Wednesday, March 23, 2011

Sebuah Pelajaran

Seringkali kita mendapat pelajaran yang tidak terduga dari sekeliling kita. Bersyukur selagi kita masih bisa mendapat hikmah dari segala peristiwa. Kejadian ini saya alami Senin kemarin, tapi saya baru bisa menuliskannya hari ini. Senin itu saya sedang berpuasa. Meski demikian, aktivitas tetap saya jalani seperti biasa. Berada di sekolah sampai sekitar pukul 15.00 WIB. Kebetulan sedang test jadi bisa pulang sedikit lebih awal. Kemudian saya melanjutkan kegiatan menuju tempat privat. Alhamdulillah juga lancar, sampai suami saya menjemput pukul 17.00 WIB.
Dalam perjalanan menuju rumah, saya tahu kalau suami tercinta sudah menyiapkan teh hangat dan cemilan yang dibelinya dalam perjalanan menjemput saya. Mungkin akan ada es kelapa muda juga di sana. Tapi entah mengapa saya justru membayangkan es kolak atau es dawet. Tapi saya mencoba untuk menahannya. Karena saya mengerti pasti suami saya akan berusaha untuk mencarikannya. Sementara hari gini, mana ada orang menjual kolak dan dawet sore hari.
Sambil menikmati perjalanan itu, seakan Tuhan membaca suara hati saya. Tiba-tiba saja saya menemukan sesosok tua yang memikul dagangannya. Pengalaman bertahun-tahun di kota ini membuat saya menarik kesimpulan bahwa ia adalah seorang penjual dawet. Sososk rentanya dalam langkah tertatih dengan pikulan di sore yang beranjak. Saya sampaikan kepada suami saya bahwa saya ingin menghentikan bapak tua itu. Suami saya berbalik dan kami menghentikan pembawa pikulan itu. Ya, Alhamdulillah sekali lagi, bahwa bapak tua itu adalah penjual dawet. Dan ketika saya tanyakan apakah dagangannya masih, ia menjawab masih. Kemudian ia menueunkan pikulannya, mencari bangku kecil dan mendudukinya. Nafasnya masih tersengal ketika saya memesan dua bungkus. Saya perhatikan dengan seksama bagaimana bapak tua itu dengan tangan yang gemetar (dalam bahasa jawa buyuten) menuangkan dawet, santan dan gula jawa ke dalam plastik. Tiba-tiba saya melihat sebuah pemandangan luar biasa. Di usianya yang begitu renta ia masih bekerja dengan begitu kerasnya. Apalagi ketika saya tanya rumahnya dan tempatnya berjualan yang jaraknya hampir tiga perempat perjalanan saya ke sekolah, dan harus dilaluinya dengan berjalan kaki membawa piku8lan. Seakan mendapat tamparan keras, bagaimana saya masih seringkali mengeluh meski tanpa teucapkan dengan keadaan dan pekerjaan saya. Saya merasa malu hati kepada bapak tua itu, kepada Tuhan yang begitu baik sekali, pada diri sendiri. Setelah membayarkan harga dawet dan memberikan sedikit kelebihan pada bapak tua itu kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, saya tak henti berucap doa panjang semoga semua hasil yang diterima sosok renta itu akan menjadi barokah baginya. Dan sesampai di rumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Subhanallah, dawet itu menjadi dawet terlezat yang pernah saya rasakan. Dalam hati saya berucap syukur tanpa henti atas pelajaran yang saya dapatkan hari ini. Sambil berharap semoga saya diberi kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan sosok tersebut.

No comments: