapat tamparan keras, bagaimana saya masih seringkali mengeluh meski tanpa teucapkan dengan keadaan dan pekerjaan saya. Saya merasa malu hati kepada bapak tua itu, kepada Tuhan yang begitu baik sekali, pada diri sendiri. Setelah membayarkan harga dawet dan memberikan sedikit kelebihan pada bapak tua itu kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, saya tak henti berucap doa panjang semoga semua hasil yang diterima sosok renta itu akan menjadi barokah baginya. Dan sesampai di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Subhanallah, dawet itu menjadi dawet terlezat yang pernah saya rasakan. Dalam hati saya berucap syukur tanpa henti atas pelajaran yang saya dapatkan hari ini. Sambil berharap semoga saya diberi kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan sosok tersebut.

Monday, March 14, 2011

Another Lovelly Week...

Ya.. seminggu kemarin memang disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Biasa, menjelang ujian tengan Semester, banyak sekali koreksi hasil ulangan, belum lagi persiapan murid privat saya yang mau UN tahun ini. Ditambah cuaca yang tak bisa diprediksi, siang hari begitu panas, tiba-tiba hujan bergeledek penuh petir.. tapi Alhamdulillah, bisa melewati semuanya dengan indah.
Hari Minggunya, tiba-tiba kembali saya tergelitik untuk mencoba resep hasil browsingan di internet. Sebelumnya saya cari resep marmer cake, mudah banget sih. jadi berasa kurang tantangan ha..ha..
Kemarin nyoba bikin cheese cake. Hasilnya Yummy bangedd... BR aja sampai gag berrenti makan, ketika sebagian saya bawa ke tempat mami, dia agak-agak sedih, sampai saya katakan Ntar dibikinkan lagi, bahannya masih ada.. ha..ha.. mirip anak kecil deh ...
Ternyata di tempat Mami lagi banyak ponakan juga yang bertandang, di luar dugaan mereka menyerbu habis semuanya...

bahannya mudah saja

7 kuning telur
5 putih telur, kocok
200 gr terigu
200 gula halus
250 gr mentega
200 keju parut
50 gr DCC
50 gr WCC

1. Kocok kuning telur, mentega, gula halus sampai mengembang
2. Masukkan terigu bergantian dengan keju sambil terus diaduk
3. Masukkan putih telur kocok ke dalam adonan aduk rata
4. Panaskan oven (gag pake suhu, karena ovennya oven dari bahan sederhana yang gag ada pengatur suhunya)
5. Oles loyang bundar 20 cm (aku pakai yang 22 cm) dengan mentega, alasi dengan kertas roti Masukkan adonan
6. Panggang kurang lebih 45 menit/ sampai matang dengan melihat tekstur kuenya
7. Angkat dinginkan
8. Tim 50 gr DCC dan 50 gr WCC, hias di atas kue...

Sayangnya tidak sempat mengambil gambarnya, karena begitu keluar dari oven, si BR udah nungguin sambil bawa pisau hadyuh... Seneng sih makanan yang dibikin menyenangkan hati banyak orang, and especially is BR.... of course...