Tuesday, November 22, 2011

Tentang Dunia Pendidikan

Selepas senja, kemarin sore saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa anak muda. Tentang angan-anagan dan imaji mereka. Tentang keinginan untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan yang tidak mengedepankan sekat-sekat, yang ingin memberikan kemerdekaan sepenuhnya kepada anak-anak. Ketika mereka menanyakan pendapat saya sebagai yang telah berkecimpung dalam dunia pendidikan. Ah, siapa yang tidak menginginkan semua itu?
Sayangnya, kita harus kembali menengok sekitar kita. Apakah negeri ini telah bisa menerima sepenuhnya kondisi demikian? Bagaimana dengan mereka yang tak menguasai bidak eksak dan hanya memiliki ketrampilan saja? Tentu mereka tak bisa dengan nyaman masuk ke dalam suatu perusahaan untuk bekerja, atau masuk ke sebuah instansi pemerintahan. Tetap saja lembar kertyas yang bernama ijazah harus bicara. tentu saja akan berbeda arahnya ketika kita membicarakan mereka yang berwiraswasta. Ah, seandainya saja sekat-sekat kaku itu bisa sedikit lebih luwes. Pasti akan lebih banyak kesempatan bagi mereka yang memiliki keterbatasan, entah kemampuan maupun biaya.
Kondisi sistem yang demikian itu juga membuat tak sedikit orang tua yang memaksa anaknya untuk mengejar banyak hal. Mengikuti segudang kegiatan yang diharapkan untuk membantu kelak jika anak-anak itu telah dewasa, tapi apakah mereka menikmatinya? Mungkin ada, tapi pasti ada saja yang mengeluh karena kecapekan. Mengeluh tidak bisa lagi main sepeda dengan anak tetangga. Tapi sekali lagi, banyak orang tua yang melakukan karena tidak sadar, bahwa mereka telah mengambil kemerdekaan anaknya secara paksa. karena orang tua juga terseret oleh sistem yang sudah ada.
bagi orang tua, pendidik, penting sekali untuk melakukan pendekatan kepada anak. Menanyakan minat apa yang sesuai, tidak memaksakan anak untuk menerima mentah-mentah apa yangorang tua maui. Mengikuti kegiatan Parenting dan mengembangkan wawasan tentang dunia anak juga akan sangat membantu. Penting sekali bagi kita kethaui ketika mempush anak untuk terlalu sibuk di usia dini mereka, akankah nilai-nilai budaya bisa diserap sebagaimana mestinya oleh mereka?
Saat ini untuk mengubah sistem bukanlah hal yang mudah. Namun setidaknya masing-masing kita sebagai orang tua, pendidik, masyarakat yang peduli terhadap perkembangan pendidikan anak-anak kita, jangan sampai membuat mereka menjadi terambil haknya karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mereka. Menjalin kedekatan dan mendengarkan apa keinginan mereka selain akan membuat mereka nyaman dan menikmati, juga dapat menstabilkan emosi dan jiwa anak-anak kita.
Percakapan selepas senja itu saya akhiri ketika jam latihan teater BR dimulai, sempat saya sampaikan kepada mereka untuk tetap memelihara mimpi2 itu. Saya bangga masih ada anak-anak muda yang aware dengan dunia pendidikan di negeri ini.